Monica : Ibu yang Bersandar kepada Tuhan

Monica : Ibu yang Bersandar kepada Tuhan

Siang dan malam Monica berdoa mencucurkan air mata untuk keselamatan jiwa putranya, Agustinus, sampai akhirnya ia sungguh-sungguh bertobat dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus, dan menjadi salah satu pembela doktrin yang benar terbesar di gereja.

Dalam bukunya ‘Confessions (Pengakuan-Pengakuan)’, Agustinus menuliskan kesaksian pribadi tentang masa mudanya, yang dipenuhi dengan kesombongan dalam mengejar prestasi akademis, pergaulan seks bebas dan penolakan yang gigih terhadap kebenaran Injil dan Kristus. Lantas, apa yang menyebabkannya berhenti berlari menuju jurang maut? Yaitu beban dan pergumulan doa ibunya, Monica, yang dengan gigih bertekun mendoakan agar setiap anggota keluarganya bertobat dan menerima Kristus.

Monica lahir dari keluarga Kristen yang kaya raya di kota Tagasta (sekarang Algeria), Afrika Utara. Oleh anugerah Tuhan, Monica dipertemukan dengan seorang pembantu rumah tangga yang baik hati dan juga mengajarkan Monica untuk percaya dan menerima Yesus Kristus. Tetapi kehidupan Monica berubah drastis ketika orangtuanya mengatur pernikahannya dengan Patricus, yang ternyata adalah seorang pria yang kasar, kejam, dan tidak bermoral. Terlebih lagi, ia adalah seorang yang tidak percaya Tuhan dan suka berselingkuh.

Monica mengerti bahwa yang terpenting bagi keluarganya adalah pertobatan dan keselamatan jiwa suami dan anak-anaknya. Ia mengerti panggilan pelayanannya sebagai istri dan ibu di dalam keluarganya dan tetap menjalani hidup yang murni dan saleh di hadapan Allah, supaya keluarganya dapat dimenangkan bagi Kristus. Ia tetap menunjukkan kasih kepada suaminya. Ia dikenal sebagai seorang pembawa damai dalam keluarganya. Ia tidak menyimpan kebencian, kepahitan dan tidak membicarakan yang buruk mengenai keluarganya maupun orang lain. Ia menggunakan setiap kesempatan dalam hidupnya untuk menunjukkan dan mengajarkan kasih Kristus kepada anak-anaknya. Meskipun tidak ada bukti nyata bahwa doa-doanya didengar atau dijawab, ia menolak untuk menyerah, dengan sabar menanti jawaban Tuhan, ia terus berdoa dan bersandar pada Tuhan. Bahkan ketika anak kesayangannya Agustinus meninggalkan Tuhan, ia dapat mendengar jerit tangisan dan doa ibunya untuknya, yang akhirnya mengubahkan hatinya. 

“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakukan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.” (1 Petrus 3:1-2)

Suatu hari, ketika putranya memberi tahu bahwa ia berencana akan pergi ke Roma, Monica berdoa, “Ya Tuhan, jangan biarkan dia pergi ke Roma. Ia hanya akan terlibat dalam pesta pora lebih lagi.” Tuhan tidak menjawab doa itu. Agustinus tetap pergi ke Roma, tetapi ia kemudian menuliskan tentang apa yang terjadi di sana. Agustinus berkata dalam doanya, “Tuhan, Engkau tidak mengabulkan apa yang ibuku minta. Sebaliknya, di dalam kebijaksanaan-Mu, Engkau mengabulkan keinginan yang paling dekat dengan hatinya. Engkau melakukan padaku apa yang selalu ibuku minta untuk Engkau lakukan.”

Di Italia itulah Agustinus akhirnya bertobat pada usia 31. Buah doa seorang ibu selama bertahun-tahun. Setelah Agustinus mengatakan kepada ibunya bahwa ia telah menjadi percaya kepada Kristus, ia berkata dalam doanya, “Ibuku gembira dalam kemenangan dan memuliakan Engkau. Engkau mendengarnya, Tuhan, dan Engkau tidak meremehkan air mata yang mengalir turun dan menyirami bumi di setiap tempat di mana ia bersujud dalam doa. Engkau mendengarnya.”

Agustinus tidak pernah melupakan doa penuh air mata ibunya. Ia sempat terhilang selama bertahun-tahun, hidup semaunya sendiri, mengejar hal yang sia-sia, tetapi akhirnya ia bertobat dan menerima Kristus sebagai Juruselamat hidupnya secara pribadi. Ia menuliskan dalam bukunya tersebut bahwa kedukaan dan pergumulan doa ibunya lah yang menolongnya untuk kembali kepada Kristus. 

Setelah bertobat sungguh-sungguh, Agustinus pun bertumbuh dalam imannya dan menjadi salah satu teolog Kristen paling berpengaruh sepanjang masa. Ia menjadi uskup di Hippo pada tahun 395 dan melayani Tuhan sampai akhir hidupnya. Ia berani menentang pengajaran sesat yang dominan pada masanya.

Kegigihan iman Monica telah membuahkan hasil, bukan hanya bagi pertobatan Agustinus. Tetapi juga, lewat kehidupannya yang meneladani Kristus dan kesetiaannya untuk terus mendoakan keselamatan jiwa keluarganya, ibu mertuanya pun dimenangkan bagi Kristus. Dan pada akhirnya, Patricus, suaminya juga menyerahkan hati menerima Yesus Kristus menjelang akhir hidupnya.  

Seorang ibu yang berpengaruh setia mendoakan keselamatan jiwa anak-anaknya.