Susannah Annesley Wesley : Ibu yang Berdoa

Susannah Annesley Wesley : Ibu yang Berdoa

Seorang wanita berlutut, sambil menggenggam Alkitab di tangannya, dia menutupi kepala dengan kain celemeknya seolah-olah sedang bersembunyi. Ini adalah isyarat yang dia berikan kepada anak-anaknya bahwa inilah saatnya mama mau berdoa, mama mau menyendiri mencari wajah Tuhan dan mau mendoakan anak-anaknya. Demikianlah rutinitas seorang Susannah Wesley.

Susannah, seorang ibu dengan sembilan belas orang anak (meskipun hanya sembilan dari anaknya yang hidup sampai usia dewasa), adalah sosok ibu yang suka berdoa. Susannah menyediakan waktu berdoa minimal satu jam setiap harinya dan dia mendoakan satu persatu anak-anaknya. Bukan hanya itu saja, Susannah bahkan menerapkan sebuah rutinitas bagi masing-masing anaknya, dimana ia menyediakan waktu khusus satu jam per minggu untuk tiap anaknya, dengan demikian Susannah dapat membimbing kehidupan rohani tiap anaknya tanpa terkecuali.

Selain suka berdoa, Susannah adalah seorang ibu yang tegas serta memiliki keyakinan teguh bahwa kehidupan yang rohani adalah kehidupan yang menjalankan kehendak Tuhan, bukan kehendak diri sendiri. Ini menjadi pola asuh yang dipakai oleh Susannah untuk mendidik anak-anaknya. Dia berusaha menaklukkan kehendak diri anak-anaknya dari sejak mereka masih kecil, sehingga anak-anaknya belajar untuk taat pada otoritas di atas mereka. Salah satu kutipan dari Susannah adalah: “Anak yang tidak pernah belajar taat pada orang tuanya di rumah, tidak akan taat pada Tuhan atau siapapun di luar rumahnya.” 

Kehidupan Susannah tidaklah mudah. Samuel, suami Susannah yang adalah seorang pendeta dan pengajar di salah satu gereja di Inggris, memiliki penghasilan yang rendah. Kesulitan keuangan di tengah-tengah keluarga mereka menjadi hal yang tak terelakkan, ditambah lagi Samuel sering bepergian jauh dari rumah meninggalkan Susannah dengan anak-anaknya. Sehingga Susannah bukan saja harus mengurus anak-anaknya seorang diri, dia juga harus memastikan kebutuhan sandang dan pangan anak-anaknya tercukupi setiap hari. Susannah tidak menyerah di tengah-tengah segala kesulitan ini, dia bahkan mampu mendidik anak-anaknya selama enam jam setiap harinya, mengajarkan sastra, musik, matematika, bidang sains, bahasa Latin, bahasa Yunani, dan teologia kepada anak-anaknya.

Susannah lahir di dalam sebuah keluarga Kristen pada jaman Puritan (ayahnya adalah seorang pendeta), dimana penganiayaan terhadap orang Kristen adalah hal yang sering terjadi pada masa itu. Sejak kecil Susannah memiliki kerinduan agar hidupnya berguna bagi Tuhan, dia berdoa agar Tuhan berkenan memakainya untuk membawa kebangunan rohani di Inggris pada masa itu. Doa Susannah dijawab oleh Tuhan dengan cara yang tidak terpikirkan oleh Susannah. 

Tuhan memanggil Susannah untuk menjadi seorang ibu yang mengasuh dan mendidik anak-anaknya untuk takut akan Tuhan. Dari anak-anak Susannahlah, Tuhan memunculkan dua tokoh yang memberikan pengaruh sangat kuat dalam kekristenan, yaitu John Wesley yang membawa kebangunan rohani besar di Inggris pada masa itu serta menjadi pendiri gerakan Methodist, juga Charles Wesley yang telah menciptakan lebih dari 9000 lagu himne yang masih terus dinyanyikan oleh gereja-gereja sampai sekarang, misalnya lagu “Kristus Yesus Bangkitlah” (Christ The Lord Is Risen Today) dan lagu Natal yang sangat sering kita dengar “Dengarlah Malak Menyanyi” (Hark! The Herald Angels Sing).

Sebuah kalimat yang pernah diutarakan oleh Samuel Wesley kepada istrinya adalah “Beberapa dari orang-orang besar dan agung adalah mereka yang dengan setia mengerjakan hal-hal yang kecil.” Terbukti bahwa doa-doa “kecil” yang dengan tekun dipanjatkan oleh Susannah telah mengubah dunia.

Anda mungkin jarang memakai celemek, tetapi cerita Susannah mengingatkan kita pada beberapa kebenaran yang penting bagi seorang ibu yaitu bahwa bedoa dan memiliki waktu bersama Tuhan merupakan hal yang terpenting bahkan jika harus bersembunyi dibalik celemek di dapur. Apapun yang dilakukan seorang ibu sehari-hari di rumah akan dilihat dan dicontoh oleh anak-anak mereka. Melihat ibu yang penuh semangat melayani Kristus, tertanam benih pelayanan di hati John dan Charles Wesley. Susannah menyadari menjadi seorang ibu itu sulit tetapi sangat berharga.