Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Berdoa oleh Firman, dalam Firman, dengan Firman

Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Berdoa oleh Firman, dalam Firman, dengan Firman

Bagaimana kehidupan doa saudara?

Kita tahu bahwa sebagai orang Kristen, kita perlu untuk berdoa. Doa adalah salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan dalam kehidupan Kristiani, tetapi pada saat yang sama, doa adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Terlepas dari apa yang harus kita doakan, bagaimana kita menguasai pikiran kita untuk tidak ‘ngelantur’ merupakan suatu tantangan tersendiri dalam berdoa! Yang pasti kita ketahui adalah satu hal, kita sangat kurang sekali berdoa. 

Dalam artikel Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Doa Bapa Kami, Pola Doa Kita, dikatakan bahwa Martin Luther mengajarkan kepada kita cara yang baik untuk berdoa dalam suratnya yang berjudul “Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa (A Simple Way to Pray)”. Ia menghimbau kita untuk memeditasikan kebenaran yang dinyatakan dalam firman Tuhan, yaitu Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan. Luther menekankan bahwa pikiran orang percaya sangat mudah diisi hal-hal yang membuatnya melupakan Tuhan dan bahkan melanggar perintah-Nya. Dosa lalu-lalang melewati pikiran dan membuat hati tidak dijaga dengan ketat di hadapan Allah yang kudus. Mengapa demikian? Karena setan bukanlah pribadi yang malas atau ceroboh – ia tak mau rugi dalam menjual kejahatan kepada daging kita yang menyenanginya! 

Sikap hati seperti inilah yang Yesus sendiri ingin untuk murid-murid-Nya matikan, melalui “berdoa dengan tidak jemu-jemu (Lukas 18:1)". Hal ini penting dilakukan, karena kita harus terus berjaga-jaga terhadap dosa, dan ini bukanlah hal yang dapat manusia lakukan kecuali ia memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan terus “merenungkan Taurat itu siang dan malam (Mazmur 1:2)". 

Pola Doa Beruntai Empat

Kesiapan dan keinginan hati dalam berdoa adalah suatu hal yang amat penting. Luther menggambarkan mulut seseorang yang komat-kamit berdoa, namun pikirannya melayang kemana-mana, dan dengan demikian mencobai Tuhan:

Ada pastor yang berdoa demikian, “Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Apa kuda-kuda sudah kuberi makan? Datanglah kerajaan-Mu. Nanti mereka harus kuingatkan untuk mengambil susu dari pasar. Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga. Duh, kenapa makanan hari ini begitu sedikit! … Amin.” Aku mendengar banyak doa semacam ini dalam pengalamanku tinggal di biara; itulah pola doa-doa mereka. Sikap seperti ini sama seperti sikap orang yang menghujat Allah, dan amatlah baik bila orang itu tidak berdoa sama sekali bila mereka tidak dapat atau tidak peduli untuk memperbaiki sikap hatinya.

Kita dapat melihat betapa pentingnya konsentrasi dan kebulatan hati untuk berdoa dengan baik! Doa yang baik, kata Luther, adalah doa dimana kita mengingat setiap perkataan dan pikiran dari awal hingga akhir doa. Maka, untuk memfokuskan diri supaya dapat berdoa, Luther memakai suatu cara yang dapat kita tiru, yaitu dengan mendoakan firman Tuhan kembali kepada Tuhan. Ia merangkai lingkaran doa yang terdiri dari empat untaian; instruksi, ucapan syukur, pengakuan dosa, dan permohonan kepada Allah.

“Roh Kudus sendiri berkhotbah dalam doa, dan satu kata dari khotbah-Nya jauh lebih berharga dari ribuan doa-doa kita.” – Martin Luther

Luther menjelaskan bahwa dalam doa, kita dapat mengingat instruksi yang Tuhan berikan melalui firman-Nya. Sebagai contoh, mari kita memperhatikan Roma 12:2:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Dalam ayat ini, kita sebagai orang percaya dipanggil untuk mengubah pola pikir kita dari yang duniawi menjadi yang sorgawi. Kita dipanggil untuk berubah melalui kuasa Tuhan supaya kita dapat mengerti kehendak Allah dengan tepat dalam hidup kita.

Kita dapat menyadari bahwa hati dan pikiran yang diperbaharui dan jalan hidup yang berkenan di hadapan Allah adalah karena anugerah-Nya semata. Hal ini patut membuat kita mengucap syukur kepada-Nya dalam doa kita karena kasih yang Ia tunjukkan kepada kita dalam membentuk jiwa yang makin dekat dan mengenal Dia.

Di sisi yang lain, amatlah jelas jika kita merenungkan ayat ini untuk dengan jujur mengakui bahwa kita sering lalai dalam mengikuti himbauan ini. Cobaan yang menawan hati, arah hidup yang tidak jelas, dan beban yang menekan membuat diri kita sering melupakan Tuhan dan jatuh ke dalam dosa, atau bahkan lari dari Sang Penolong karena kita berpikir kita dapat membereskan hidup kita sendiri. Ketika kita diperhadapkan dengan kegelapan yang ada dalam hati kita seperti ini, sangat baik untuk kita mengakui dosa-dosa kita dan memohon belas kasihan Tuhan untuk mengampuni.

Tetapi, tentu kita tidak akan berhenti di situ saja. Kita tidak memiliki Imam Besar yang “tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita" (Ibrani 4:15), tetapi kita mempunyai seorang Bapa yang mengasihi, mampu, dan mau menolong kita dalam keterpurukan kita. Maka, kita dapat dengan keberanian menghampiri takhta kasih karunia Allah dan memohonkan petisi-petisi kita kepada-Nya, baik untuk diri kita sendiri, ataupun keluarga, kerabat, bahkan dunia ini, supaya anugerah Allah di dalam Yesus Kristus dapat dicurahkan kepada kita semua, supaya hati kita dapat diperbaharui, bukan hanya untuk memiliki pola pikir rohani dan mengenal kehendak Allah, tetapi mengenal pribadi Allah dan bersekutu secara intim dengan-Nya dalam suatu relasi yang tak terkatakan indahnya.

Jikalau kita mempunyai waktu dan hati kita tergerak untuk berdoa lebih lagi, ada baiknya kita dapat berdoa dengan firman yang muncul dalam hati dan seterusnya. Dengan demikian, seluruh “firman yang diilhamkan Tuhan (2 Timotius 3:16)” menjadi rangkaian bunga beruntai empat bagi jiwa kita; kitab pengajaran, kitab pujian, kitab pengakuan dosa, dan kitab doa.

Perintah yang Manis bagi Jiwa, Perlengkapan yang Kuat untuk Raga

Memakai firman Tuhan sebagai dasar doa kita sangat bermanfaat untuk membakar dan menggerakkan hati kita dalam semangat berdoa. Yang penting untuk kita perhatikan adalah bukan panjangnya doa kita atau bagaimana ‘rapi’ kita menyusun doa sesuai dengan tata cara yang ditulis di atas, tetapi hati yang disiapkan untuk mendengarkan didikan dari Roh Kudus dengan meditasi firman Tuhan. Luther memberi komentar yang baik akan hal ini:

“Roh Kudus sendiri berkhotbah dalam doa, dan satu kata dari khotbah-Nya jauh lebih berharga dari ribuan doa-doa kita … Jangan berusaha menjalani semua ini sedemikian rupa hingga jiwamu lesu dalam mengerjakannya. Doa yang baik tidak harus doa yang panjang atau diulur-ulur, melainkan doa yang dipanjatkan setiap waktu. Cukuplah bila kita merenungkan satu atau setengah bagian yang justru membakar hati kita untuk fokus dan tekun berdoa pada bagian itu. Roh Kudus akan memberikan kita pengertian dan terus mendidik kita, ketika melalui firman Tuhan hati kita dibersihkan dan dibebaskan dari gangguan di dalam dan di luar hati.”

Dari disiplin doa ini, kita dapat memperhatikan tiga manfaat:

1. Menjaga hati kita terhadap dosa.

Daud menuliskan dalam kitab Mazmur, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau (Mazmur 119:11).” Dengan serius merenungkan perintah dan ketetapan Allah, kita diberi perisai untuk menjaga hati dan pikiran kita terhadap dosa-dosa yang menyerang. Dunia ini adalah medan tempur orang percaya dan oleh karena itu kita harus memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata Allah dan kuat dalam kuasa-Nya melalui firman yang Ia nyatakan.

2. Memperkaya kehidupan doa.

Kita dapat melihat dari cara yang dipakai Luther bahwa Allah sendiri telah menyediakan kita harta karun yang begitu limpah untuk kita bisa pakai dalam doa – yaitu firman-Nya sendiri. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16).” Apakah sarana kita berdoa berhenti di sini saja? Tentu saja tidak! Mazmur, Amsal, doa-doa para saksi iman yang tercatat dalam Alkitab, semuanya ini merupakan bagian dari berkat besar Allah untuk kita dapat berkomunikasi dengan-Nya melalui doa.

3. Melatih ketangguhan dan disiplin rohani.

Kita sangat mudah sekali diserang oleh begitu banyak jebakan dan tipuan setan. “Oh, cara berdoa? Bukankah ini suatu sikap yang legalistik? Doa kan harusnya keluar dari hati dan tidak kaku seperti itu?” Apakah doa yang disengaja, tekun, disiplin, tulus, dan berfokus pada kemuliaan Tuhan suatu hal yang kaku? Memang, di satu sisi adalah suatu kewajiban bagi orang percaya untuk berdoa, tetapi lebih dari pada itu, doa adalah alat anugerah yang diberikan Allah untuk kita dapat manfaatkan supaya kita dapat lebih lagi menikmati diri-Nya! Tanpa makanan, minuman, dan udara, kita tidak dapat hidup. Kita butuh hal-hal fisik ini untuk kehidupan jasmani kita. Jelas bahwa kita juga perlu sarana-sarana untuk kehidupan rohani kita! Mari kita melatih diri kita dengan sungguh, “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya (2 Korintus 2:11)".

Kiranya melalui sarana-sarana ini, kita dapat menyadari kekayaan anugerah Allah dan terus-menerus melatih diri untuk mengejar pribadi-Nya melalui doa. Saya tutup artikel ini dengan janji yang manis dari Allah sendiri bagi orang-orang yang mengejar-Nya: 

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN (Yeremia 29:12-14a).”

Oleh: HN

Image source: Unsplash

Oleh:

Quote of the day

Seorang Kristen bukanlah seseorang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang dimampukan untuk bertobat dan mengangkat dirinya sendiri dan memulai lagi, karena kehidupan Kristus ada di dalam dirinya.

C. S. Lewis