Dunia untuk Kita atau Kita untuk Dunia?

Tahun 2020 merupakan dekade baru yang sangat menggemparkan dunia. Semua ini terjadi karena virus yang tidak terlihat yang disebut Corona. Siapa pun terkena dampak dan imbas dari virus ini, tanpa terkecuali. Negara maju, negara berkembang, negara manapun, semua terguncang dengan adanya virus kecil ini.

Bagaimana dengan kita? Ya, pasti kita semua terkena imbasnya. Bukan hanya di dalam hal pekerjaan atau sekolah yang membuat kita harus menyesuaikan diri tinggal di rumah aja, tetapi secara sadar atau pun tidak, muncul adanya kekhawatiran di dalam diri kita. Ketakutan-ketakutan akan bahaya virus yang mengancam membuat kita berpikir panjang untuk keluar rumah atau parno kalau dekat orang yang tiba-tiba batuk atau bersin.

Virus ini sudah membawa banyak perubahan dalam diri kita. Kita seperti dipaksa berdamai dengannya dengan cara hidup dalam new normal. Keadaan dunia ini seakan-akan mengubah semua rencana dan pola keseharian kita menjadi hal yang baru. Sebagai contoh, dulu ketika kita pulang dari kegiatan apapun di luar rumah, tidak ada dorongan untuk langsung mandi atau cuci tangan. Namun, sekarang hal itu jadi kebiasaan baru yang wajib dilakukan untuk melindungi diri kita dan orang-orang di rumah.

Apapun dampak dari virus ini, ego dan masalah pribadi sering sekali jadi pokok doa kita yang terutama. Permohonan akan perlindungan Tuhan atas kesehatan, karir, dan semua jalan kita di dunia ini. Hal ini sangat wajar, tetapi pernahkah kita terketuk untuk mendoakan orang lain, bahkan orang yang tidak kita kenal? Ketika kita melihat berita tentang dunia dan semua ‘tragedi’ yang terjadi ini, pernahkah kita mohon pada Tuhan untuk memberi belas kasihan pada dunia ini?

“Sebentar, masalah pribadi saya saja belum kelar, apalagi mendoakan orang lain dan dunia?” pikiran inilah yang sering ada dalam hidup kita dan jadi fokus utama. Tuntutan hidup membuat kita berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik sehingga kita seringkali lupa apa tujuan utama hidup kita di dunia ini. Kita bekerja keras untuk karir yang lebih baik, kita belajar mati-matian untuk menjadi yang terbaik di angkatan, belum lagi masalah finansial, belum lagi planning masa depan, ini, itu, tetapi apakah ‘hanya’ itu yang Tuhan mau untuk kita kerjakan?

Bagaimana kalau kita sendiri tidak sadar bahwa Tuhan mau pakai kita dan kita justru abai akan panggilan-Nya?

Dari semua itu, mari kita pikirkan peringatan keras Mordekhai, orang tua angkat dari Ratu Ester, saat Ratu Ester bersikap tidak acuh terhadap ratapan yang sedang diderita oleh bangsa Yahudi waktu itu. “… Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Ester 4:13-14). Peringatan ini sangat menampar hati saya. Sebagai manusia biasa, Ester pasti memiliki ambisi dan pergumulannya sendiri yang membuatnya abai terhadap bangsanya. Saya percaya, kita semua tahu bahwa Allah pasti punya cara. Allah mampu menggunakan cara apapun, lebih dari sekedar magic, untuk memberi kelegaan dan kelepasan bagi umat-Nya, tetapi bagaimana kalau kita sendiri tidak sadar bahwa Tuhan mau pakai kita dan kita justru abai akan panggilan-Nya? Kitab Ester memang diakhiri dengan sukacita kebebasan bangsa Yahudi akan musuh-musuhnya. Akhir yang bahagia ini tidak akan terjadi jika Allah tidak menggerakkan Ester untuk berespon terhadap peringatan keras Mordekhai yang kemudian diikuti oleh perkabungan, puasa, dan doa yang dilakukan seluruh umat Yahudi.

Nah, kalo gitu, Allah kan pasti punya cara, in the end juga mereka bahagia, ngapain saya harus berdoa? Ntar juga kelar nih pandemik. Well, let’s see. Bisa jadi pandemik ini tidak akan berakhir. Bisa jadi besok ketika kita bangun di pagi hari sudah tidak ada wabah Corona. Segala sesuatu bisa terjadi di luar kendali kita, tetapi perlu kita cermati dan sadari bahwa cara kerja Allah bukan dengan kita berdiam diri saja.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada Daniel. Daniel merupakan nabi besar yang dengan rendah hati mempelajari kitab, termasuk kitab Yeremia. Ia menemukan akan adanya jumlah tahun yang berlaku atas timbunan puing Yerusalem, dimana itu artinya akan ada pembebas untuk bangsanya, tetapi pembebasan itu belum kunjung datang. Menanggapi hal tersebut, Daniel bukannya bersikap tidak acuh, tetapi ia justru mengarahkan mukanya pada Tuhan Allah untuk mendoakan, memohon sambil berpuasa, dan mengenakan kain kabung serta abu (Daniel 9:3). Dan Allah menggenapi janji-Nya dengan memberikan Pembebas, tidak hanya untuk bangsa Yahudi saja, tetapi juga seluruh dunia, yaitu Dia yang kita sebut dengan Mesias. Allah memang tidak akan mengingkari janji-Nya, tetapi Ia mau kita berespon dengan tepat terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita, salah satunya dengan cara berdoa.

Saya berdoa karena saya tidak bisa menahan diri. Saya berdoa karena saya tak berdaya. Saya berdoa karena kebutuhan mengalir keluar dari saya sepanjang waktu, ketika bangun dan tidur. Itu tidak mengubah Tuhan. Ini mengubah saya. – C. S. Lewis

Berdoa, berpuasa, dan memohon akan belas kasihan Allah merupakan bagian kita. Sekali lagi, hal ini bukan bertujuan untuk membuat Allah bekerja, BUKAN, tetapi ini untuk menggerakkan, membangun, dan mendorong iman kita terhadap Dia. Lebih daripada itu, kita juga harus sadar kepada siapa kita memohon. Allah adalah Allah yang maha benar, suci, dan tidak kompromi terhadap dosa. Oleh karena itu, doa dan permohonan kita juga harus diikuti dengan menghilangkan our righteousness, merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui betapa berdosanya dan kebergantungan kita akan Dia. Betapa sombongnya kita untuk menjadikan ‘aku’ sebagai yang terutama. Mintalah pengampunan akan dosa kita dan dosa umat-Nya, walaupun kita sebenarnya tidak layak, tetapi kita mau lakukan ini demi kemuliaan Tuhan nyata dalam hidup kita baik secara individu maupun komunal.

Jadi, dunia untuk kita atau kita untuk dunia? Menurut saya, ini merupakan sebuah relasi unik. Allah memang menciptakan dunia ini untuk manusia, tetapi Allah juga mempercayakan sebuah tugas untuk manusia, yaitu Allah mau kita berkuasa atas bumi ini (Kejadian 1:26). Definisi kekuasaan ini menjadi tercemar karena manusia jatuh ke dalam dosa dan merasa kekuasaan itu seperti ‘raja kecil’ yang bisa berbuat semaunya. Tetapi sebenarnya “berkuasa” berarti mengelola, menjaga, memelihara, dan memperhatikan, bukan sebaliknya. Ia memanggil kita, mengingatkan kita lagi dan lagi akan tugas yang telah Ia percayakan pada kita terhadap dunia ini.

Pandemik ini seharusnya manjadi peringatan bagi kita semua. Mungkin apa yang dapat kita lakukan saat ini terbatas, tetapi bukan berarti kita bersikap seolah-olah kita berada pada belahan dunia yang lain. Ya, adalah kewajiban kita untuk menjalankan protokol kesehatan, tetapi tugas kita bukan sebatas itu saja. Kita harus ingat, Tuhan mau kita turut memperhatikan dan mendoakan dunia ini. Milikilah hati yang berdoa dan memohon belas kasihan Tuhan bagi dunia, bangsa, gereja, keluarga, dan orang lain. Mari kita menjalankan tugas kita untuk memperhatikan dunia, melakukan apa yang Allah mau untuk kita lakukan bagi dunia ini, dan memohon belas kasihan Allah melalui kesungguhan hati mendoakan keadaan dunia ini.

Oleh: EG

Image source: Comemo

Allah yang Cemburu

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Allah itu cemburu? Bukankah cemburu itu sesuatu yang tidak baik? Ketika kita berbicara mengenai Allah, tentu kita membayangkan hanya karakter baik saja yang terdapat dalam diri Allah, dan cemburu bukanlah sesuatu yang kita pasangkan pada karakter Allah. Tetapi tidak demikian kata Alkitab. Ketika Allah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir melalui Sinai dan memberikan hukum dan perjanjian-Nya, kecemburuan-Nya adalah salah satu karakter yang diajarkan Allah kepada mereka. “… sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu … (Keluaran 20:5b). Dan beberapa saat kemudian Allah memberi tahu Musa, “… karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburu, adalah Allah yang cemburu. (Keluaran 34:14b). Pernyataan diri Allah tentang nama-Nya di dalam Alkitab selalu menyatakan mengenai natur dan karakter-Nya.

Lalu bagaimana kita tahu bahwa kecemburuan Allah adalah sesuatu yang baik dalam diri Allah kalau bagi manusia kecemburuan adalah sesuatu yang dipandang buruk? Jika Allah itu sempurna dan layak kita sembah, bagaimana kita dapat menyembah Allah dalam kecemburuan-Nya?

Untuk menjawabnya, mari kita melihat dua hal ini:

  1. Deskripsi tentang Allah dalam Alkitab dinyatakan dalam bahasa yang diambil dalam keseharian hidup manusia.

Allah merendahkan diri-Nya dengan memakai bahasa yang dapat dipahami manusia karena itulah satu-satunya medium akurat yang dapat mengkomunikasikan hal-hal mengenai Dia kepada kita. Namun, yang harus kita ingat adalah ketika bahasa manusia sehari-hari dipakai untuk menggambarkan Allah, maka tidak ada batasan-batasan yang terjadi pada natur manusia terdapat pada penggambaran Allah. Dan elemen dari kualitas manusia yang berasal dari efek dosa juga tidak ada di dalam penggambaran Allah, hingga seluruh karakter Allah adalah karakter yang suci. Kecemburuan Allah bukan seperti kecemburuan manusia tetapi cemburu yang suci.

Kecemburuan Allah mendorong Allah untuk menghakimi orang-orang yang tidak setia dan jatuh kepada dosa dan ilah-ilah. Namun, pada saat yang sama Allah juga akan menebus dan membangkitkan umat pilihan-Nya dari penghakiman. Dan pada akhirnya kecemburuan Allah adalah kecemburuan bagi nama-Nya yang kudus agar Allah dipermuliakan di antara bangsa-bangsa.
  1. Ada dua jenis kecemburuan di tengah-tengah manusia.

Yang pertama adalah cemburu yang jahat. Di dalam Bahasa Inggrisnya adalah envy. Suatu ekspresi dari keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak dia punya dan ada perasaan benci atau ketidaksenangan karena orang lain memiliki yang dia tidak punya. Perasaan ini muncul dari ketamakan yang berasal dari harga diri manusia dan dapat menimbulkan suatu obsesi yang berbahaya.

Tetapi ada jenis kecemburuan kedua, di dalam Bahasa Inggris adalah jealousy, yaitu kecemburuan untuk melindungi suatu hubungan kasih yang ada di dalam suatu kovenan/perjanjian (misalnya dalam relasi suami-istri) dan mengambil tindakan ketika relasi di dalam kovenan itu dirusak. Tindakan ini bukan muncul sebagai reaksi buta dari harga diri yang terluka, tetapi buah dari afeksi pernikahan, dan usaha untuk menjaga hubungan yang eksklusif dalam pernikahan.

Alkitab secara konsisten melihat kecemburuan Allah dalam jenis yang terakhir ini, yaitu sebagai suatu aspek dalam relasi kasih dalam kovenan Allah dengan umat-Nya. Di dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa Allah melihat kovenan/perjanjian-Nya sebagai bentuk pernikahan yang suci antara Allah dan umat-Nya yang menuntut adanya kasih yang tak bersyarat dari Allah dan kesetiaan dari umat-Nya.

Jadi, apa yang dimaksud oleh Allah ketika Dia mengatakan kepada Musa bahwa Dia adalah Allah yang cemburu? Allah menginginkan mereka yang telah dikasihi dan ditebus-Nya untuk setia sepenuhnya bagi-Nya dan Dia akan menghukum siapa saja yang mengkhianati cinta-Nya dengan ketidaksetiaan.

Kecemburuan Allah mendorong Allah untuk menghakimi orang-orang yang tidak setia dan jatuh kepada dosa dan ilah-ilah. Namun, pada saat yang sama, Allah juga akan menebus dan membangkitkan umat pilihan-Nya dari penghakiman. Dan pada akhirnya kecemburuan Allah adalah kecemburuan bagi nama-Nya yang kudus agar Allah dipermuliakan di antara bangsa-bangsa.

“Allah yang cemburu tidak akan puas dengan hati yang mendua. Kita harus mengasihi dan menempatkan Dia sebagai yang pertama dan terutama.” – Charles Haddon Spurgeon

Maka, ketika kita mengetahui bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu karena kita adalah umat yang dikasihi dan ditebus-Nya, kita dapat berespon dalam 2 cara, yaitu:

  1. Miliki hati yang sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan.

Adanya hasrat di dalam hati untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Hati yang 100% mengarah hanya kepada-Nya. Hasrat dan keinginan ini tidak secara alami ada pada diri manusia. Hanya Roh Kudus saja yang dapat membuat hati kita berpaling kepada Tuhan dan menginginkan apa yang diinginkan Tuhan. Orang yang hatinya 100% untuk Tuhan mempunyai satu hasrat dalam dirinya, yaitu hasrat untuk menyenangkan hati Tuhan dan memperluas kerajaan Allah sehingga nama Tuhan dapat dipermuliakan.

  1. Jangan merebut kemuliaan Tuhan.

Karena Allah yang cemburu bagi nama-Nya yang kudus tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada orang lain. Hanya Tuhan saja yang harus ditahtakan sebagai raja dalam hidup dan dalam hati kita. Jika kita memberikan tahta itu kepada orang lain atau hal lain yang menjadi keinginan hati kita selain Tuhan, maka itu sudah menjadi berhala/ilah dalam hidup kita. Dan secara tidak sadar kecenderungan hati kita sudah berpaling kepada berhala/ilah itu, dan kita sudah menggeser kedudukan Allah sebagai raja di dalam hidup kita.

Bagaimana dengan diri kita? Mari kita teliti hati kita dan minta Tuhan untuk menyelidiki dan menyingkapkan isi hati kita. Dan mintalah belas kasihan-Nya untuk Tuhan boleh bekerja dalam hidup kita sehingga nama-Nya dipermuliakan dalam hidup kita.

Oleh: MA

Image source: Wikipedia

Jangan Kembali ke Mesir

Pada zaman Kerajaan Mesir Kuno, kekuatan perang atau kegagahan pasukan militer dari satu bangsa diukur dari jumlah kuda yang dimiliki, dan Mesir adalah yang paling terkenal dengan kudanya. Ketika Firaun, raja Mesir itu, mendengar bahwa umat Israel yang dipimpin oleh abdi Allah yang bernama Musa telah lari meninggalkan negerinya, maka ia pun mengejar mereka dengan segala kuda, keretanya, dan orang-orang berkuda (Keluaran 14). Tercatat dalam 1 Raja-Raja 10:28 bahwa kuda untuk raja Salomo di tengah-tengah puncak pemerintahannya juga didatangkan dari Mesir karena kuda yang terpilih dan terbaik pada masa itu berasal dari Mesir.

Alkitab dengan jelas menuliskan bahwa Allah melarang bangsa Israel kembali ke Mesir untuk mendapatkan banyak kuda (Ulangan 17:16). Pernahkah kita berpikir mengapa Allah melarang bangsa Israel kembali ke Mesir? Mengapa Allah menolak bangsa Israel untuk mendapatkan banyak kuda?

Bagi seorang raja, memperkuat kota pertahanannya adalah sesuatu yang baik, tetapi tanpa disadari hal ini bisa menjadi celah masuknya dosa. Demi memperkuat kerajaannya, maka diperlukan kuda-kuda perang. Demi memperoleh kuda-kuda perang yang terbaik, maka harus dijalani perdagangan dengan Mesir. Demi menjalani perdagangan, maka harus ada hubungan yang dibangun kembali dengan Mesir. Kemudian raja menghitung seluruh jumlah kuda-kuda yang telah diperolehnya, keserakahan pun muncul di dalam hati raja. Keserakahan yang menyebabkan hati raja tidak puas dengan apa yang ada. Keserakahan yang membebani raja untuk mengejar lebih banyak kuda. Akibatnya, perdagangan dengan Mesir semakin meningkat. Utusan-utusan dari raja ke Mesir semakin bertambah. Hubungan yang dibangun kembali dengan Mesir semakin kuat.

Lebih daripada itu, persekongkolan raja dan utusan-utusannya dengan Mesir berarti segala penyembahan berhala, kebiasaan buruk, dan bermacam-macam kejahatan lainnya yang membuat Mesir itu terkenal, terpapar secara terbuka di depan mereka. Perlahan-lahan mereka dipengaruhi oleh Mesir. Perlahan-lahan mereka ditarik oleh cara hidup Mesir. Mata raja yang tertuju pada Mesir perlahan-lahan menghampiri kemuliaan dunia dan mengasingkan dari kemuliaan Allah. Mata raja yang awalnya hanya terpaku pada kuda-kuda Mesir perlahan-lahan mendekati kemuliaan diri dan menjauhi kemuliaan Allah, sampai akhirnya raja tidak lagi mencari kemuliaan Allah.

Kedahsyatan dosa yang paling menakutkan adalah menggantikan kemuliaan Allah dengan kemuliaan ciptaan-Nya, menggeser kemuliaan Allah dengan kemuliaan dunia, menukar kemuliaan Allah dengan kemuliaan diri.

Sadarkah kita bahwa sang raja tersebut adalah diri kita? Raja yang melakukan kerja sama dengan Mesir untuk memperbanyak kuda-kudanya adalah gambaran kita yang sedang berkompromi dengan dunia yang sudah rusak ini untuk memuaskan keinginan hati kita. Raja yang telah membebani dirinya dan utusan-utusannya dengan urusan kuda adalah kita yang sedang mengenakan beban yang tidak perlu dan sia-sia pada diri kita sendiri demi mencapai kemauan kita.

Yesaya berseru, “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN. Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama.” (Yesaya 31:1, 3).

Perhatikan baik-baik cara kerja setan yang begitu lihai. Setan akan merayu kita setahap demi setahap dan tidak akan berhenti sampai kita meninggalkan Allah. Kedahsyatan dosa yang paling menakutkan adalah menggantikan kemuliaan Allah dengan kemuliaan ciptaan-Nya, menggeser kemuliaan Allah dengan kemuliaan dunia, menukar kemuliaan Allah dengan kemuliaan diri. Ini merupakan tragedi terbesar bagi umat manusia.

Allah yang menciptakan kita adalah Allah yang mengenal kita jauh melebihi kita mengenal diri sendiri. Allah mengetahui kondisi hati kita yang cenderung diperdaya oleh akal setan dan Allah menghendaki supaya kita terhindar dari jebakan setan. Oleh sebab itu, Allah yang telah membebaskan umat Israel dari Mesir berfirman kepada umat-Nya, “... Janganlah sekali-kali kamu kembali melalui jalan ini lagi.” (Ulangan 17:16). Allah juga, yang telah memerdekakan kita dalam Kristus dari dosa dan kematian, mengingatkan kita janganlah sekali-kali kita kembali melalui jalan yang menuju kebinasaan ini.

Alkisah, seorang istri dari duta besar Inggris ingin bersaing di salah satu kontes kecantikan teragung di kota Berlin, Jerman. Di tengah perjalanannya dari Inggris ke sana sayangnya dia membuka kalung yang dia kenakan dan kehilangan satu mutiara yang mahal di suatu tempat. Mungkin mutiara itu bisa ditemukan kembali jika pencarian yang serius dilakukan pada saat itu, tetapi prosesi akbar akan segera mulai, dan jika mereka tidak tiba di sana pada waktunya, maka istri duta besar akan kehilangan tempatnya di kontes kecantikan tersebut. Karena mereka menyadari bahwa kontes itu lebih penting daripada mutiara yang hilang, mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan.

Kita akan berada dalam bahaya yang sama jikalau kecelakaan seperti ini harus terjadi dalam serbuan yang tidak berkesudahan dari tahun-tahun hidup kita. Mutiara apa yang hilang dalam hidup kita? Apakah itu uang? Apakah itu kekayaan? Apakah itu kemakmuran materi? Apakah itu pekerjaan? Apakah itu hak pribadi? Apakah itu ketidakadilan? Apakah itu pujaan manusia? Apakah itu kehormatan dunia? Jangan kembali ke Mesir untuk mencarinya. Jangan kembali ke bayang-bayang kemuliaan dunia ciptaan yang berusaha menawan hati kita dengan segala kemegahannya dan keindahannya, yang berusaha merebut kesadaran dan hasrat kita akan kemuliaan Allah.

Oleh: SP

Image source: Unsplash

Catatan Kekuatiranku – Coronavirus

Halo Teman-teman,

Apa kabarnya semua? Semoga sehat selalu dalam lindungan Tuhan kita, Yesus Kristus.

Di tengah pandemi Corona Virus atau Covid-19 yang sedang dihadapi oleh dunia ini, kita pasti mempunyai perasaan kuatir dan takut. Kita kuatir kalau diri kita atau keluarga mungkin bisa terkena virus itu. Kita bertanya-tanya, “Kapan sih virus ini akan berakhir?”, “Pekerjaan saya aman tidak ya?”, “Bagaimana dengan nasib keluarga saya?”. Saya pribadi juga merasakannya. Kalau boleh jujur bukan hanya di saat sekarang yang juga dirasakan oleh begitu banyak orang, tapi juga di waktu-waktu yang sudah berlalu di dalam hidup saya. Jadi melalui tulisan ini, saya mau berbagi kepada teman-teman apa yang telah menguatkan saya di saat-saat sulit. Berkat rohani ini saya dapatkan setelah mendengar renungan-renungan melalui program radio (podcast) Kristen “Revive Our Hearts” yang dipandu oleh Nancy Leigh deMoss. Beliau juga menulis banyak buku-buku Kristen yang menjadi berkat bagi banyak orang. Kalau kalian mau tahu lebih lagi tentang Nancy, silakan google sendiri ya.

Apa sih kuatir itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sih artinya “takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti”. Rasa kuatir adalah perasaan alami yang bisa dirasakan oleh setiap orang. Tapi, bagaimana kita sebagai orang yang mengaku Kristen harus menyikapinya? Tuhan tahu kalau kita pasti bisa merasakan si rasa kuatir ini, maka Dia menyediakan begitu banyak ayat di Alkitab yang dapat menguatkan kita untuk tidak kuatir. Tapi mungkin ada yang berpikir: “Ah, masa sih cuma dengan membaca suatu ayat kemudian rasa kuatir saya bisa hilang?”  Coba dibaca dulu penjelasan saya di bawah ini.

Di saat yang sulit, lihatlah ke atas

Teman-teman, saya seringkali jatuh di dalam hal ini. Kalau saya sedang mengalami hal yang susah, saya langsung berpikir di dalam kepala saya, bagaimana untuk menyelesaikan masalah itu secepatnya. Kalau sudah lama mikir tapi belum dapat juga jalan keluarnya, saya segera mencari keluarga atau teman-teman saya atau siapa pun saja yang saya percaya untuk memberitahukan masalah yang sedang saya hadapi.  Saya berharap agar mereka bisa memberi jalan keluar yang instan agar hati saya bisa segera merasa nyaman dan berkata, “Syukurlah sudah selesai masalahnya.” Dari dua hal ini apa yang bisa teman-teman lihat? Ya, saya tidak mencari Tuhan terlebih dahulu. Saya bergantung kepada diri saya sendiri, sama keluarga atau teman-teman, bukan Tuhan. Loh, memangnya tidak boleh meminta pendapat dari orang lain? Tentu saja boleh, tapi terlebih dahulu dari semuanya, lihatlah ke atas. Cari wajah Tuhan, mendekat kepada-Nya di dalam doa. Ceritakan apa yang menggelisahkan hati kita, tanya Tuhan apa yang harus kita lakukan, dan mintalah pimpinan-Nya agar kita boleh mendapat jalan keluar yang seturut dengan kehendak-Nya. “Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah” (Mazmur 62:3).

Tuhan kita adalah Tuhan yang setia

Sejak saya lahir sampai sekarang ini Tuhan selalu menyertai, menjagai, melindungi, memberi kesehatan dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidup saya tanpa pernah gagal satu kali pun. Meski saya tidak terlahir dari keluarga yang kaya, tapi saya dapat menyelesaikan studi saya sampai jenjang sarjana dan mempunyai pekerjaan yang baik, itu semua adalah berkat dari kasih setia Tuhan. Kalian tahu tidak? Dia juga Tuhan yang sama yang berjanji kepada Abraham untuk menjadikan keturunannya bangsa yang besar melalui Ishak anak yang dilahirkan Sara pada usia lanjut. Yang memberkati Yakub dan keturunannya dan berjanji untuk menyertai dan melindungi Yakub kemana pun dia pergi.  Yang melindungi bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan di Mesir, yang memilih Daud menjadi raja atas bangsa Israel dan masih banyak lagi. Lihatlah, Allah selalu setia pada janji-Nya. Manusia bisa berubah, namun Tuhan kita tidak akan pernah berubah. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).

Dia adalah Gembala yang baik

Teman-teman, percayakan hidupmu dipimpin oleh Tuhan. Seperti seorang gembala yang berdiri di depan kawanan domba-dombanya dan berjalan melintasi padang rumput, yang dengan siaga menggunakan gada dan tongkatnya untuk melindungi domba-dombanya dari bahaya yang mengancam (Mazmur 23:1-4). Tuhan menyertai orang-orang yang sungguh-sungguh adalah anak-Nya, kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Betul kita tidak bisa melihat Tuhan dengan mata jasmani, tapi Dia ada, itu adalah fakta dan pekerjaan-Nya nyata di dalam hidup kita. Tuhan bekerja melalui orang-orang yang berada di sekeliling kita untuk menjadi saluran berkat Tuhan, melindungi kita dari yang jahat, memberi penghiburan di saat yang susah dan memberi nasihat atau peringatan. Tuhan sumber dari segala berkat dan penghiburan.

“Percayakan hidupmu dipimpin oleh Tuhan”

Berpuas hatilah atas berkat-berkat Tuhan

Jangan kamu kuatir, burung di udara Dia p’lihara
Jangan kamu kuatir, bunga di padang Dia hiasi
Jangan kamu kuatir, apa yang kau makan minum pakai
Jangan kamu kuatir, Bapa di surga mem’lihara

Masih ingat lagu ini? Saya yakin banyak yang tahu dan bahkan suka menyanyikannya. Tapi bagaimana dengan arti di dalamnya? Apakah sudah direnungkan dan diaplikasikan di dalam hidup sehari-hari? Mungkin lebih mudah untuk hanya menyanyikannya ya teman-teman? Seringkali saya juga seperti itu.

Tuhan kita itu Mahatahu. Tidak perlu kita kasih tahu pun, Dia sudah tahu apa saja kebutuhan hidup kita. Eits, sebentar. Kebutuhan, ini adalah kata yang penting. Menurut KBBI artinya adalah “Yang dibutuhkan atau diperlukan”, bukan apa yang kita mau atau inginkan. Oh iya, biasanya nih, apa yang kita mau atau inginkan itu adalah keperluan yang sekunder atau tertier bukan primer, bukan kebutuhan hidup sehari-hari. Coba cek di dalam diri masing-masing, apakah selama ini kita lebih sering meminta yang kita butuhkan atau yang kita mau? Jadi sekali lagi, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, Tuhan berjanji akan memenuhi kebutuhan setiap anak-anak-Nya.

Di dalam doa Bapa Kami, Tuhan mengajarkan agar kita meminta berkat makanan yang secukupnya untuk hari ini. Tuhan tidak berkata, “Berikanlah kami makanan kami untuk satu tahun ke depan.” Apa maksud Tuhan di sini? Dia sesungguhnya berkata, “Bergantunglah kepada-Ku setiap saat. Percayalah kalau Aku sanggup untuk mencukupi kebutuhanmu hari demi hari dan Aku tidak mungkin gagal.” Tuhan ingin mempunyai relasi yang dekat dengan setiap dari anak-anak-Nya, maka Dia mau agar setiap hari kita mendekat kepada-Nya, mengeluarkan isi hati dan permohonan kita di dalam doa. Relasi yang dekat akan semakin mempertumbuhkan iman kita kepada-Nya. Maukah teman-teman?

Apapun yang membuat kita membutuhkan Tuhan adalah suatu berkat

Ketika saya tengah menghadapi suatu pergumulan yang berat mengenai pekerjaan, saya merasa seperti jalan di depan saya gelap dan tidak berujung, kalau istilah kerennya “There is no light at the end of the tunnel”. Saya sudah mencoba untuk mencari jalan keluar dengan segala kemampuan dan nalar manusia saya, yang ternyata sangat terbatas. Sudah tanya sana-sini untuk pendapat, nasihat, atau apapun itu yang saya pikir bisa membantu dan memberi kelegaan. Tapi tetap tidak bisa.  Kemudian Tuhan menyadarkan saya melalui Roh Kudus-Nya yang bekerja di hati saya. “Datanglah pada-Ku, hanya Aku yang mampu memberikan kelegaan itu kepadamu.” Saya kemudian berlutut dan berdoa, “Tuhan, saya tidak mampu untuk menanggung masalah ini dengan kekuatan saya, saya serahkan semuanya kepada-Mu. Kiranya Engkau berbelas kasihan dan memberi saya kelegaan.” “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:29-30).

Apakah Tuhan menjawab doa saya seketika itu juga? Tidak teman-teman. Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu saya. Sampai hari ini saya tetap menunggu jawaban atas doa itu. Dia ingin saya bersabar dan menanti bersama dengan-Nya. Dan melalui pergumulan ini Tuhan memberi berkat luar biasa yaitu kesadaran bahwa saya membutuhkan Dia, “I need Him”. Bahwa saya tidak mampu menanggung masalah dengan kemampuan diri saya sendiri, tapi hanya Tuhan yang mampu. Biarkan Tuhan yang menyelesaikan masalah-masalah itu, Dia Mahakuasa. Yang penting kita mau taat kerjakan bagian kita.

Di saat yang sulit, perhatikanlah orang lain

Teman-teman, pada dasarnya kita adalah makhluk berdosa yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Meski pergumulan kita sendiri berat tapi Tuhan ingin agar kita tidak hanya memikirkan diri kita namun juga orang lain. Ayo, minta kepada Tuhan agar kita mempunyai hati yang peka untuk merasakan pergumulan yang sedang dialami oleh orang-orang di sekitar kita. “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:4). Bagaimana caranya? Berdoalah untuk mereka, terus kalian bisa kirim pesan melalui sms atau whatsapp, “Halo, cuma mau bilang kalau saya mendoakan kamu dan masalahmu.” Kalau kamu terbeban lebih untuk membantu orang tersebut, lakukanlah. Hal-hal yang mungkin kita anggap kecil bisa dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Penutup

Sampai juga nih di akhir sharing saya, saya mendorong agar teman-teman tidak kuatir akan apapun, serahkan semuanya kepada Tuhan, Dia lebih besar dari segala masalah kita. Berdoalah, kasih tahu Tuhan apa yang kita butuhkan dan jangan lupa untuk mengucap syukur atas jawaban yang Ia berikan. Kalau kalian melakukan hal ini, maka percayalah damai sejahtera Tuhan yang melebihi akal budi dan pengertian kita akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Filipi 4:6-7).

Oleh: SH

Image source: Unsplash

Quote of the day

Sungguh benar bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan tidak akan kecewa.

George Muller