Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Doa Bapa Kami, Pola Doa Kita

Sebuah Cara Sederhana untuk Berdoa – Doa Bapa Kami, Pola Doa Kita

Seorang Puritan, Richard Baxter, menuliskan, "Doa adalah nafas hidup orang percaya.” Pangeran para pengkhotbah, Charles Spurgeon, mengatakan, “Jika saya merasa enggan berdoa, itulah saat dimana saya harus berdoa lebih dari sebelumnya.” Bahkan, Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5:17 mengajar kita untuk “tetap berdoa”. Demikianlah orang-orang kudus sejak zaman dahulu menekankan begitu pentingnya doa dalam hidup seorang Kristen. Namun, banyak dari kita bergumul dengan disiplin rohani ini. Kita sering merasa kesulitan dalam apa yang harus kita doakan, bagaimana cara berdoa, kapan kita harus berdoa, bahkan memikirkan postur tubuh apa yang harus kita ambil untuk berdoa!

Hal ini digumulkan oleh Peter Beskendorf, sahabat dekat Martin Luther yang juga adalah tukang potong rambutnya. Dia bertanya kepada Luther tentang bagaimana caranya untuk berdoa. Martin Luther sendiri adalah salah satu pelopor gerakan Reformasi. Di antara semua hal yang membuat Luther terkenal, salah satunya yang terutama ialah kehidupan doanya yang kuat, panjang, tekun, dan dinamis. Ia pernah dikutip mengatakan, “Saya sangat sibuk, banyak hal yang harus saya lakukan. Saking sibuknya, saya akan memakai 3 jam pertama untuk berdoa!” 

Luther menjawab sahabatnya dengan menulis sebuah surat yang berjudul “Sebuah Cara Sederhana Untuk Berdoa (A Simple Way to Pray)”. Ia menjelaskan dalam suratnya bagaimana cara memiliki kehidupan doa yang kaya dan memuaskan dengan memakai tiga sumber dari Alkitab sebagai dasar, yaitu: Doa Bapa Kami, Sepuluh Perintah Allah, dan Pengakuan Iman Rasuli. 

Pada artikel ini, kita akan melihat bagaimana Martin Luther mengajar cara yang sederhana untuk berdoa dengan memeditasikan Doa Bapa Kami. 

Zaman Penuh Gangguan

Abad ke-21 membawa begitu banyak kemajuan teknologi, tetapi juga membawa bersamanya begitu banyak gangguan bagi orang Kristen modern: pesan WhatsApp, notifikasi Instagram, denting smartphone berisi begitu banyak pesan dan media yang terus bergulir. Uniknya, gangguan semacam ini bukanlah sesuatu yang asing bagi Luther (walaupun tentunya di zaman Luther belum ada WhatsApp dan media sosial!). Di dalam suratnya, ia menulis tentang seriusnya gangguan dalam menghalangi kehidupan doa: 

“Berjaga-jagalah akan tipuan yang mengatakan kepadamu, ‘Tunggu, tunggu. Nanti saja aku berdoa, satu jam lagi. Sekarang, aku perlu mengurus hal ini dan itu.’ Pikiran semacam ini akan mengalihkan perhatianmu dari doa kepada hal-hal lain yang begitu menahan pikiran dan perbuatanmu, sampai akhirnya sia-sialah kita menghabiskan hari tanpa berdoa. … Kita harus memastikan diri kita tidak kehilangan kebiasaan doa yang sejati dan menipu diri kita dalam memikirkan hal-hal lain yang kelihatannya lebih penting, namun nyatanya tidak sama sekali.”

Godaan untuk memikirkan hal-hal yang lebih ‘produktif dan penting’ daripada berdoa bukanlah permasalahan yang timbul dengan era digital, seperti yang tertulis di atas. Permasalahan utamanya bukanlah jadwal yang lebih padat dan smartphone kita, tetapi hati kita sendiri! Oleh karena itu, jikalau kita hendak maju dalam kehidupan doa, kita perlu membereskan inti masalahnya, yaitu keinginan hati kita. Luther memberikan beberapa gagasan untuk menangani hal ini dengan membawa kita kepada Doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami Sebagai Doa Kami

Pertama, Luther menyarankan kita berdoa seturut dengan doa yang Yesus ajarkan di injil Matius 6:9-13:

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu.

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,

dan ampunilah kami akan kesalahan kami,

seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

Amin.

Kemudian, ia membawa kita untuk kembali dalam doa ini untuk berdoa petisi demi petisi. Luther menasihati kita untuk memberi diri dibimbing oleh setiap petisi dalam doa kita. Sebagai contoh, setelah kita berdoa, “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu,” kita dapat melanjutkan dengan berdoa demikian:

“Bapa, keinginan hati kami ialah supaya nama-Mu dikenal, ditakuti, dan dihormati. Engkau adalah Allah pencipta langit dan bumi, Sang Kudus yang begitu mengasihi dunia sehingga Engkau mengaruniakan anak-Mu yang tunggal demi menyelamatkan kami dari murka-Mu akan dosa-dosa kami. Beri kami hati untuk semakin mengasihi-Mu.”

Setelah mendoakan petisi ini, kita dapat melanjutkan doa kita pada petisi yang berikutnya, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga,” dan berdoa:

“Ya, Tuhan, kami rindu supaya seluruh bumi ini dipenuhi kemuliaan-Mu seperti di sorga dan engkau bertahta di atasnya. Kami tahu bahwa dunia ini penuh kegelapan, kedukaan dan kesengsaraan. Bapa, kami memohon supaya Engkau sendiri memperlengkapi kami, keluarga kami, dan gereja kami dengan kuasa untuk bergerak demi memperluas kerajaan-Mu di bumi sebagai garam dan terang dunia, supaya cinta kasih-Mu dapat dinyatakan kepada semua orang melalui kesaksian kami.”

Demikian seterusnya kita bergerak dari petisi ke petisi sampai kita menutup doa kita dengan “Amin”. Kata ini kedengaran amat pendek dan sederhana, dan mungkin terlihat tidak terlalu penting sebab ini hanya dipakai sebagai penutup doa saja, tetapi Luther menekankan kepada kita betapa pentingnya kata “Amin” ini untuk kita ucapkan dengan berani dan penuh iman.

“Engkau harus selalu dengan tegas mengatakan Amin. Jangan ragu akan belas kasihan Allah, sebab di dalam anugerah-Nya Ia tentu akan mendengarkan doamu dan berkata ‘Ya’. … Jangan engkau menutup doamu tanpa berpikir, ‘Tentu Allah mendengarkan doa ini. Aku percaya akan kebenaran ini.’ Itulah arti Amin yang sesungguhnya.”

Manfaat Berdoa Seturut Ajaran Yesus

Berdoa seturut apa yang Allah sendiri ajarkan kepada kita tentu memberikan begitu banyak manfaat. Di antaranya, ada tiga hal yang dapat kita perhatikan:

1. Mendisiplin pikiran kita.

Sangat mudah sekali bagi pikiran kita untuk melayang ke mana-mana ketika berdoa. Dalam satu momen kita berdoa, dan dalam momen selanjutnya kita memikirkan apa makan malam kita! Dengan memiliki tata doa yang terstruktur, pikiran kita akan didisiplin untuk fokus dalam doa layaknya tukang potong rambut yang memusatkan perhatiannya pada pisau cukur untuk memotong rambut dengan hati-hati dan tidak melukai pelanggannya.

2. Memperluas hati kita.

Banyak dari kita cenderung berdoa untuk diri kita sendiri, seperti mengaku dosa, meminta pertolongan Tuhan secara pribadi, dan menyatakan permasalahan kita kepada-Nya. Mendoakan Doa Bapa Kami dengan fokus akan tiap petisi akan mendorong kita mencari pengertian yang lebih luas dan dalam akan Kristus. Hal ini akan membuka hati kita untuk menghidupi hati Kristus dan memiliki beban bagi orang lain, serta visi dan misi Allah yang kita bisa bawa dalam doa kita.

3. Memperdalam intimasi dengan Allah.

Rasul Paulus menulis bahwa, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).” Firman yang kita hidupi dalam doa yang sungguh-sungguh tidak akan membuat doa kita kaku, namun akan menghidupkan afeksi kita yang tersembunyi serta memperkaya, memperdalam, dan memperluas doa kita. Seperti sang Pemazmur, kita dapat berkata, “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah (Mazmur 73:28).”

Membentuk Hati yang Mengalami dan Makin Merindukan Tuhan

Kristus mengajar kita untuk “berdoa demikian” (Matius 6:9), tidak hanya untuk menyediakan kata-kata bagi orang yang tidak tahu apa yang mereka harus katakan kepada Allah. Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami untuk membentuk hati kita secara total supaya dapat melihat, bahkan menginginkan hal-hal yang Allah sendiri inginkan. Keinginan terdalam hati kita dibakar untuk mengalami dan mengenal Dia lebih lagi dalam hidup kita. Tentu, tata cara yang Martin Luther ajarkan bukanlah satu-satunya teknik jitu untuk kehidupan doa yang sempurna, tetapi dengan perlengkapan ini, kita dapat berjuang untuk suatu kehidupan doa yang lebih kaya dan menyenangkan, ditambah dengan cinta kasih yang makin dalam akan Kristus.

Saya menutup artikel ini dengan tulisan Luther dalam suratnya: “Kiranya Allah mengaruniakan padamu dan semua orang kuasa untuk berdoa dengan lebih baik dari pada diriku! Amin.”

Oleh: HN

Image source: Unsplash

Oleh:

Quote of the day

Seluruh kehidupan orang Kristen seharusnya tidak lain hanyalah memuji Tuhan.

Richard Sibbes