Pekerjaan & Panggilan | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 4 – Part 1

[Ep. 4 Pekerjaan dan Panggilan - Part 1]

Terkadang, ketika sedang mencari pekerjaan, kita sering bertanya -tanya, “Apa ya yang menjadi dasar untuk memilih pekerjaan yang tepat buat diriku?” πŸ€”

Nah buat teman-teman yang mengalami kegalauan yang sama, yuk merapat! πŸ™‹‍♀️

Karena di episode BoBa kali ini, kita akan membahas seputar hal- hal yang perlu diperhatikan dalam mencari & memilih pekerjaan yang tepat!πŸ‘©‍πŸ’»πŸ‘¨‍πŸ’»

Tonton sampai habis ya!
.
.
.
Untuk informasi lainnya,
kunjungi kami di pelita.net
Jangan lupa untuk Like, Comment, dan Follow ya!

Akhir kata,
Salam Boba πŸ‘€

ℹ️ Bagian dari Digital Ministries GRII Sydney

#bobaseries #bolehbahas #talkshow #pemudakristen #imankristen #anakmudakristen #pekerjaan #panggilan #gerejaindonesia #kebenaraninjil #talkshow
#teologiReformed #pelita

Pernikahan | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 3 – Part 4

PERNIKAHAN (part4)
πŸ’­* Apa bisa menjalani pernikahan kalau hanya salah satu yang bertumbuh rohani?*

πŸ” Yuk belajar bersama tentang prinsip2 penting dlm pernikahan dari sudut pandang Alkitab!

πŸ‘‹πŸ» Kenali kami di pelita.net
Jangan lupa like, comment & subscribe!

ℹ️ Pelayanan Digital Ministries GRII SYDNEY

Pernikahan | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 3 – Part 3

PERNIKAHAN (part 3)

πŸ”—Kecelakaan terbesar dalam pernikahan terjadi saat wanita menjadi sosok yg dominan Apa maksudnya?

πŸ” Mari pelajari elemen2 yg perlu dipikiran sebelum memasuki pernikahan!

Kunjungi kami di
Website: pelita.net
Instagram: https://www.instagram.com/pelitaministries/
Facebook: https://www.facebook.com/pelitaministries
Twitter: https://twitter.com/pelitaministri

Ingat untuk Like, Comment & Subscribe πŸ˜ƒ

ℹ️ Bagian dari Pelayanan Digital GRII Sydney

Pernikahan | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 3 – Part 2

PERNIKAHAN (part 2)*

“Kalau masih self-centered, lebih baik jangan nikah!?” πŸ‘€

Diskusi BOBA bersama Pdt Agus kali ini, seru banget! Kita akan mengupas tentang pembentukan karakter dalam pernikahan 🀫

Kunjungi kami di
Website: pelita.net
Instagram: https://www.instagram.com/pelitaministries/
Facebook: https://www.facebook.com/pelitaministries
Twitter: https://twitter.com/pelitaministri

Jangan lupa Like, Comment & Subscribe πŸ˜ƒ

ℹ️ Bagian dari Digital Ministries GRII Sydney

Pernikahan | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 3 – Part 1

Hai sahabat boba! πŸ‘‹

Nah, episode kita kali ini bakalan diawali dengan membahas apa aja sih yang kita harus persiapkan sebelum kita menikah?πŸ€΅πŸ»πŸ‘°πŸ»

Hmm... Kira-kira apa ya? πŸ€”

Yuk yang penasaran mari merapat!

Pemuda & Masa Pacaran | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 2 – Part 3

PEMUDA & MASA PACARAN (part 3)

DO’s & DONT’S Dalam Pacaran ⁉️

Di episode terakhir kali ini, kita akan mengupas prinsip-prinsip Alkitab mengenai hal-hal yg boleh & tidak boleh dilakukan dalam berpacaran.

Baik yg masih single βœ… berpacaran βœ…atau para pejuang patah hati βœ… pastikan untuk nonton full video kali!

Pemuda & Masa Pacaran | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 2 – Part 2

PEMUDA & MASA PACARAN (part 2)*

Tips & Trik mencari teman hidup

Bincang-bincang bersama Pak Agus kali ini akan bahas tentang kriteria dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencari pasangan πŸ€”

Kalian yang sudah punya pasangan atau masih jomblo, wajib bgt nonton video terbaru ini 🧏🏻‍β™€οΈπŸ§πŸ»

Pemuda & Masa Pacaran | BoBa (Boleh Bahas) | Ep 2 – Part 1

PEMUDA & MASA PACARAN (Part 1)

πŸ’­Jodoh itu di tangan Tuhan. Apakah ini benar? Perlukah kita usaha untuk dapat jodoh?

πŸ’πŸ»πŸ’πŸ»‍♀️ Mari simak penjelasan tentang peran laki-laki dan perempuan dalam relasi pacaran di episode Valentine kali ini!

πŸ’‘Jangan nonton sendirian ya, share video ini untuk banyak orang mengerti prinsip dasar sebuah relasi.

Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Berdoa oleh Firman, dalam Firman, dengan Firman

Bagaimana kehidupan doa saudara?

Kita tahu bahwa sebagai orang Kristen, kita perlu untuk berdoa. Doa adalah salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan dalam kehidupan Kristiani, tetapi pada saat yang sama, doa adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Terlepas dari apa yang harus kita doakan, bagaimana kita menguasai pikiran kita untuk tidak ‘ngelantur’ merupakan suatu tantangan tersendiri dalam berdoa! Yang pasti kita ketahui adalah satu hal, kita sangat kurang sekali berdoa. 

Dalam artikel Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Doa Bapa Kami, Pola Doa Kita, dikatakan bahwa Martin Luther mengajarkan kepada kita cara yang baik untuk berdoa dalam suratnya yang berjudul “Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa (A Simple Way to Pray)”. Ia menghimbau kita untuk memeditasikan kebenaran yang dinyatakan dalam firman Tuhan, yaitu Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Luther menekankan bahwa pikiran orang percaya sangat mudah diisi hal-hal yang membuatnya melupakan Tuhan dan bahkan melanggar perintah-Nya. Dosa lalu-lalang melewati pikiran dan membuat hati tidak dijaga dengan ketat di hadapan Allah yang kudus. Mengapa demikian? Karena setan bukanlah pribadi yang malas atau ceroboh – ia tak mau rugi dalam menjual kejahatan kepada daging kita yang menyenanginya! 

Sikap hati seperti inilah yang Yesus sendiri ingin untuk murid-murid-Nya matikan, melalui “berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1)". Hal ini penting dilakukan, karena kita harus terus berjaga-jaga terhadap dosa, dan ini bukanlah hal yang dapat manusia lakukan kecuali ia memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan terus “merenungkan Taurat itu siang dan malam (Mazmur 1:2)". 

Pola Doa Beruntai Empat

Kesiapan dan keinginan hati dalam berdoa adalah suatu hal yang amat penting. Luther menggambarkan mulut seseorang yang komat-kamit berdoa, namun pikirannya melayang kemana-mana, dan dengan demikian mencobai Tuhan:

Ada pastor yang berdoa demikian, “Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Apa kuda-kuda sudah kuberi makan? Datanglah kerajaan-Mu. Nanti mereka harus kuingatkan untuk mengambil susu dari pasar. Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga. Duh, kenapa makanan hari ini begitu sedikit! … Amin.” Aku mendengar banyak doa semacam ini dalam pengalamanku tinggal di biara; itulah pola doa-doa mereka. Sikap seperti ini sama seperti sikap orang yang menghujat Allah, dan amatlah baik bila orang itu tidak berdoa sama sekali bila mereka tidak dapat atau tidak peduli untuk memperbaiki sikap hatinya.

Kita dapat melihat betapa pentingnya konsentrasi dan kebulatan hati untuk berdoa dengan baik! Doa yang baik, kata Luther, adalah doa dimana kita mengingat setiap perkataan dan pikiran dari awal hingga akhir doa. Maka, untuk memfokuskan diri supaya dapat berdoa, Luther memakai suatu cara yang dapat kita tiru, yaitu dengan mendoakan firman Tuhan kembali kepada Tuhan. Ia merangkai lingkaran doa yang terdiri dari empat untaian; instruksi, ucapan syukur, pengakuan dosa, dan permohonan kepada Allah.

β€œRoh Kudus sendiri berkhotbah dalam doa, dan satu kata dari khotbah-Nya jauh lebih berharga dari ribuan doa-doa kita.” – Martin Luther

Luther menjelaskan bahwa dalam doa, kita dapat mengingat instruksi yang Tuhan berikan melalui firman-Nya. Sebagai contoh, mari kita memperhatikan Roma 12:2:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Dalam ayat ini, kita sebagai orang percaya dipanggil untuk mengubah pola pikir kita dari yang duniawi menjadi yang sorgawi. Kita dipanggil untuk berubah melalui kuasa Tuhan supaya kita dapat mengerti kehendak Allah dengan tepat dalam hidup kita.

Kita dapat menyadari bahwa hati dan pikiran yang diperbaharui dan jalan hidup yang berkenan di hadapan Allah adalah karena anugerah-Nya semata. Hal ini patut membuat kita mengucap syukur kepada-Nya dalam doa kita karena kasih yang Ia tunjukkan kepada kita dalam membentuk jiwa yang makin dekat dan mengenal Dia.

Di sisi yang lain, amatlah jelas jika kita merenungkan ayat ini untuk dengan jujur mengakui bahwa kita sering lalai dalam mengikuti himbauan ini. Cobaan yang menawan hati, arah hidup yang tidak jelas, dan beban yang menekan membuat diri kita sering melupakan Tuhan dan jatuh ke dalam dosa, atau bahkan lari dari Sang Penolong karena kita berpikir kita dapat membereskan hidup kita sendiri. Ketika kita diperhadapkan dengan kegelapan yang ada dalam hati kita seperti ini, sangat baik untuk kita mengakui dosa-dosa kita dan memohon belas kasihan Tuhan untuk mengampuni.

Tetapi, tentu kita tidak akan berhenti di situ saja. Kita tidak memiliki Imam Besar yang “tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita" (Ibrani 4:15), tetapi kita mempunyai seorang Bapa yang mengasihi, mampu, dan mau menolong kita dalam keterpurukan kita. Maka, kita dapat dengan keberanian menghampiri takhta kasih karunia Allah dan memohonkan petisi-petisi kita kepada-Nya, baik untuk diri kita sendiri, ataupun keluarga, kerabat, bahkan dunia ini, supaya anugerah Allah di dalam Yesus Kristus dapat dicurahkan kepada kita semua, supaya hati kita dapat diperbaharui, bukan hanya untuk memiliki pola pikir rohani dan mengenal kehendak Allah, tetapi mengenal pribadi Allah dan bersekutu secara intim dengan-Nya dalam suatu relasi yang tak terkatakan indahnya.

Jikalau kita mempunyai waktu dan hati kita tergerak untuk berdoa lebih lagi, ada baiknya kita dapat berdoa dengan firman yang muncul dalam hati dan seterusnya. Dengan demikian, seluruh “firman yang diilhamkan Tuhan (2 Timotius 3:16)” menjadi rangkaian bunga beruntai empat bagi jiwa kita; kitab pengajaran, kitab pujian, kitab pengakuan dosa, dan kitab doa.

Perintah yang Manis bagi Jiwa, Perlengkapan yang Kuat untuk Raga

Memakai firman Tuhan sebagai dasar doa kita sangat bermanfaat untuk membakar dan menggerakkan hati kita dalam semangat berdoa. Yang penting untuk kita perhatikan adalah bukan panjangnya doa kita atau bagaimana ‘rapi’ kita menyusun doa sesuai dengan tata cara yang ditulis di atas, tetapi hati yang disiapkan untuk mendengarkan didikan dari Roh Kudus dengan meditasi firman Tuhan. Luther memberi komentar yang baik akan hal ini:

“Roh Kudus sendiri berkhotbah dalam doa, dan satu kata dari khotbah-Nya jauh lebih berharga dari ribuan doa-doa kita … Jangan berusaha menjalani semua ini sedemikian rupa hingga jiwamu lesu dalam mengerjakannya. Doa yang baik tidak harus doa yang panjang atau diulur-ulur, melainkan doa yang dipanjatkan setiap waktu. Cukuplah bila kita merenungkan satu atau setengah bagian yang justru membakar hati kita untuk fokus dan tekun berdoa pada bagian itu. Roh Kudus akan memberikan kita pengertian dan terus mendidik kita, ketika melalui firman Tuhan hati kita dibersihkan dan dibebaskan dari gangguan di dalam dan di luar hati.”

Dari disiplin doa ini, kita dapat memperhatikan tiga manfaat:

1. Menjaga hati kita terhadap dosa.

Daud menuliskan dalam kitab Mazmur, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau (Mazmur 119:11).” Dengan serius merenungkan perintah dan ketetapan Allah, kita diberi perisai untuk menjaga hati dan pikiran kita terhadap dosa-dosa yang menyerang. Dunia ini adalah medan tempur orang percaya dan oleh karena itu kita harus memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata Allah dan kuat dalam kuasa-Nya melalui firman yang Ia nyatakan.

2. Memperkaya kehidupan doa.

Kita dapat melihat dari cara yang dipakai Luther bahwa Allah sendiri telah menyediakan kita harta karun yang begitu limpah untuk kita bisa pakai dalam doa – yaitu firman-Nya sendiri. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).” Apakah sarana kita berdoa berhenti di sini saja? Tentu saja tidak! Mazmur, Amsal, doa-doa para saksi iman yang tercatat dalam Alkitab, semuanya ini merupakan bagian dari berkat besar Allah untuk kita dapat berkomunikasi dengan-Nya melalui doa.

3. Melatih ketangguhan dan disiplin rohani.

Kita sangat mudah sekali diserang oleh begitu banyak jebakan dan tipuan setan. “Oh, cara berdoa? Bukankah ini suatu sikap yang legalistik? Doa kan harusnya keluar dari hati dan tidak kaku seperti itu?” Apakah doa yang disengaja, tekun, disiplin, tulus, dan berfokus pada kemuliaan Tuhan suatu hal yang kaku? Memang, di satu sisi adalah suatu kewajiban bagi orang percaya untuk berdoa, tetapi lebih dari pada itu, doa adalah alat anugerah yang diberikan Allah untuk kita dapat manfaatkan supaya kita dapat lebih lagi menikmati diri-Nya! Tanpa makanan, minuman, dan udara, kita tidak dapat hidup. Kita butuh hal-hal fisik ini untuk kehidupan jasmani kita. Jelas bahwa kita juga perlu sarana-sarana untuk kehidupan rohani kita! Mari kita melatih diri kita dengan sungguh, “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya (2 Korintus 2:11)".

Kiranya melalui sarana-sarana ini, kita dapat menyadari kekayaan anugerah Allah dan terus-menerus melatih diri untuk mengejar pribadi-Nya melalui doa. Saya tutup artikel ini dengan janji yang manis dari Allah sendiri bagi orang-orang yang mengejar-Nya: 

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN (Yeremia 29:12-14a).”

Oleh: HN

Image source: Unsplash

Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Doa Bapa Kami, Pola Doa Kita

Seorang Puritan, Richard Baxter, menuliskan, "Doa adalah nafas hidup orang percaya.” Pangeran para pengkhotbah, Charles Spurgeon, mengatakan, “Jika saya merasa enggan berdoa, itulah saat dimana saya harus berdoa lebih dari sebelumnya.” Bahkan, Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5:17 mengajar kita untuk “tetap berdoa”. Demikianlah orang-orang kudus sejak zaman dahulu menekankan begitu pentingnya doa dalam hidup seorang Kristen. Namun, banyak dari kita bergumul dengan disiplin rohani ini. Kita sering merasa kesulitan dalam apa yang harus kita doakan, bagaimana cara berdoa, kapan kita harus berdoa, bahkan memikirkan postur tubuh apa yang harus kita ambil untuk berdoa!

Hal ini digumulkan oleh Peter Beskendorf, sahabat dekat Martin Luther yang juga adalah tukang potong rambutnya. Dia bertanya kepada Luther tentang bagaimana caranya untuk berdoa. Martin Luther sendiri adalah salah satu pelopor gerakan Reformasi. Di antara semua hal yang membuat Luther terkenal, salah satunya yang terutama ialah kehidupan doanya yang kuat, panjang, tekun, dan dinamis. Ia pernah dikutip mengatakan, “Saya sangat sibuk, banyak hal yang harus saya lakukan. Saking sibuknya, saya akan memakai 3 jam pertama untuk berdoa!” 

Luther menjawab sahabatnya dengan menulis sebuah surat yang berjudul “Sebuah Cara Sederhana Untuk Berdoa (A Simple Way to Pray)”. Ia menjelaskan dalam suratnya bagaimana cara memiliki kehidupan doa yang kaya dan memuaskan dengan memakai tiga sumber dari Alkitab sebagai dasar, yaitu: Doa Bapa Kami, Sepuluh Perintah Allah, dan Pengakuan Iman Rasuli. 

Pada artikel ini, kita akan melihat bagaimana Martin Luther mengajar cara yang sederhana untuk berdoa dengan memeditasikan Doa Bapa Kami. 

Zaman Penuh Gangguan

Abad ke-21 membawa begitu banyak kemajuan teknologi, tetapi juga membawa bersamanya begitu banyak gangguan bagi orang Kristen modern: pesan WhatsApp, notifikasi Instagram, denting smartphone berisi begitu banyak pesan dan media yang terus bergulir. Uniknya, gangguan semacam ini bukanlah sesuatu yang asing bagi Luther (walaupun tentunya di zaman Luther belum ada WhatsApp dan media sosial!). Di dalam suratnya, ia menulis tentang seriusnya gangguan dalam menghalangi kehidupan doa: 

“Berjaga-jagalah akan tipuan yang mengatakan kepadamu, ‘Tunggu, tunggu. Nanti saja aku berdoa, satu jam lagi. Sekarang, aku perlu mengurus hal ini dan itu.’ Pikiran semacam ini akan mengalihkan perhatianmu dari doa kepada hal-hal lain yang begitu menahan pikiran dan perbuatanmu, sampai akhirnya sia-sialah kita menghabiskan hari tanpa berdoa. … Kita harus memastikan diri kita tidak kehilangan kebiasaan doa yang sejati dan menipu diri kita dalam memikirkan hal-hal lain yang kelihatannya lebih penting, namun nyatanya tidak sama sekali.”

Godaan untuk memikirkan hal-hal yang lebih ‘produktif dan penting’ daripada berdoa bukanlah permasalahan yang timbul dengan era digital, seperti yang tertulis di atas. Permasalahan utamanya bukanlah jadwal yang lebih padat dan smartphone kita, tetapi hati kita sendiri! Oleh karena itu, jikalau kita hendak maju dalam kehidupan doa, kita perlu membereskan inti masalahnya, yaitu keinginan hati kita. Luther memberikan beberapa gagasan untuk menangani hal ini dengan membawa kita kepada Doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami Sebagai Doa Kami

Pertama, Luther menyarankan kita berdoa seturut dengan doa yang Yesus ajarkan di injil Matius 6:9-13:

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu.

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,

dan ampunilah kami akan kesalahan kami,

seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

Amin.

Kemudian, ia membawa kita untuk kembali dalam doa ini untuk berdoa petisi demi petisi. Luther menasihati kita untuk memberi diri dibimbing oleh setiap petisi dalam doa kita. Sebagai contoh, setelah kita berdoa, “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu,” kita dapat melanjutkan dengan berdoa demikian:

“Bapa, keinginan hati kami ialah supaya nama-Mu dikenal, ditakuti, dan dihormati. Engkau adalah Allah pencipta langit dan bumi, Sang Kudus yang begitu mengasihi dunia sehingga Engkau mengaruniakan anak-Mu yang tunggal demi menyelamatkan kami dari murka-Mu akan dosa-dosa kami. Beri kami hati untuk semakin mengasihi-Mu.”

Setelah mendoakan petisi ini, kita dapat melanjutkan doa kita pada petisi yang berikutnya, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,” dan berdoa:

“Ya, Tuhan, kami rindu supaya seluruh bumi ini dipenuhi kemuliaan-Mu seperti di sorga dan engkau bertahta di atasnya. Kami tahu bahwa dunia ini penuh kegelapan, kedukaan dan kesengsaraan. Bapa, kami memohon supaya Engkau sendiri memperlengkapi kami, keluarga kami, dan gereja kami dengan kuasa untuk bergerak demi memperluas kerajaan-Mu di bumi sebagai garam dan terang dunia, supaya cinta kasih-Mu dapat dinyatakan kepada semua orang melalui kesaksian kami.”

Demikian seterusnya kita bergerak dari petisi ke petisi sampai kita menutup doa kita dengan “Amin”. Kata ini kedengaran amat pendek dan sederhana, dan mungkin terlihat tidak terlalu penting sebab ini hanya dipakai sebagai penutup doa saja, tetapi Luther menekankan kepada kita betapa pentingnya kata “Amin” ini untuk kita ucapkan dengan berani dan penuh iman.

“Engkau harus selalu dengan tegas mengatakan Amin. Jangan ragu akan belas kasihan Allah, sebab di dalam anugerah-Nya Ia tentu akan mendengarkan doamu dan berkata ‘Ya’. … Jangan engkau menutup doamu tanpa berpikir, ‘Tentu Allah mendengarkan doa ini. Aku percaya akan kebenaran ini.’ Itulah arti Amin yang sesungguhnya.”

Manfaat Berdoa Seturut Ajaran Yesus

Berdoa seturut apa yang Allah sendiri ajarkan kepada kita tentu memberikan begitu banyak manfaat. Di antaranya, ada tiga hal yang dapat kita perhatikan:

1. Mendisiplin pikiran kita.

Sangat mudah sekali bagi pikiran kita untuk melayang ke mana-mana ketika berdoa. Dalam satu momen kita berdoa, dan dalam momen selanjutnya kita memikirkan apa makan malam kita! Dengan memiliki tata doa yang terstruktur, pikiran kita akan didisiplin untuk fokus dalam doa layaknya tukang potong rambut yang memusatkan perhatiannya pada pisau cukur untuk memotong rambut dengan hati-hati dan tidak melukai pelanggannya.

2. Memperluas hati kita.

Banyak dari kita cenderung berdoa untuk diri kita sendiri, seperti mengaku dosa, meminta pertolongan Tuhan secara pribadi, dan menyatakan permasalahan kita kepada-Nya. Mendoakan Doa Bapa Kami dengan fokus akan tiap petisi akan mendorong kita mencari pengertian yang lebih luas dan dalam akan Kristus. Hal ini akan membuka hati kita untuk menghidupi hati Kristus dan memiliki beban bagi orang lain, serta visi dan misi Allah yang kita bisa bawa dalam doa kita.

3. Memperdalam intimasi dengan Allah.

Rasul Paulus menulis bahwa, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).” Firman yang kita hidupi dalam doa yang sungguh-sungguh tidak akan membuat doa kita kaku, namun akan menghidupkan afeksi kita yang tersembunyi serta memperkaya, memperdalam, dan memperluas doa kita. Seperti sang Pemazmur, kita dapat berkata, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah (Mazmur 73:28).”

Membentuk Hati yang Mengalami dan Makin Merindukan Tuhan

Kristus mengajar kita untuk “berdoa demikian” (Matius 6:9), tidak hanya untuk menyediakan kata-kata bagi orang yang tidak tahu apa yang mereka harus katakan kepada Allah. Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami untuk membentuk hati kita secara total supaya dapat melihat, bahkan menginginkan hal-hal yang Allah sendiri inginkan. Keinginan terdalam hati kita dibakar untuk mengalami dan mengenal Dia lebih lagi dalam hidup kita. Tentu, tata cara yang Martin Luther ajarkan bukanlah satu-satunya teknik jitu untuk kehidupan doa yang sempurna, tetapi dengan perlengkapan ini, kita dapat berjuang untuk suatu kehidupan doa yang lebih kaya dan menyenangkan, ditambah dengan cinta kasih yang makin dalam akan Kristus.

Saya menutup artikel ini dengan tulisan Luther dalam suratnya: “Kiranya Allah mengaruniakan padamu dan semua orang kuasa untuk berdoa dengan lebih baik dari pada diriku! Amin.”

Oleh: HN

Image source: Unsplash

Quote of the day

Kekudusan bukanlah sesuatu yang kita harus lakukan agar kita menjadi sesuatu; itu adalah sesuatu yang harus kita lakukan karena siapa kita.

Martyn Lloyd-Jones