Catatan Kekuatiranku – Menjomblo

Catatan Kekuatiranku – Menjomblo

Halo, Teman-teman!

Apa kabarnya? Semoga sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan Yesus Kristus.

Topik sharing saya kali ini adalah topik yang mungkin juga menimbulkan kegalauan di hati teman-teman sekalian, yaitu status “Jomblo” alias belum mempunyai pasangan. Jadi ceritanya dulu waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Umum saya menargetkan untuk menikah setelah lulus kuliah atau kalau sudah kerja. Ya, sekitar umur 23-25 tahun, rasanya itu umur yang pantas untuk menikah dan kemudian punya anak. Tahun demi tahun berlalu, lulus kuliah sudah, kerja juga sudah, tapi kok gak nikah-nikah, ya? Sampai sekarang ini, di umur yang sudah teramat matang untuk menikah.

Melalui firman-Nya, Tuhan menyadarkan dan membuat saya jadi mengerti kalau Tuhan itu lebih berharga, lebih penting dari siapapun juga atau apapun juga yang bisa saya miliki di dunia ini.

Jadi, cita-cita dan harapan gagal dong? Tidak malu diomongin orang-orang? Kalau sampai tidak menikah gimana? Terus terang semua pertanyaan itu sempat menjamuri pikiran saya dan menjadi pergumulan selama bertahun-tahun. Apa sekarang sudah tidak bergumul? Kita jujur-jujuran, ya, mungkin baru beberapa tahun belakangan ini saja saya akhirnya bisa berdamai dan bersukacita dengan hidup saya. Melalui firman-Nya, Tuhan menyadarkan dan membuat saya jadi mengerti kalau Tuhan itu lebih berharga, lebih penting dari siapa pun juga atau apa pun juga yang bisa saya miliki di dunia ini. Apa saja sih yang Tuhan sudah kasih tahu lewat firman-Nya?

Ketidaktaatan akan menghasilkan dosa

Karena tidak mau taat untuk menerima ketetapan Tuhan, saya jatuh di dalam dosa-dosa yang amat berbahaya. Dosa pertama, mengasihani diri atau bahasa kerennya, self-pity. “Kok saya belum menikah? Masa sih saya kurang cantik? Apa mungkin karena kurang tinggi? Kurang pintar gitu? Atau kenapa, ya? Dosa pertama disusul oleh dosa kedua, yaitu kesombongan. “Kok tidak ada yang mau menikah sama saya? Muka juga tidak jelek-jelek amat. Teman-teman yang “biasa-biasa” saja banyak banget yang sudah menikah, sudah punya anak pula, kapan dong giliran saya? Tuhan kok tidak adil!” Coba lihat, sungguh mengerikan. Sombong sekali! Saya pikir saya tuh lebih pintar, lebih tahu apa yang terbaik untuk diri saya daripada Tuhan. Saya mau menempatkan diri saya lebih tinggi dari Tuhan yang adalah Sang Pencipta.

Nancy Leigh deMoss berkata, “Terkadang Tuhan membuat hal jodoh-berjodoh ini seperti rumit sekali karena Tuhan terlalu mencintai kita untuk membiarkan kita mempunyai hidup, baik menikah atau melajang, yang bisa membuat kita merasa tidak membutuhkan Dia.” Bisa saja kan kalau saya menikah, punya suami, punya anak, semua itu menjadi ilah saya, menjadi yang terutama di hati saya, bukan Tuhan. Ini adalah suatu dosa besar lainnya yang mendukakan hati Tuhan.

Tuhan begitu mencintaiku

“Tuhan, apa Tuhan beneran sayang sama saya? Kok sepertinya Tuhan lebih sayang kepada teman-teman yang lain? Mereka sudah menikah, tapi kok saya belum? Kapan dong giliranku?” Pertanyaan-pertanyaan berbeda muncul di dalam pikiran saya sehingga saya jatuh di dalam dosa lain yang bernama self-centered, yaitu dosa yang memusatkan segala sesuatu pada diri. Diriku, perasaanku, dan kemauanku yang terpenting, bukan Tuhan.

Melalui firman-Nya, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16), Tuhan menegur dengan keras. “Bagaimana mungkin Aku tidak mencintaimu? Aku selalu ada bagimu, mencukupkan segala kebutuhanmu, selalu menyertai hidupmu sampai detik ini. Terlebih lagi, Aku telah mengaruniakan anak-Ku yang tunggal sebagai Juruselamatmu, Dia mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosamu." 

Jadi sekali lagi, ya, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Anaknya ada berapa? Hah, sudah umur segini kenapa belum menikah?” sudah sering banget saya dengar. Sebenarnya sih pertanyaan-pertanyaan yang lumrah-lumrah saja untuk ditanyakan, tapi kalau diambil ke hati, ya, bisa membuat kita down. Tapi mungkin bisa dijawab seperti ini, “Saya tidak tahu kenapa belum menikah, tapi saya tetap berharap dan berdoa kepada Tuhan.” Jawabnya jangan dengan muka cemberut, tapi dengan senyuman yang tulus karena ingat, Tuhan begitu mencintaimu!

Percaya kepada Tuhan

Masih ingat dengan pepatah “Tak kenal maka tak sayang”? Kalau kita tidak kenal Tuhan, ya, bagaimana mungkin kita bisa mengasihi-Nya? Bagaimana mungkin bisa mempercayai-Nya? Kepercayaan kepada seseorang itu dihasilkan dari pengenalan yang baik akan orang tersebut. Jadi, bagaimana sih kita bisa mengenal Tuhan? Ya, dengan membaca firman-Nya di Alkitab. Kita akan tahu sifat dan karakter Tuhan, apa yang Tuhan suka atau tidak suka. Kalau Tuhan itu bukan cuma Allah yang murah hati, tapi juga Hakim yang adil. Betapa Tuhan sayang sama kita, Ia mau kita menjadi pribadi yang terbaik menurut ketetapan-Nya dan menginginkan hanya hal-hal yang baik untuk kita. Status menikah atau single itu bukan suatu ukuran atas nilai diri seseorang. Status menikah tidak akan membuat Tuhan mencintai orang itu lebih daripada orang yang belum atau tidak menikah. 

Tuhan tahu yang terbaik untuk saya dan Dia dapat dipercaya. Dipercaya untuk apa? Untuk menuliskan cerita hidup saya dengan teramat indah sejak dari dalam kekekalan. -Nancy Leigh DeMoss Wolgemuth

Di dalam kedaulatan-Nya, Tuhan belum memberikan jodoh kepada saya, tapi ini sama sekali tidak berarti bahwa Tuhan itu jahat. Tuhan adalah baik, penuh kasih, dan bijaksana. Tuhan tahu yang terbaik untuk saya dan Dia dapat dipercaya. Dipercaya untuk apa? Untuk menuliskan cerita hidup saya dengan teramat indah sejak dari dalam kekekalan. Cara pandang Tuhan tidak sama dengan cara pandang saya. Waktu Tuhan juga tidak sama dengan waktu saya. Dan saya, si orang yang berdosa ini, tidak mungkin mampu untuk mengerti akan jalan-jalan dan ketetapan-ketetapan Tuhan. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri - Amsal 3:5."

Puas di dalam Tuhan

Contentment in the Lord atau merasa puas di dalam Tuhan atas hidup yang telah Ia anugerahkan adalah pilihan pribadi. Boleh-boleh saja menolak untuk merasa puas, tapi apa mau hidup sengsara dengan hati yang menggerutu? Kalau ada rasa puas di dalam Tuhan, maka kita akan menerima apa yang Tuhan mau berikan, bukan menuntut apa yang kita sendiri inginkan. Rasa puas di dalam Tuhan juga akan membuat kita bisa bersyukur dan bersukacita atas semua pemberian-Nya. Seperti tertulis di 1 Timotius 6:6 bahwa kesalehan disertai dengan kepuasan hati memang akan memberi keuntungan yang besar. Jadi, kamu mau pilih yang mana?

Aku dicipta untuk memuliakan Tuhan

Teman saya pernah bilang, “Jangan sedih karena masih single, orang yang single itu bisa melayani Tuhan dengan lebih leluasa, misalnya ikut perjalanan misi ke daerah terpencil. Kalau sudah punya suami dan anak pasti lebih banyak pertimbangannya. Harus minta ijin dulu sama suami, terus harus diskusi siapa yang akan menjaga anak, apa harus bawa anak dan lain-lain.” Dalam 1 Korintus 7 ada tersirat bahwa Paulus lebih memilih untuk hidup sendiri karena bagi Paulus, orang yang tidak menikah itu mempunyai kebebasan lebih dalam melayani Tuhan daripada mereka yang menikah. 

Charmaine Potter berkata, “Aku ingin menjadi seseorang yang sungguh-sungguh memuliakan Tuhan dengan kehidupan single-ku sekarang ini. Kalau sampai suatu saat nanti, di dalam kehendak-Nya, Tuhan berkata, 'Charmaine, engkau telah begitu memuliakan Aku dengan hidupmu, maka sekarang Aku akan menganugerahkan hidup pernikahan kepadamu, agar engkau bisa lebih memuliakan Aku dengan berpasangan dengan orang tersebut,' maka aku akan bersyukur dan bersukacita.” 

Menikah atau tidak menikah, apapun itu, keduanya adalah anugerah rohani dari Tuhan yang ditujukan untuk penggenapan rencana keselamatan Tuhan bagi umat manusia dan kemuliaan nama-Nya. “Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat - 1 Korintus 7:17.”

Masa depan

Ini adalah rahasia Tuhan, Teman-teman. Jangan takut, jangan kuatir, Tuhan sudah berjanji untuk memberi kita harapan dan masa depan yang indah bersama Dia. Pernikahan itu bukanlah segalanya. Pernikahan antara pria dan wanita di dunia ini hanyalah gambaran dari pernikahan kekal antara Kristus dan pengantin wanita-Nya, inilah yang terpenting. Tuhan mau supaya kita bersiap diri untuk menjadi pengantin wanita-Nya. “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia - Wahyu 19:7.”

Penutup

Bagi teman-temanku sesama jomblo, ayo, kita serahkan harapan dan doa kita hanya kepada Tuhan. Lihat kebaikan-Nya selama ini, jangan lupa sama doa-doa lain yang sudah dijawab selain dari doa meminta pasangan hidup ini. Tapi, jangan cuma berdoa meminta pasangan, berdoa juga untuk anugerah kesabaran dalam menunggu. Jikalau Tuhan memang berkehendak, Dia pasti akan memberikan jodoh yang terbaik pada waktu-Nya. Kok rasanya lama banget? Mungkin saja, tapi lebih baik untuk menunggu waktunya Tuhan. Percayalah!

Oleh: SH

Image source: Unsplash

Oleh:

Quote of the day

Tidak ada kemuliaan yang lebih besar bagi manusia selain untuk memuliakan Allah.

J. I. Packer