Pernikahan | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 3 – Part 1

Hai sahabat boba! πŸ‘‹

Nah, episode kita kali ini bakalan diawali dengan membahas apa aja sih yang kita harus persiapkan sebelum kita menikah?πŸ€΅πŸ»πŸ‘°πŸ»

Hmm... Kira-kira apa ya? πŸ€”

Yuk yang penasaran mari merapat!

Pemuda & Masa Pacaran | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 2 – Part 3

PEMUDA & MASA PACARAN (part 3)

DO’s & DONT’S Dalam Pacaran ⁉️

Di episode terakhir kali ini, kita akan mengupas prinsip-prinsip Alkitab mengenai hal-hal yg boleh & tidak boleh dilakukan dalam berpacaran.

Baik yg masih single βœ… berpacaran βœ…atau para pejuang patah hati βœ… pastikan untuk nonton full video kali!

Pemuda & Masa Pacaran | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 2 – Part 2

PEMUDA & MASA PACARAN (part 2)*

Tips & Trik mencari teman hidup

Bincang-bincang bersama Pak Agus kali ini akan bahas tentang kriteria dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencari pasangan πŸ€”

Kalian yang sudah punya pasangan atau masih jomblo, wajib bgt nonton video terbaru ini 🧏🏻‍β™€οΈπŸ§πŸ»

Pemuda & Masa Pacaran | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 2 – Part 1

PEMUDA & MASA PACARAN (Part 1)

πŸ’­Jodoh itu di tangan Tuhan. Apakah ini benar? Perlukah kita usaha untuk dapat jodoh?

πŸ’πŸ»πŸ’πŸ»‍♀️ Mari simak penjelasan tentang peran laki-laki dan perempuan dalam relasi pacaran di episode Valentine kali ini!

πŸ’‘Jangan nonton sendirian ya, share video ini untuk banyak orang mengerti prinsip dasar sebuah relasi.

Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Berdoa oleh Firman, dalam Firman, dengan Firman

Bagaimana kehidupan doa saudara?

Kita tahu bahwa sebagai orang Kristen, kita perlu untuk berdoa. Doa adalah salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan dalam kehidupan Kristiani, tetapi pada saat yang sama, doa adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Terlepas dari apa yang harus kita doakan, bagaimana kita menguasai pikiran kita untuk tidak ‘ngelantur’ merupakan suatu tantangan tersendiri dalam berdoa! Yang pasti kita ketahui adalah satu hal, kita sangat kurang sekali berdoa. 

Dalam artikel Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Doa Bapa Kami, Pola Doa Kita, dikatakan bahwa Martin Luther mengajarkan kepada kita cara yang baik untuk berdoa dalam suratnya yang berjudul “Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa (A Simple Way to Pray)”. Ia menghimbau kita untuk memeditasikan kebenaran yang dinyatakan dalam firman Tuhan, yaitu Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Luther menekankan bahwa pikiran orang percaya sangat mudah diisi hal-hal yang membuatnya melupakan Tuhan dan bahkan melanggar perintah-Nya. Dosa lalu-lalang melewati pikiran dan membuat hati tidak dijaga dengan ketat di hadapan Allah yang kudus. Mengapa demikian? Karena setan bukanlah pribadi yang malas atau ceroboh – ia tak mau rugi dalam menjual kejahatan kepada daging kita yang menyenanginya! 

Sikap hati seperti inilah yang Yesus sendiri ingin untuk murid-murid-Nya matikan, melalui “berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1)". Hal ini penting dilakukan, karena kita harus terus berjaga-jaga terhadap dosa, dan ini bukanlah hal yang dapat manusia lakukan kecuali ia memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan terus “merenungkan Taurat itu siang dan malam (Mazmur 1:2)". 

Pola Doa Beruntai Empat

Kesiapan dan keinginan hati dalam berdoa adalah suatu hal yang amat penting. Luther menggambarkan mulut seseorang yang komat-kamit berdoa, namun pikirannya melayang kemana-mana, dan dengan demikian mencobai Tuhan:

Ada pastor yang berdoa demikian, “Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Apa kuda-kuda sudah kuberi makan? Datanglah kerajaan-Mu. Nanti mereka harus kuingatkan untuk mengambil susu dari pasar. Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga. Duh, kenapa makanan hari ini begitu sedikit! … Amin.” Aku mendengar banyak doa semacam ini dalam pengalamanku tinggal di biara; itulah pola doa-doa mereka. Sikap seperti ini sama seperti sikap orang yang menghujat Allah, dan amatlah baik bila orang itu tidak berdoa sama sekali bila mereka tidak dapat atau tidak peduli untuk memperbaiki sikap hatinya.

Kita dapat melihat betapa pentingnya konsentrasi dan kebulatan hati untuk berdoa dengan baik! Doa yang baik, kata Luther, adalah doa dimana kita mengingat setiap perkataan dan pikiran dari awal hingga akhir doa. Maka, untuk memfokuskan diri supaya dapat berdoa, Luther memakai suatu cara yang dapat kita tiru, yaitu dengan mendoakan firman Tuhan kembali kepada Tuhan. Ia merangkai lingkaran doa yang terdiri dari empat untaian; instruksi, ucapan syukur, pengakuan dosa, dan permohonan kepada Allah.

β€œRoh Kudus sendiri berkhotbah dalam doa, dan satu kata dari khotbah-Nya jauh lebih berharga dari ribuan doa-doa kita.” – Martin Luther

Luther menjelaskan bahwa dalam doa, kita dapat mengingat instruksi yang Tuhan berikan melalui firman-Nya. Sebagai contoh, mari kita memperhatikan Roma 12:2:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Dalam ayat ini, kita sebagai orang percaya dipanggil untuk mengubah pola pikir kita dari yang duniawi menjadi yang sorgawi. Kita dipanggil untuk berubah melalui kuasa Tuhan supaya kita dapat mengerti kehendak Allah dengan tepat dalam hidup kita.

Kita dapat menyadari bahwa hati dan pikiran yang diperbaharui dan jalan hidup yang berkenan di hadapan Allah adalah karena anugerah-Nya semata. Hal ini patut membuat kita mengucap syukur kepada-Nya dalam doa kita karena kasih yang Ia tunjukkan kepada kita dalam membentuk jiwa yang makin dekat dan mengenal Dia.

Di sisi yang lain, amatlah jelas jika kita merenungkan ayat ini untuk dengan jujur mengakui bahwa kita sering lalai dalam mengikuti himbauan ini. Cobaan yang menawan hati, arah hidup yang tidak jelas, dan beban yang menekan membuat diri kita sering melupakan Tuhan dan jatuh ke dalam dosa, atau bahkan lari dari Sang Penolong karena kita berpikir kita dapat membereskan hidup kita sendiri. Ketika kita diperhadapkan dengan kegelapan yang ada dalam hati kita seperti ini, sangat baik untuk kita mengakui dosa-dosa kita dan memohon belas kasihan Tuhan untuk mengampuni.

Tetapi, tentu kita tidak akan berhenti di situ saja. Kita tidak memiliki Imam Besar yang “tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita" (Ibrani 4:15), tetapi kita mempunyai seorang Bapa yang mengasihi, mampu, dan mau menolong kita dalam keterpurukan kita. Maka, kita dapat dengan keberanian menghampiri takhta kasih karunia Allah dan memohonkan petisi-petisi kita kepada-Nya, baik untuk diri kita sendiri, ataupun keluarga, kerabat, bahkan dunia ini, supaya anugerah Allah di dalam Yesus Kristus dapat dicurahkan kepada kita semua, supaya hati kita dapat diperbaharui, bukan hanya untuk memiliki pola pikir rohani dan mengenal kehendak Allah, tetapi mengenal pribadi Allah dan bersekutu secara intim dengan-Nya dalam suatu relasi yang tak terkatakan indahnya.

Jikalau kita mempunyai waktu dan hati kita tergerak untuk berdoa lebih lagi, ada baiknya kita dapat berdoa dengan firman yang muncul dalam hati dan seterusnya. Dengan demikian, seluruh “firman yang diilhamkan Tuhan (2 Timotius 3:16)” menjadi rangkaian bunga beruntai empat bagi jiwa kita; kitab pengajaran, kitab pujian, kitab pengakuan dosa, dan kitab doa.

Perintah yang Manis bagi Jiwa, Perlengkapan yang Kuat untuk Raga

Memakai firman Tuhan sebagai dasar doa kita sangat bermanfaat untuk membakar dan menggerakkan hati kita dalam semangat berdoa. Yang penting untuk kita perhatikan adalah bukan panjangnya doa kita atau bagaimana ‘rapi’ kita menyusun doa sesuai dengan tata cara yang ditulis di atas, tetapi hati yang disiapkan untuk mendengarkan didikan dari Roh Kudus dengan meditasi firman Tuhan. Luther memberi komentar yang baik akan hal ini:

“Roh Kudus sendiri berkhotbah dalam doa, dan satu kata dari khotbah-Nya jauh lebih berharga dari ribuan doa-doa kita … Jangan berusaha menjalani semua ini sedemikian rupa hingga jiwamu lesu dalam mengerjakannya. Doa yang baik tidak harus doa yang panjang atau diulur-ulur, melainkan doa yang dipanjatkan setiap waktu. Cukuplah bila kita merenungkan satu atau setengah bagian yang justru membakar hati kita untuk fokus dan tekun berdoa pada bagian itu. Roh Kudus akan memberikan kita pengertian dan terus mendidik kita, ketika melalui firman Tuhan hati kita dibersihkan dan dibebaskan dari gangguan di dalam dan di luar hati.”

Dari disiplin doa ini, kita dapat memperhatikan tiga manfaat:

1. Menjaga hati kita terhadap dosa.

Daud menuliskan dalam kitab Mazmur, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau (Mazmur 119:11).” Dengan serius merenungkan perintah dan ketetapan Allah, kita diberi perisai untuk menjaga hati dan pikiran kita terhadap dosa-dosa yang menyerang. Dunia ini adalah medan tempur orang percaya dan oleh karena itu kita harus memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata Allah dan kuat dalam kuasa-Nya melalui firman yang Ia nyatakan.

2. Memperkaya kehidupan doa.

Kita dapat melihat dari cara yang dipakai Luther bahwa Allah sendiri telah menyediakan kita harta karun yang begitu limpah untuk kita bisa pakai dalam doa – yaitu firman-Nya sendiri. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).” Apakah sarana kita berdoa berhenti di sini saja? Tentu saja tidak! Mazmur, Amsal, doa-doa para saksi iman yang tercatat dalam Alkitab, semuanya ini merupakan bagian dari berkat besar Allah untuk kita dapat berkomunikasi dengan-Nya melalui doa.

3. Melatih ketangguhan dan disiplin rohani.

Kita sangat mudah sekali diserang oleh begitu banyak jebakan dan tipuan setan. “Oh, cara berdoa? Bukankah ini suatu sikap yang legalistik? Doa kan harusnya keluar dari hati dan tidak kaku seperti itu?” Apakah doa yang disengaja, tekun, disiplin, tulus, dan berfokus pada kemuliaan Tuhan suatu hal yang kaku? Memang, di satu sisi adalah suatu kewajiban bagi orang percaya untuk berdoa, tetapi lebih dari pada itu, doa adalah alat anugerah yang diberikan Allah untuk kita dapat manfaatkan supaya kita dapat lebih lagi menikmati diri-Nya! Tanpa makanan, minuman, dan udara, kita tidak dapat hidup. Kita butuh hal-hal fisik ini untuk kehidupan jasmani kita. Jelas bahwa kita juga perlu sarana-sarana untuk kehidupan rohani kita! Mari kita melatih diri kita dengan sungguh, “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya (2 Korintus 2:11)".

Kiranya melalui sarana-sarana ini, kita dapat menyadari kekayaan anugerah Allah dan terus-menerus melatih diri untuk mengejar pribadi-Nya melalui doa. Saya tutup artikel ini dengan janji yang manis dari Allah sendiri bagi orang-orang yang mengejar-Nya: 

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN (Yeremia 29:12-14a).”

Oleh: HN

Image source: Unsplash

Uang & Kesuksesan | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 1

Hi teman-teman, akhirnya nih saat yang kita tunggu-tunggu datang juga! Hari ini BOBA TIME tayang untuk pertama kalinya!

UANG & KESUKSESAN adalah topik kita kali ini. Nah, kalo dipikir-pikir, sebenarnya boleh ga sih sebagai orang Kristen, kita itu punya keinginan untuk kaya? Apakah UANG & KESUKSESAN sungguh-sungguh bisa kasih kita kebahagiaan seperti yang dijanjikan dunia ini?

Penasaran? Langsung nonton sampe habis! ℹ️ Like, Share, Subcribe dan nyalain notifikasi supaya ga ketinggalan episode-episode selanjutnya ✨✨✨ Selamat nonton! ☺️

Catatan Kekuatiranku – Menjomblo

Halo, Teman-teman!

Apa kabarnya? Semoga sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan Yesus Kristus.

Topik sharing saya kali ini adalah topik yang mungkin juga menimbulkan kegalauan di hati teman-teman sekalian, yaitu status “Jomblo” alias belum mempunyai pasangan. Jadi ceritanya dulu waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Umum saya menargetkan untuk menikah setelah lulus kuliah atau kalau sudah kerja. Ya, sekitar umur 23-25 tahun, rasanya itu umur yang pantas untuk menikah dan kemudian punya anak. Tahun demi tahun berlalu, lulus kuliah sudah, kerja juga sudah, tapi kok gak nikah-nikah, ya? Sampai sekarang ini, di umur yang sudah teramat matang untuk menikah.

Melalui firman-Nya, Tuhan menyadarkan dan membuat saya jadi mengerti kalau Tuhan itu lebih berharga, lebih penting dari siapapun juga atau apapun juga yang bisa saya miliki di dunia ini.

Jadi, cita-cita dan harapan gagal dong? Tidak malu diomongin orang-orang? Kalau sampai tidak menikah gimana? Terus terang semua pertanyaan itu sempat menjamuri pikiran saya dan menjadi pergumulan selama bertahun-tahun. Apa sekarang sudah tidak bergumul? Kita jujur-jujuran, ya, mungkin baru beberapa tahun belakangan ini saja saya akhirnya bisa berdamai dan bersukacita dengan hidup saya. Melalui firman-Nya, Tuhan menyadarkan dan membuat saya jadi mengerti kalau Tuhan itu lebih berharga, lebih penting dari siapa pun juga atau apa pun juga yang bisa saya miliki di dunia ini. Apa saja sih yang Tuhan sudah kasih tahu lewat firman-Nya?

Ketidaktaatan akan menghasilkan dosa

Karena tidak mau taat untuk menerima ketetapan Tuhan, saya jatuh di dalam dosa-dosa yang amat berbahaya. Dosa pertama, mengasihani diri atau bahasa kerennya, self-pity. “Kok saya belum menikah? Masa sih saya kurang cantik? Apa mungkin karena kurang tinggi? Kurang pintar gitu? Atau kenapa, ya? Dosa pertama disusul oleh dosa kedua, yaitu kesombongan. “Kok tidak ada yang mau menikah sama saya? Muka juga tidak jelek-jelek amat. Teman-teman yang “biasa-biasa” saja banyak banget yang sudah menikah, sudah punya anak pula, kapan dong giliran saya? Tuhan kok tidak adil!” Coba lihat, sungguh mengerikan. Sombong sekali! Saya pikir saya tuh lebih pintar, lebih tahu apa yang terbaik untuk diri saya daripada Tuhan. Saya mau menempatkan diri saya lebih tinggi dari Tuhan yang adalah Sang Pencipta.

Nancy Leigh deMoss berkata, “Terkadang Tuhan membuat hal jodoh-berjodoh ini seperti rumit sekali karena Tuhan terlalu mencintai kita untuk membiarkan kita mempunyai hidup, baik menikah atau melajang, yang bisa membuat kita merasa tidak membutuhkan Dia.” Bisa saja kan kalau saya menikah, punya suami, punya anak, semua itu menjadi ilah saya, menjadi yang terutama di hati saya, bukan Tuhan. Ini adalah suatu dosa besar lainnya yang mendukakan hati Tuhan.

Tuhan begitu mencintaiku

“Tuhan, apa Tuhan beneran sayang sama saya? Kok sepertinya Tuhan lebih sayang kepada teman-teman yang lain? Mereka sudah menikah, tapi kok saya belum? Kapan dong giliranku?” Pertanyaan-pertanyaan berbeda muncul di dalam pikiran saya sehingga saya jatuh di dalam dosa lain yang bernama self-centered, yaitu dosa yang memusatkan segala sesuatu pada diri. Diriku, perasaanku, dan kemauanku yang terpenting, bukan Tuhan.

Melalui firman-Nya, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16), Tuhan menegur dengan keras. “Bagaimana mungkin Aku tidak mencintaimu? Aku selalu ada bagimu, mencukupkan segala kebutuhanmu, selalu menyertai hidupmu sampai detik ini. Terlebih lagi, Aku telah mengaruniakan anak-Ku yang tunggal sebagai Juruselamatmu, Dia mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosamu." 

Jadi sekali lagi, ya, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Anaknya ada berapa? Hah, sudah umur segini kenapa belum menikah?” sudah sering banget saya dengar. Sebenarnya sih pertanyaan-pertanyaan yang lumrah-lumrah saja untuk ditanyakan, tapi kalau diambil ke hati, ya, bisa membuat kita down. Tapi mungkin bisa dijawab seperti ini, “Saya tidak tahu kenapa belum menikah, tapi saya tetap berharap dan berdoa kepada Tuhan.” Jawabnya jangan dengan muka cemberut, tapi dengan senyuman yang tulus karena ingat, Tuhan begitu mencintaimu!

Percaya kepada Tuhan

Masih ingat dengan pepatah “Tak kenal maka tak sayang”? Kalau kita tidak kenal Tuhan, ya, bagaimana mungkin kita bisa mengasihi-Nya? Bagaimana mungkin bisa mempercayai-Nya? Kepercayaan kepada seseorang itu dihasilkan dari pengenalan yang baik akan orang tersebut. Jadi, bagaimana sih kita bisa mengenal Tuhan? Ya, dengan membaca firman-Nya di Alkitab. Kita akan tahu sifat dan karakter Tuhan, apa yang Tuhan suka atau tidak suka. Kalau Tuhan itu bukan cuma Allah yang murah hati, tapi juga Hakim yang adil. Betapa Tuhan sayang sama kita, Ia mau kita menjadi pribadi yang terbaik menurut ketetapan-Nya dan menginginkan hanya hal-hal yang baik untuk kita. Status menikah atau single itu bukan suatu ukuran atas nilai diri seseorang. Status menikah tidak akan membuat Tuhan mencintai orang itu lebih daripada orang yang belum atau tidak menikah. 

Tuhan tahu yang terbaik untuk saya dan Dia dapat dipercaya. Dipercaya untuk apa? Untuk menuliskan cerita hidup saya dengan teramat indah sejak dari dalam kekekalan. -Nancy Leigh DeMoss Wolgemuth

Di dalam kedaulatan-Nya, Tuhan belum memberikan jodoh kepada saya, tapi ini sama sekali tidak berarti bahwa Tuhan itu jahat. Tuhan adalah baik, penuh kasih, dan bijaksana. Tuhan tahu yang terbaik untuk saya dan Dia dapat dipercaya. Dipercaya untuk apa? Untuk menuliskan cerita hidup saya dengan teramat indah sejak dari dalam kekekalan. Cara pandang Tuhan tidak sama dengan cara pandang saya. Waktu Tuhan juga tidak sama dengan waktu saya. Dan saya, si orang yang berdosa ini, tidak mungkin mampu untuk mengerti akan jalan-jalan dan ketetapan-ketetapan Tuhan. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri - Amsal 3:5."

Puas di dalam Tuhan

Contentment in the Lord atau merasa puas di dalam Tuhan atas hidup yang telah Ia anugerahkan adalah pilihan pribadi. Boleh-boleh saja menolak untuk merasa puas, tapi apa mau hidup sengsara dengan hati yang menggerutu? Kalau ada rasa puas di dalam Tuhan, maka kita akan menerima apa yang Tuhan mau berikan, bukan menuntut apa yang kita sendiri inginkan. Rasa puas di dalam Tuhan juga akan membuat kita bisa bersyukur dan bersukacita atas semua pemberian-Nya. Seperti tertulis di 1 Timotius 6:6 bahwa kesalehan disertai dengan kepuasan hati memang akan memberi keuntungan yang besar. Jadi, kamu mau pilih yang mana?

Aku dicipta untuk memuliakan Tuhan

Teman saya pernah bilang, “Jangan sedih karena masih single, orang yang single itu bisa melayani Tuhan dengan lebih leluasa, misalnya ikut perjalanan misi ke daerah terpencil. Kalau sudah punya suami dan anak pasti lebih banyak pertimbangannya. Harus minta ijin dulu sama suami, terus harus diskusi siapa yang akan menjaga anak, apa harus bawa anak dan lain-lain.” Dalam 1 Korintus 7 ada tersirat bahwa Paulus lebih memilih untuk hidup sendiri karena bagi Paulus, orang yang tidak menikah itu mempunyai kebebasan lebih dalam melayani Tuhan daripada mereka yang menikah. 

Charmaine Potter berkata, “Aku ingin menjadi seseorang yang sungguh-sungguh memuliakan Tuhan dengan kehidupan single-ku sekarang ini. Kalau sampai suatu saat nanti, di dalam kehendak-Nya, Tuhan berkata, 'Charmaine, engkau telah begitu memuliakan Aku dengan hidupmu, maka sekarang Aku akan menganugerahkan hidup pernikahan kepadamu, agar engkau bisa lebih memuliakan Aku dengan berpasangan dengan orang tersebut,' maka aku akan bersyukur dan bersukacita.” 

Menikah atau tidak menikah, apapun itu, keduanya adalah anugerah rohani dari Tuhan yang ditujukan untuk penggenapan rencana keselamatan Tuhan bagi umat manusia dan kemuliaan nama-Nya. “Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat - 1 Korintus 7:17.”

Masa depan

Ini adalah rahasia Tuhan, Teman-teman. Jangan takut, jangan kuatir, Tuhan sudah berjanji untuk memberi kita harapan dan masa depan yang indah bersama Dia. Pernikahan itu bukanlah segalanya. Pernikahan antara pria dan wanita di dunia ini hanyalah gambaran dari pernikahan kekal antara Kristus dan pengantin wanita-Nya, inilah yang terpenting. Tuhan mau supaya kita bersiap diri untuk menjadi pengantin wanita-Nya. “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia - Wahyu 19:7.”

Penutup

Bagi teman-temanku sesama jomblo, ayo, kita serahkan harapan dan doa kita hanya kepada Tuhan. Lihat kebaikan-Nya selama ini, jangan lupa sama doa-doa lain yang sudah dijawab selain dari doa meminta pasangan hidup ini. Tapi, jangan cuma berdoa meminta pasangan, berdoa juga untuk anugerah kesabaran dalam menunggu. Jikalau Tuhan memang berkehendak, Dia pasti akan memberikan jodoh yang terbaik pada waktu-Nya. Kok rasanya lama banget? Mungkin saja, tapi lebih baik untuk menunggu waktunya Tuhan. Percayalah!

Oleh: SH

Image source: Unsplash

Katharina von Bora (1499 – 1552)

Hidup sebagai wanita Jerman di abad 15an bukanlah hal yang mudah. Mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menjadi biarawati. Katharina Von Bora, walaupun masih keturunan bangsawan, dia hampir menghabiskan separuh hidupnya di dalam biara. Setelah ibunya meninggal pada waktu dia berumur 5 tahun, ayahnya memasukannya ke asrama Benedictine. 4 tahun kemudian, ayahnya mendaftarkan dia masuk ke sekolah biara dan pada usianya yang ke 16, dia mengambil sumpah menjadi biarawati. 

Pada tahun 1517, Martin Luther memakukan 95 tesisnya di pintu gereja di Wittenberg, hal ini dilakukan untuk memprotes Gereja Roma Katolik yang melakukan praktek penjualan surat pengampunan dosa. 

Ajaran Reformasi Luther menyebar dengan cepat di Eropa dan membuka mata Katharina dan juga 11 biarawati lainnya. Hati nurani mereka tidak tahan lagi dengan kehidupan di biara. Mereka ingin melarikan diri. Tetapi bagaimana caranya?

Diam-diam Katharina dan 11 biarawati lainnya menghubungi Martin Luther meminta bantuannya untuk mengeluarkan mereka dari biara. Mereka berhasil bersembunyi di kereta Koppe yang tertutup antara barel ikan dan melarikan diri ke Wittenberg. Ini merupakan langkah yang sangat berbahaya bagi para biarawati yang melarikan diri dan menyangkalagama mereka karena hukumannya adalah hukuman mati.

Setelah mereka keluar maka dengan cepat mereka ditempatkan di keluarga atau menikah karena tidak ada tempat untuk perempuan lajang dalam masyarakat pada waktu itu. 

Pada tahun 1525 Katharina menikah dengan Marthin Luther. Boleh dikatakan pernikahan mereka tidak dimulai atas dasar cinta, bahkan Katharina melihat pernikahannya sebagai suatu tugas dari Allah sedangkan bagi Luther adalah untuk menyenangkan hati ayahnya. 

Meskipun demikian, pernikahan mereka pada akhirnya menjadi sebuah pernikahan yang bahagia, dan menjadi kisah cinta yang sangat menguatkan. 

Katharina bukan wanitalah biasa, dia adalah seorang istri yang cerdas, terampil, cekatan, dan selalu giat bekerja, dia bangun jam 4 pagi untuk mengurus kebutuhan sehari-hari suami dan mendidik 6 anak mereka, ditambah lagi 11 anak yatim piatu yang mereka adopsi. Sampai-sampai Luther bercanda memberikan dia julukan Bintang Pagi Wittenberg.

Peran dan pelayanan Katharina dalam rumah tangga, memberikan ruang gerak yang luas bagi suaminya, untuk menulis, mengajar, bepergian, dan berkotbah paling tidak sebanyak 150 kali setiap tahunnya. Ini adalah kontribusi yang tidak terlihat dari seorang Katharina bagi Reformasi. 

Pada jaman itu panggilan hidup wanita Kristen yang dianggap ideal adalah sebagai seorang biarawati. Namun, Katharina memberikan contoh teladan baru tentang apa artinya menjadi seorang wanita yang mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan, melalui pelayanan di dalam keluarga dan gereja. Ketika mengerjakan tugasnya sehari-hari, dia tidak memisahkan mana tugas yang rohani mana yang tidak karena dia percaya bahwa dia sedang melayani Allah di dalam segalatugasnya

Keluarga Luther tidak luput dari kesedihan yang mendalam, Anak ke-2 mereka, meninggal pada usia 10 bulan. Anak ke-3 mereka, meninggal pada usia 13 tahun. Puncak kesedihan Katharina adalah pada saat Martin Luther, suami terkasihnya meninggal dunia pada tahun 1546. Katharina sangat sedih dan hancur hati. Setelah kematian suaminya, dia mengalami kesulitan dalam keuangan sehingga dia terpaksa harus meninggalkan rumahnya. 

Pada saat terjadi pandemi Black death, Katharina pergi ke Torgau untuk menyelamatkan diri tetapi dalam perjalanan itu dia mengalami kecelakaan parah dan meninggal 3 bulan kemudian pada usia 53 tahun. 

Di ranjang kematiannya, Katharina memberikan pernyataan seperti ini, “Aku akan tetap menempel erat pada Kristus, seperti mantel yang bergantung pada kaitannya.” 

Kehidupan Katharina adalah suatu kesaksian hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan,dan menunjukkan keinginan hatinya untuk menjunjung tinggi kebenaran. Warisan terbesarKatharina bagi Reformasi adalah kesetiaannya di dalam pernikahannya dan dalam imannyakepada Tuhan, juga teladan kesalehannya bagi gereja.

Martin Luther dan 95 Tesis

Halo teman-teman, hari ini kita akan membahas seorang tokoh Reformasi Protestan yang bernama Martin Luther.

Martin Luther lahir pada 10 November 1483 di Eisleben, Jerman. Orangtua Luther berharap agar anaknya menjadi pengacara yang sukses. Tetapi Tuhan memiliki kehendak lain. Luther memutuskan untuk menjadi  seorang Biarawan. Tidak hanya itu, Luther juga terus belajar dan menjadi seorang pastor sekaligus profesor di bidang Teologi.

Di zaman Luther, pada masa pemerintahan Paus Leo X tahun 1517, Gereja Katolik melakukan praktik penjualan surat Indulgensi (Surat Penghapusan Dosa) demi mengumpulkan dana untuk merenovasi Gereja St. Peter’s Basilica di Roma. Mereka mengklaim bahwa surat Indulgensi tersebut dapat menghapuskan dosa dan menyelamatkan manusia dari hukuman api penyucian/purgatori.

Luther mengetahui bahwa ini tidak benar. Sehingga pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memakukan disputasinya yang berjudul “Disputation on the Power and Efficacy of Indulgencies” atau yang lebih dikenal sebagai 95 Tesis di pintu gerbang gereja Wittenberg. Tesis Luther dianggap menyerang Gereja Katolik pada waktu itu.

95 Tesis Luther menejaskan bahwa: 1) Alkitab adalah otoritas tertinggi, dan 2) manusia bisa diselamatkan hanya melalui iman, bukan melalui hasil usaha sendiri.

Ketika Luther menulis tesisnya, ia sebenarnya bermaksud untuk mengutarakan pendapat melalui diskusi kaum cendekiawan dan bukan untuk melakukan pemberontakan terhadap Gereja Katolik. Waktu itu, diskursus melalui tulisan dan disputasi secara langsung lazim terjadi di kalangan cendekiawan.

Tetapi di luar dugaan, dalam waktu satu bulan, tulisan Luther telah menyebar ke seluruh Jerman. Hal ini mengakibatkan Surat Indulgensi menjadi tidak laku lagi dan Luther dianggap melawan Gereja Katolik. Momen ini juga menjadi momen penting yang memulai Reformasi Protestan.

Mari kita melihat beberapa poin dalam tesis Martin Luther:

  • Tesis no. 32: “Orang yang percaya bahwa, melalui surat pengampunan dosa, mereka dijamin mendapatkan keselamatan mereka, akan dihukum secara kekal bersama dengan guru-guru mereka.”
  • Tesis no. 36: “Setiap orang Kristen yang merasakan penyesalan yang sejati akan mendapatkan pengampunan dosa seluruhnya yang sejati dari penderitaan dan rasa bersalah, bahkan meskipun tanpa surat pengampunan dosa.”
  • Tesis no. 37: “Setiap orang Kristen sejati, entah yang hidup atau yang mati, mendapatkan bagian dalam semua berkat Kristus dan gereja yang diberikan kepadanya oleh Allah meskipun tanpa surat pengampunan dosa.”
  • Tesis no. 43: “Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memberi kepada orang miskin, atau memberi pinjaman kepada orang yang kekurangan, berbuat lebih baik daripada jika ia membeli surat pengampunan dosa.”
  • Tesis no. 50: “Orang-orang Kristen harus diajar bahwa,jika Paus mengetahui tuntutan para pengkhotbah pengampunan dosa, ia akan lebih menyukai jika Basilika St. Petrus dibakar sampai menjadi abu, daripada dibangun dengan kulit, daging, dan tulang domba-dombanya.”
  • Tesis no. 86: “Sekali lagi: "Mengapa Paus, yang kekayaannya saat ini jauh lebih banyak daripada orang yang paling kaya di antara orang kaya, tidak membangun Basilika St. Petrus dengan uangnya sendiri, sebaliknya dengan uang dari. orang-orang percaya yang miskin?''

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya pada bulan Juli 1520, Paus Leo X memutuskan bahwa pengajaran Luther sesat dan mengancam akan memberikan ekskomunikasi jika ia tidak menarik kembali ucapannya. Tetapi Luther dengan tegas menolak untuk menarik kembali ucapannya, dan membakar surat dari Paus yang membuatnya diekskomunikasi pada 3 Januari 1521.

500 tahun lebih sudah berlalu sejak reformasi Martin Luther, namun sekiranya kita tidak melupakan 2 pelajaran penting yang ditinggalkan oleh sang reformator, yaitu bahwa: 1) Alkitab adalah otoritas tertinggi dan 2) keselamatan hanya dapat diperoleh melalui iman.

Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua untuk menghargai Alkitab karena Alkitab adalah Firman Allah yang sangat mulia dan juga membacanya setiap hari agar iman kita semakin kuat.

Source: HISTORY, SarapanPagi Biblika Ministry

Martin Luther: Anak Laki-laki yang Menggoncangkan Gereja

Monty : Hi, Jason!

Jason : Hi Pak Monty!

Monty : Jason, kamu tau tidak apa yang biasa gereja rayakan pada bulan Oktober?

Jason : ga tau Pak. Ulang tahun gereja?

Monty : Bukan. Setiap bulan Oktober, seluruh gereja Protestan di dunia memperingati hari reformasi.

Jason : Oh iya Jason ingat. Tapi Reformasi apa sih Pak?

Monty : Reformasi adalah suatu gerakan membawa gereja kembali kepada kebenaran Alkitab.

Nah kali ini, kita akan mendengarkan sebuah cerita yang terjadi lebih dari 500 tahun yang lalu, tentang seorang anak laki-laki yang menggoncangkan gereja dan memulai gerakan Reformasi. Apakah Jason mau dengar?

Jason : Mau

Monty : Baik semua duduk dan dengarkan baik-baik ya.

Anak itu Namanya Martin Luther.

Ia lahir pada tahun 1483 di Jerman.

Martin seorang anak yang pintar. Dia suka membaca, menulis, bernyanyi dan berdiskusi tentang banyak hal. Keluarga Martin ingin agar dia menjadi seorang ahli hukum ketika dia besar nanti. Namun, Tuhan mempunyai rencana lain bagi Martin.

Suatu hari dalam perjalanan, badai hebat melanda dan tiba-tiba sebuah sambaran petir hampir mengenai Martin. Dengan gemetar ketakutan, dia berjanji akan menjadi seorang biarawan jika Tuhan selamatkan hidupnya.

Jason : Biarawan itu apa Pak?

Monty : Biarawan adalah orang yang tinggal di biara untuk belajar tentang agama.

Jason : Ow. Trus Martin selamat ga?

Monty : Nah doanya dijawab oleh Tuhan! Dia selamat dan Martin pun menepati janjinya.

Namun, walaupun sudah menjadi biarawan, Martin tetap saja tidak memiliki damai di hatinya; dia tidak yakin bahwa Tuhan mengasihinya. Dia berusaha berdoa lebih lama, berpuasa, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat supaya bisa diterima oleh Tuhan.

Sampai suatu hari, Martin membaca Roma 1:17 yang mengatakan bahwa “Orang benar akan hidup oleh iman”.

Lalu, Tuhan membuka hati Martin dan memberinya karunia iman yang sejati kepada Yesus. Martin menyadari keselamatan bukan karena usaha sendiri, melainkan anugerah dari Tuhan.

Martin sungguh bersukacita.

Pada saat itu, tidak semua orang bisa belajar dan membaca Alkitab. Alkitab hanya ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani - bahasa yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu saja. Jadi, banyak orang tidak sadar kalau gereja mengajarkan hal-hal yang tidak benar. Misalnya, ketika gereja saat itu mengajarkan bahwa pengampunan dosa dapat dibeli dengan uang. Martin menolak ajaran ini. Martin tahu bahwa itu adalah kebohongan. Maka pada tanggal 31 Oktober 1517, dia menulis 95 pernyataan tentang ajaran gereja yang salah dan menempelkannya pada pintu gereja di Wittenberg.

Tok…tok…tok… orang banyakpun mulai berkumpul dan membaca apa yang Martin tulis.

Lalu gemparlah kota itu. Banyak orang yang percaya dengan apa yang Martin tulis. Mata orang mulai terbuka terhadap kebenaran. Tetapi hal ini justru membuat para pemimpin gereja marah besar. Martin dianggap melawan gereja dan dipaksa untuk menarik kembali ajarannya. Tetapi Martin menolak dan dengan tegas menjawab, “Aku tidak akan menarik kembali pernyataanku. Di sini aku berdiri, kiranya Allah menolong aku”.

Pemimpin gerejapun berusaha untuk menangkap Martin. Tetapi Tuhan menyelamatkan Martin melalui teman-temannya yang menyembunyikannya sehingga dia luput dari hukuman. Dalam persembunyian, Martin mulai menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman. Hasilnya, semakin banyak orang dapat membaca dan mengerti Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.

Sejak saat itu, gerakan Reformasi mulai tersebar ke seluruh dunia.

Nah anak-anak,

Sekarang kita bersyukur punya Alkitab dalam bahasa yang bisa kita mengerti. Jangan sia-siakan. Ayo baca Alkitab setiap hari supaya kita kenal Kebenaran dan memiliki iman yang sejati. Kalau tidak baca Firman, kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jadikan Firman yang utama dalam hidup kita. Walaupun sudah pergi ke sekolah minggu sejak kecil, bukan berarti kita sudah diselamatkan. Tetapi kita diselamatkan dan dibenarkan hanya melalui iman dalam Yesus Kristus.

Anak-anak,

Tuhan sudah pakai anak laki-laki yang bernama Martin Luther menjadi Bapa Reformasi Protestan, untuk memulai hal yang luar biasa 500 tahun yang lalu. Tapi bukan berarti reformasi sudah selesai. Tuhan mau kita teruskan semangat reformasi, supaya Injil yang sejati boleh semakin dikenal.

Monty : Jason mau Tuhan pakai seperti Martin Luther?

Jason : mauuu

Monty : Kalau begitu jangan lupa rajin baca Firman dan doa. Anak-anak di rumah juga ya. Kiranya Tuhan boleh pakai hidup kita sejak kecil untuk meneruskan semangat reformasi. Tuhan memberkati

 

Quote of the day

Kekudusan bukanlah sesuatu yang kita harus lakukan agar kita menjadi sesuatu; itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan karena siapa kita.

Martyn Lloyd-Jones