Renungan bagi Kaum Muda: Kesombongan

Kesombongan adalah dosa yang tertua di dunia, setan, Adam dan Hawa jatuh karenanya. Dalam Yakobus 4:6 Tuhan menentang orang yang sombong, karena kesombongan adalah deklarasi pemberontakan kepada Tuhan dan akar dari dosa – dosa yang lain.

Namun anehnya, walaupun kesombongan adalah dosa yang sangat berbahaya, tidak banyak di antara kita yang menyadari dosa ini ada di dalam diri kita, atau walaupun kita menyadarinya, kita tidak memprioritaskannya dalam peperangan terhadap dosa, karena hal ini tidak selalu kasat mata, dan kita terlatih untuk menutupinya.

Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, kita sering melihat selumbar di mata saudara kita, tapi tidak menyadari balok yang ada di mata kita. Kesombongan membuat kita selalu melihat kesalahan orang lain, memandang rendah dan menghakimi dosa orang lain, tapi kita buta akan dosa dan kelemahan kita sendiri. Pujian orang lain terdengar seperti musik yang begitu indah di telinga kita. Kita mau orang lain mengagumi apa yang kita miliki, mulai dari gadget, pakaian, postingan di media sosial dan bukan itu saja, kita mau orang lain memuji apa yang kita lakukan dan katakan.

Kita haus perhatian dan penghormatan dari orang lain, maka dari itu kita pamer di social media, tentang kekayaan, kepintaran dan kesuksesan kita. Kita lebih suka bergaul dengan orang-orang yang kita anggap lebih layak dibanding yang lain, mungkin karena mereka lebih populer, lebih dihormati, lebih kaya, atau lebih punya koneksi.

Ini semua karena kita berusaha mencari pengakuan dari manusia dan bukan dari Tuhan.

Nah, bagaimana kita dapat melawan dan menghindar dari bahaya kesombongan?
Firman Tuhan mengatakan milikilah kerendahan hati. Di dalam 1 Petrus 5:5 dikatakan kita sebagai pemuda harus tunduk kepada orang yang lebih tua dan rendah hati seorang terhadap yang lain. Rendah hati berarti tidak menjadikan diri kita sebagai pusat, tetapi mengikuti teladan Yesus Kristus, yang menjadikan Kehendak Allah Bapa sebagai prioritas di dalam hidup dan tidak menganggap diri lebih tinggi, lebih hebat atau lebih penting dari orang lain. Yang penting bukanlah apa yang diri kita atau orang lain pikirkan tentang kita, tetapi apa yang Tuhan pikirkan tentang diri kita. Rendah hati adalah anugerah dari Tuhan, oleh sebab itu, kenakan “kerendah-hatian” setiap hari, setiap saat, seumur hidup kita karena seperti yang dikatakan di dalam Yakobus 4:6, Tuhan mengasihi orang-orang yang rendah hati.

Oleh: PH

Ordo Salutis: Kelahiran Baru

Kelahiran baru menandakan suatu kehidupan yang baru. Suatu kehidupan yang berbeda dengan kehidupan yang lama. Kehidupan lama berada di dalam kuasa dosa sehingga meskipun kita hidup secara jasmani tetapi sebenarnya kita mati secara rohani. Perhatikan Yeh. 37:1-4 yang menarik. Tulang-tulang yang dibicarakan di dalam perikop itu menandakan orang-orang berdosa yang dalam keadaan mati. Dengan nubuatan firman Tuhan oleh nabi Yehezkiel, tulang-tulang itu menjadi hidup kembali. Kematian di sini lebih ditekankan kepada kematian rohani, meskipun juga pada akhirnya menunjuk kepada kematian yang kekal.

Kelahiran kembali atau kelahiran baru adalah tindakan Allah untuk menanamkan prinsip-prinsip hidup yang baru ke dalam manusia yang berdosa, sikap hati manusia yang dikuduskan, dan tindakan kudus pertama kali bisa dihasilkan dari sikap hati yang baru tadi. Perubahan ini terjadi secara seketika, secara intelektual, emosional dan moral. Perubahan terjadi pada alam bawah sadar karena ini adalah pekerjaan Allah. Perlu diingat bahwa kelahiran baru bukan berarti sekarang manusia itu tidak bisa berdosa lagi. Ini juga bukan perubahan sifat manusia atau perubahan substansi manusia seperti menjadi manusia super.

Kelahiran baru sangat erat kaitannya dengan panggilan eksternal yang kita bahas pada sesi sebelumnya. Panggilan eksternal tidak selalu menyebabkan orang bisa bertobat. Panggilan eksternal efektif yang menyebabkan orang bisa bertobat akan menjadi panggilan internal. Panggilan internal adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati manusia yang membawa perubahan kesadaran manusia, membawa manusia kembali kepada Allah, bersekutu dengan Kristus, menerima berkat-berkat-Nya, hidup dalam kesucian, dan segala sifatnya semua akan kembali kepada kemuliaan Allah.

Kelahiran kembali adalah suatu proses internal di dalam diri manusia sedangkan panggilan adalah bekerja di luar manusia. Urutannya demikian: panggilan eksternal melalui pemberitaan Firman Tuhan, mendahului atau bersamaan dengan tindakan Roh Kudus menghasilkan hidup baru dalam jiwa manusia. Melalui Firman, Allah memberikan hidup baru, pencerahan pikiran, perubahan perasaan, pembaharuan kehendak. Inilah pengertian kelahiran baru secara sederhana. Setelah Allah menghidupkan telinga rohani, Allah membuat orang yang tadinya menolak, kini mau taat dan dipanggil pulang secara efektif. Manusia mendengar panggilan ini dalam hati mereka. Inilah panggilan efektif oleh Allah melalui Firman-Nya dan diterapkan secara efektif oleh Roh Allah. Panggilan efektif menghasilkan penerimaan kudus dan pembaharuan yang pertama kali dalam sikap hati orang tersebut. Orang ini sekarang memulai hidup dengan format yang baru, dengan arah dan hati yang baru. Inilah pengertian kelahiran kembali dalam arti yang lebih luas.

Alkitab mengajarkan pentingnya kelahiran kembali. Kesucian manusia dan ketaatan pada Firman adalah tuntutan dari Tuhan. Dosa menjadikan manusia mati di dalam keadaannya dan melawan Allah. Semuanya ini akan berujung kepada kebinasaan kekal seperti yang tertulis di dalam Rom. 6:23 “Sebab upah dosa ialah maut”. Kelahiran kembali adalah suatu titik penting bagi manusia di mana dia sekarang bisa berbalik kembali kepada Allah. Suatu titik di mana keadaan manusia yang sudah rusak total karena kejatuhan ke dalam dosa, kembali dipulihkan keadaannya menjadi manusia yang sejati. Kelahiran baru memungkinkan seseorang untuk mentaati firman Allah, menjalankan kehendak-Nya dan mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya. Seseorang yang mengalami kelahiran baru akan memiliki identitas yang jelas yaitu sebagai anak-anak Allah.

Beberapa bagian Alkitab berbicara dengan jelas tentang kelahiran baru seperti di Yoh. 3:1-7 dalam percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus. Di ayatnya yang ke-3, Yesus berkata “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Dan di ayatnya yang ke-7 “Kamu harus dilahirkan kembali.” Paulus dalam tulisannya di Roma 8, meskipun dia tidak menulis secara literal kata “kelahiran baru”, tetapi ada pengertian di sana bahwa manusia memiliki dua kehidupan, hidup oleh daging yang dibandingkan dengan hidup oleh Roh. Dan di sana dia membahas mengenai bagaimana orang harus hidup menurut Roh. Mengambil pengertian dari perkataan Yesus tadi, seseorang mutlak perlu dilahirkan kembali. Jika tidak, dia tidak akan dapat melihat Kerajaan Allah. Paling mudah dimengerti adalah bahwa jika seseorang sudah mengalami satu persatu proses Ordo Salutis yang sudah kita bahas di atas, maka secara logis dia akan dilahirkan menjadi manusia baru. Maka konsekuensi logisnya adalah dia akan menerima segala berkat-berkat jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus, yaitu salah satunya adalah hak untuk dapat melihat Kerajaan Allah. Orang Kristen sejati adalah orang yang sudah dilahirbarukan.

Dari pengertian tadi, sekarang kita bisa melihat kepada diri kita sendiri, kepada keluarga kita, dan teman-teman kita, apakah mereka adalah orang-orang yang sudah mendapatkan kelahiran baru? Adakah kita melihat suatu hati yang diubah, yang berfokus kepada Allah, yang diikuti oleh suatu kehidupan yang diubah juga. Jika sudah, maka puji Tuhan. Tetapi jika belum, maka berlutut dan berdoalah, memohon kepada Tuhan belas kasihan-Nya karena hanya itu yang bisa kita lakukan.

Soli deo Gloria.

Oleh: AH

Mematikan Dosa (3)

Dunia ini begitu jahat dan menyodorkan berbagai macam kesenangan duniawi yang berdosa. Kita melihat banyak orang melakukannya sehingga tanpa sadar kita akan terseret oleh arus dunia dan menganggap enteng dosa-dosa kita. Sadarkah kita bahwa dosa yang kecil kalau tidak cepat kita matikan, maka dosa itu akan menjadi semakin besar dan akan menghasilkan dosa-dosa lainnya?

Misalnya ketika kita melihat pornografi. Pertama-tama mungkin dimulai dengan hanya menonton 5 detik. Setan membisikkan kepada kita bahwa 5 detik tidak akan membuat kita ketagihan. Menonton sebentar saja tidak apa-apa, kita bisa berhenti kapan saja. Semua teman lain juga melakukan ini. Tetapi kemudian hati kita semakin tertarik, dan dari 5 detik menjadi satu jam. Dari satu jam menjadi setiap hari sampai kita menjadi semakin ketagihan dan tidak dapat melepaskan dosa ini.

Lalu bagaimana caranya kita dapat mematikan dosa?

  1. Minta kuasa Roh Kudus

    Kita harus sadar bahwa kita tidak dapat mematikan kuasa dosa hanya dengan kekuatan dan usaha kita sendiri. Kita harus meminta kuasa Roh Kudus untuk mematahkan kuasa dosa. Ketika Roh Kudus bekerja maka hal pertama yang akan dilakukan oleh Roh Kudus adalah mencerahkan pikiran kita dan menyadarkan kita akan dosa-dosa kita seperti yang tertulis dalam Yohanes 16:8. Kemudian Roh Kudus akan menyucikan hati nurani kita. Kedua proses ini akan membuat kita makin lama makin tidak menyukai kesenangan dan keuntungan dari dosa. Bahkan dosa itu akan kita rasakan sebagai suatu beban berat yang ingin segera kita singkirkan.

  2. Mematikan dosa setiap hari

    Kita tidak dapat lengah satu hari pun karena iblis akan memakai kelengahan kita untuk membuat kita terlena semakin dalam masuk ke dalam dosa kita. Menurut Amsal 4:23, kita harus senantiasa menjaga hati kita dan selalu waspada akan dosa. Jauhkan hal-hal yang mendekatkan kita kepada dosa tersebut. Dan ingat, ketika kita telah menang atas suatu dosa hari ini, tidak berarti kita pasti menang lagi esok hari. Berhati-hatilah.

Jadi bagaimana dengan hidup kita saat ini?

Apakah kita masih menyimpan dosa di dalam diri kita?

John Owen berkata bahwa mematikan dosa harus ada di dalam suatu pertobatan yang sejati. 

Didalam 1 Yohanes 1:9 dikatakan jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah Allah yang setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Bertobatlah dan tetapkan hati kita untuk taat mematikan dosa.

Ordo Salutis: Panggilan

Sesi ini kita akan membahas mengenai panggilan. Panggilan membuka jalan terjadinya relasi dengan Allah yang sudah putus ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Karena kasih-Nya, Allah masih berkenan untuk menyatakan diri-Nya, mengundang kembali manusia dengan memberinya kesempatan untuk berdamai kembali dengan-Nya. 

Kelahiran baru didahului oleh panggilan oleh Firman Allah seperti yang digambarkan di dalam kitab Yeh. 37:1-14. Perikop ini menceritakan pengalaman nabi Yehezkiel yang ditempatkan oleh Tuhan dalam suatu konteks dia berada di lembah yang penuh tulang-tulang manusia. Tulang-tulang ini melambangkan Israel yang sudah mati, tetapi kemudian Tuhan berkehendak untuk memberikan kehidupan lagi. Perhatikan bahwa meskipun sebenarnya Tuhan dapat saja langsung menghidupkan tulang-tulang itu kembali menjadi manusia, tetapi Tuhan menghendaki Yehezkiel untuk bernubuat kepada mereka. Setelah menerima Firman Tuhan, barulah tulang-tulang itu kembali hidup. Seperti ditegaskan di dalam 1Pet. 1:23 demikian “karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh Firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Ini adalah salah satu kunci penting di dalam kekristenan bahwa tidak ada manusia yang bisa kembali kepada Allah jika Dia tidak memanggilnya atau menyatakan diri-Nya dan Allah menyatakan diri-Nya melalui firman. 

Kebenaran ini sekaligus menepis segala teori bahwa manusia bisa datang kepada Tuhan dengan idenya atau usahanya sendiri. Konsep tentang Allah adalah asing bagi manusia karena Allah tidak ada bandingannya di dunia ini. Ketika sebagian orang lalu berkata bahwa mereka menemukan allah dengan usaha mereka sendiri, sebenarnya yang mereka temukan bukanlah allah yang sejati. Itu hanyalah suatu proyeksi dari pikiran mereka sendiri tentang Allah atau Allah dalam versi mereka sendiri. Itulah sebabnya muncul berbagai macam agama yang berbeda yang semuanya mengklaim dirinya adalah yang paling benar. Tetapi Allah yang sejati hanya dapat dikenal jika dan hanya jika Dia menyatakan diri-Nya melalui firman. Tidak ada orang bisa datang kepada Allah tanpa panggilan dari-Nya. 

Ada 2 jenis panggilan, yaitu panggilan eksternal dan internal. Panggilan eksternal adalah panggilan melalui penyampaian berita Injil. Di dalam banyak kejadian kita bisa melihat bahwa panggilan eksternal tidak secara langsung diikuti oleh panggilan internal yang diikuti oleh kelahiran baru (panggilan efektif). Banyak orang sudah mendengar berita Injil sejak lama, tetapi masih belum dilahirbarukan. Tetapi meskipun tidak setiap kali menghasilkan kelahiran baru, panggilan eksternal tetap saja menjadi proklamasi kasih Allah kepada orang-orang dunia. Firman Allah bagaikan pedang bermata dua akan selalu memisahkan orang-orang percaya yang akan menerima keselamatan dan orang-orang yang tidak percaya yang akan menerima penghakiman murka Allah. Firman Tuhan tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Yes. 55:11 “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” 

Selain melalui Injil, panggilan eksternal juga bisa dilakukan melalui wahyu umum. Sebenarnya jika para ateis mau jujur dengan dirinya sendiri, ketika mereka melihat dunia ini, mereka bisa melihat bahwa ada sesuatu kekuatan yang besar yang ada dibaliknya. Suatu kekuatan yang mencipta dan memelihara. Seperti dikatakan di Roma 1:19-20 “apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Mereka tahu tapi menolak untuk percaya. Tetapi panggilan melalui wahyu umum ini tidak menyelamatkan. 

Panggilan eksternal yang menyelamatkan hanya datang melalui Injil Kristus Yesus. Tetapi panggilan ini tidak selalu menjadi panggilan efektif, yaitu panggilan yang menghasilkan pertobatan. Hanya Roh Kudus yang menerapkan Firman itu di hati manusia sehingga seseorang bisa bertobat. Firman yang disertai oleh Roh Kudus adalah syarat terjadinya panggilan efektif. Dan ini hanya terjadi pada orang-orang pilihan saja. Jadi karya keselamatan Allah terjadi, mutlak merupakan karya Allah sejak semula. Tidak ada bagian manusia sama sekali. Matius 22:14 menulis, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”. Ayat ini menunjuk suatu panggilan eksternal kepada banyak orang. Panggilan ini adalah tawaran keselamatan dalam Kristus Yesus bagi orang berdosa. Panggilan yang tulus dari Allah bagi manusia untuk menerima Kristus melalui iman dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Tetapi tidak semua yang dipanggil dipilih, melainkan hanya mereka yang sudah ditentukan untuk diselamatkan maka Roh Kudus akan hadir dan mengaplikasikan firman itu di hati mereka sehingga mereka bisa percaya.

Panggilan eksternal bersifat umum dan universal disampaikan kepada setiap bangsa di dalam sejarah waktu. Panggilan ini tidak membeda-bedakan apapun saja, tua-muda, kaya-miskin, pintar-kurang pintar, bangsa apa saja, dimana saja, kapan saja. Alkitab mengajarkan bahwa meskipun panggilan ini diberitakan kepada banyak orang, tetapi tidak semua orang akan berbalik. Tuhan Yesus jelas mengetahui siapa orang pilihan yang diberikan kepada-Nya, tetapi Dia tidak membatasi panggilan tersebut. Jadi tidak semua panggilan menghasilkan pertobatan. Panggilan Tuhan adalah panggilan yang tulus, bukan sekedar “basa-basi”. Melalui panggilan eksternal, Allah menyatakan diri-Nya, Allah yang berdaulat dan berkuasa. Ketika manusia berdosa, Allah tetap memiliki hak untuk menuntut ketaatan mutlak dari umat-Nya. Allah meneguhkannya dengan memberikan pengampunan atau menghukum orang berdosa.

Untuk direnungkan: Apakah saudara dan saya pernah mengalami panggilan seperti ini? Apakah Firman yang disampaikan menggerakkan hati saudara dan saya? Bagaimana respon anda?

Soli deo Gloria.

Mematikan Dosa (2)

Sadarkah kita bahwa seringkali kita tertipu oleh setan? Ketika kita bernyanyi memuji Tuhan, menikmati persekutuan dengan saudara-saudara seiman, bahkan pada saat terlibat dalam pelayanan, disaat yang sama kita hidup didalam jerat dosa. Baik itu dosa seksual, dosa dalam hal keuangan, dosa kesombongan, dosa ketidaktaatan dan sebagainya. Berapa banyak anak muda yang dari luar terlihat baik tetapi disaat yang sama jatuh kedalam pornografi dan perzinahan? berapa banyak orang yang terlihat murah hati tapi disaat yang sama hatinya terjerat oleh uang? jika kita tidak mematikan dosa, maka dosa akan mematikan kita (John Owen).

Banyak orang berpikir cara untuk mematikan dosa adalah dengan berpuasa, bermeditasi, pergi ke gunung menyendiri, sampai pada tindakan ekstrim seperti melukai diri sendiri. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa mematikan dosa bukan hanya mengenai dosa yang terlihat saja tetapi juga dosa yang berakar didalam hati.

Perhatikan 2 aspek penting dalam mematikan dosa:

  1. Lahir Baru. Lahir baru terjadi ketika Kristus bertahta sebagai Raja didalam hati dan hidup kita. Bayangkan sebuah kursi tertinggi didalam hati tempat dimana seseorang/sesuatu memerintah hidup kita. Dulu kitalah yang duduk dikursi itu. Kita hidup seturut dengan keinginan kita dan yang terpenting adalah pikiran, kehendak dan diri kita sendiri. Tetapi ketika kita turun dan Kristuslah yang naik dan duduk dikursi itu, maka Dialah yang menjadi Raja didalam hati dan hidup kita dan kita mau taat kepadaNya. Tanpa Kristus bertahta didalam hati kita, kita tidak akan dapat mematikan dosa,
  2. Pertumbuhan rohani. Ketika kita bertumbuh rohani, maka Roh Kudus yang bekerja didalam diri kita memampukan kita untuk mematikan dosa. Semakin mengenal Kristus dan kemuliaan-Nya, maka kita akan semakin peka terhadap dosa.

Itulah sebabnya mematikan dosa adalah buah sekaligus tugas kita. Buah artinya proses mematikan dosa tidak akan terjadi tanpa Kristus dan Roh Kudus bekerja di dalam hidup kita terlebih dahulu (Roma 8:1-13) dan disebut sebagai tugas karena mematikan dosa adalah kewajiban setiap orang percaya yang harus dilakukan terus menerus sehingga natur berdosa tidak dibiarkan terpuaskan (Galatia 5:16).

Maukah saudara sungguh-sungguh mematikan dosa? jangan tertipu oleh setan.

Mintalah Roh Kudus memberikan kuasa untuk mematikan dosa, mulai dari dosa yang ada didalam hatimu.

Pengajaran Kaum Puritan Mengenai Pekerjaan Sehari-hari

Menurut Saudara, apa itu makna pekerjaan? Sebagai orang percaya, bagaimanakah harus kita menanggapi karir dan apa yang Alkitab ajarkan tentang ini?

Ini selalu menjadi pertanyaan bagi kita, terutama di dunia yang penuh pilihan ini. Bagaimana tidak? Sebagian besar hidup kita akan kita dedikasikan untuk bekerja (diluar tidur)! Tetapi Alkitab pun menyatakan di Kejadian 1:28 dan Kejadian 2:15, bahwa Allah menetapkan manusia untuk bekerja di dunia yang Dia sendiri ciptakan. Di dalam anugerah Tuhan, kita boleh belajar dari saksi-saksi iman seperti kaum Puritan tentang bagaimana menggenapkan panggilan Tuhan di dalam pekerjaan sebagai orang percaya.

Kaum Puritan adalah kaum Protestan Inggris pada abad ke 16 dan 17 yang menetapkan prinsip teologia Reformed dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pekerjaan mereka sangat praktis; pengajaran mereka Alkitabiah, dan sungguh bermakna. Salah satu pengajaran mereka yang praktis adalah tentang pekerjaan. Bagaimana cara kita mencari pimpinan Tuhan di sini? Mari kita telusuri sama-sama.

Mari kita coba pikirkan pertanyaan ini: “Ke mana Tuhan sudah memanggilku?”
Sebagai orang Kristen, panggilan objektif kita dari Tuhan selalu mendahului kesadaran kita. Jadi, pekerjaan bukan suatu hal yang terpisah dari relasi kita dengan Tuhan, tetapi sebagai sesuatu yang kita akan lakukan hampir seluruh hidup kita, adalah aktivitas ‘rohani’ pula! Kita sudah punya panggilan kita yang kelihatan jelas. Kita yang adalah orang Kristen, jemaat gereja, seorang anak, mahasiswa, mungkin orang tua dan seorang teman – semua ini adalah panggilan yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita. Maka, dalam konteks seperti ini, tiga hal penting ini baik untuk kita pikirkan mengenai kehendak Tuhan bagi pekerjaan kita.

1. Pekerjaan apa yang aku inginkan?

Allah adalah Allah yang ‘bahagia/menyenangkan’ (‘a happy God’ – 1 Tim 1:11), bukan Allah yang mengekang. Di dalam Anak-Nya, Yesus Kristus, dan melalui Roh Kudus-Nya, Dia mau membentuk hati kita untuk mengingini pekerjaan yang Dia panggil kita untuk kerjakan, dan bukan hanya itu – untuk menikmatinya! Seorang Puritan, Richard Steele, menyatakan: Allah memanggil setiap manusia untuk melayaninya di panggilan tertentu di dunia ini untuk kebaikan diri mereka dan kebaikan masyarakat, dan telah menentukan bagi tiap-tiap orang posisi mereka. Tuhan mau umat-Nya bekerja dengan ‘gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.’ (Ibrani 13:17)

Tetapi perlu diingat, keinginan itu bukan panggilan. Sangat gampang bagi kita untuk menganggap keinginan yang Tuhan berikan sebagai suatu panggilan – memang aspirasi itu penting, tetapi itu bukanlah keseluruhan suatu panggilan. Kita butuh dua hal lagi, yaitu peneguhan dari orang lain dan kesempatan yang Tuhan berikan.

2. Apa orang-orang di sekitar meneguhkan panggilan itu?

Pertanyaan selanjutnya objektif, yaitu tentang kemampuan kita. Apakah kita sendiri bisa melihat (meski kecil) kita bisa memenuhi kebutuhan orang lain dengan bekerja di bidang yang kita tuju? Dan lebih daripada itu, apakah orang-orang yang mengenal dan mengasihi kita setuju dengan arah ini? Apa mereka pikir kita ini ‘fit’ untuk pekerjaan yang kita mau?

William Perkins, seorang Puritan mengatakan: Inti kehidupan kita adalah ‘melayani Tuhan dengan melayani manusia di pekerjaan dimana kita dipanggil.’ Panggilan sejati kita bukan dibentuk dari kemauan kita sendiri, seperti apa yang orang jaman sekarang katakan – follow your heart! Don’t let your dreams be dreams! – tetapi membentuk hati kita melalui kebutuhan orang lain. Mencari kehendak Tuhan dalam panggilan kita dilakukan dengan mencari dimana aspirasi kita bisa sejalan dengan kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dan uniknya, kesenangan kita dalam pekerjaan itu bertumbuh seturut dengan bukti kelihatan yang makin jelas bahwa kita menolong masyarakat dan mereka mengakui usaha baik kita! Sesuatu bukti yang indah, bukan?

3. Arah mana saja yang Tuhan bukakan?

Terakhir, hal yang paling penting (dan yang paling sering dilewati) adalah kesempatan yang jelas Tuhan berikan dan pintu yang Tuhan bukakan secara nyata. Mungkin kita bisa merasa terpanggil, dan orang-orang bisa saja meneguhkan perasaan kita, tetapi sampai Tuhan membuka pintu itu, kita tidak dipanggil 100%.

Disinilah kita bisa lihat dengan jelas providensia Allah! Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Allah berkuasa atas segala sesuatu – dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia (Roma 11:36). Jadi, kalau ada panggilan jelas dalam hidup yang memenuhi aspirasi kita, misal tawaran kerja, dan di teguhkan oleh persetujuan orang yang mengenal kita, kita boleh ambil ini sebagai konfirmasi ‘panggilan’ Tuhan.

Dan kita boleh mengatakan bahwa panggilan ini dari Dia karena Tuhan sendiri, melalui providensia-Nya mempersiapkan semuanya! Dia yang memulai proses ini dengan menanam keinginan yang baik untuk membantu orang lain; dan Dia meneguhkan panggilan itu melalui kemampuan yang Dia tanam didalam kita dan peneguhannya oleh teman-teman kita; dan sekarang Tuhan sendiri menkonfirmasi panggilan itu dengan membuka pintu kesempatan itu lebar-lebar – Tuhan-lah, bukan manusia yang memberi pekerjaan!

Tuhan tidak hanya memberi kepada kita hamba Tuhan, misionari, pengkhotbah dan penilik gereja, tetapi Dia juga memberi kita dokter dan petani. Dalam anugerah umum-Nya, Dia memberi guru, pengusaha, dan pedagang bagi orang yang benar dan tidak. Dan terlebih lagi, Tuhan memberi kita kepada dunia untuk melayani-Nya, memuliakan-Nya, dan menjadi saksi bagi Dia di dunia ini.

Ordo Salutis: Pendahuluan

Topik keselamatan adalah salah satu topik yang menarik untuk banyak orang, baik di dalam maupun di luar kekristenan. Keselamatan biasanya selalu dikaitkan dengan kehidupan yang kekal. Manusia pada dasarnya menyadari bahwa hidup itu hanya sementara saja dan setiap orang pada dasarnya mau masuk surga. Nah setelah kematian datang menjemput, bagaimana selanjutnya?

Topik keselamatan menjadi orientasi dari banyak agama dan kepercayaan di dunia. Banyak agama mencoba menjelaskan seharusnya bagaimana manusia harus menjalani hidup agar bisa masuk ke surga. Semua dari mereka menekankan pada perbuatan manusia. Manusia memiliki ide bahwa jika dia berbuat ini itu maka Tuhan akan berkenan. Banyak agama yang memakai semacam sistem nilai seperti di dalam sekolah. Berbuat ini dan itu maka akan mendapatkan suatu nilai, yang nanti pada akhir jaman akan dihakimi oleh Tuhan. Bahkan ada yang memakai sistem “remedi” atau “her” jika nilainya tidak cukup. Sistem pengajaran sekolah diterapkan pada Kerajaan Allah. Keselamatan yang merupakan inisiatif dan karya Tuhan tetapi manusia pikir mereka bisa menentukan aturannya. Tetapi yang kita ketahui bahwa agama-agama yang pada dasarnya hanya merupakan respon manusia terhadap wahyu umum Allah. Tidak ada agama diluar Kristen yang bisa menyelamatkan karena tidak ada jalan kepada Bapa tanpa melalui Yesus Kristus (Yohanes 14:6).

Yesus Kristus satu-satunya jalan kepada keselamatan adalah suatu kebenaran, tetapi juga sesuatu yang menimbulkan banyak perdebatan. Banyak orang lalu menuduh kekristenan mau menang sendiri, oh hanya kamu yang benar, jadi yang lain salah semua. Kamu sombong, tidak menghargai orang lain dsb. Tetapi jika kita mempelajari Alkitab dengan seksama, memang itu adalah kebenaran yang dinyatakan. Pengenalan akan Allah yang sejati melalui Firman-Nya mutlak diperlukan untuk dapat mengerti jalan Tuhan. Dan dengan pengenalan akan Allah yang sejati, maka barulah kita dapat mampu berespon dengan tepat terhadap-Nya. Di dalam anugerah Tuhan, kiranya kita bisa merenungkan hal ini bersama-sama.

Ordo Salutis atau dalam bahasa Inggrisnya “The Order of Salvation” atau dalam bahasa Indonesianya “Urutan Keselamatan” adalah suatu proses dimana karya keselamatan Kristus Yesus diterapkan di dalam hati orang berdosa menjadi percaya. Ini adalah karya Roh Kudus yang bekerja secara bertahap dan membentuk suatu urutan yang logis. Perlu diperhatikan bahwa proses ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan atau juga dibolak-balik. Tidak juga berarti bahwa proses ini adalah merupakan suatu tahapan waktu karena elemen-elemennya berkaitan erat dan mereka terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Alkitab berbicara mengenai setiap elemen-elemen dari Ordo Salutis di dalam beberapa bagian. Satu bagian yang paling jelas adalah di dalam Roma 8:29-30 yang berbunyi: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

Ketika kita mengerti hal ini, maka kita akan menyadari bahwa Tuhanlah yang berinisiatif , merencanakan, menggenapi, dan menganugerahkan keselamatan bagi manusia. Biarlah kita boleh melihat dan bersyukur akan kasih-Nya yang begitu besar kepada kita. Soli deo gloria

Oleh: AH

Quote of the day

Tidak ada kemuliaan yang lebih besar bagi manusia selain untuk memuliakan Allah.

J. I. Packer