Hati Yang Kosong

Hati Yang Kosong

Seberapa sering kita mendengar kata “bosan” keluar dari mulut anak-anak muda zaman sekarang, atau bahkan anak kecil? Manusia menjalankan rutinitas yang sama diulang setiap hari. Sekilas kata “bosan” terdengar biasa saja dan merupakan hal yang wajar dirasakan, tetapi ketika perasaan ini ada dalam diri seseorang dan dibiarkan begitu saja, maka dampaknya bisa sangat berbahaya. 

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diberi “kemampuan” untuk merasa bosan. Meskipun mungkin kita pernah melihat binatang yang terlihat bosan terkurung dalam kandangnya, tetapi sebenarnya tidak ada makhluk lain yang bisa merasakan kebosanan dari dalam diri atau sekitarnya selain manusia. Ini menjadi hal yang perlu dipikirkan karena kita percaya Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan. Ketika manusia diberikan kapasitas untuk bisa merasa bosan, itu berarti Tuhan memiliki tujuan di baliknya.

Jika ada seseorang yang sedang sakit, kemudian menggunakan termometer untuk mengukur suhu badannya dan hasilnya menunjukkan 39 derajat, itu artinya dia terkena demam. Seperti itu juga rasa bosan sebenarnya bisa menjadi satu peringatan (warning) yang menunjukkan adanya kekosongan dalam hati kita. Rasa bosan hanyalah apa yang tampak di permukaan, tetapi akar masalahnya terletak jauh di dalam hati.

Perjalanan manusia untuk mencari

Manusia bukan makhluk yang bisa cukup dari dirinya sendiri, kita adalah makhluk yang mencari. Kita tidak bisa puas dengan apa yang ada di dalam diri kita saja. Ketika kita merasa sendiri dan kesepian, kita berusaha mencari teman-teman. Ketika dalam pekerjaan kita berada pada satu posisi, kita akan berusaha mencapai posisi yang lebih tinggi lagi. Dunia ini dan segala isinya selalu berubah dan manusia akan terus berusaha mengejar apa yang dunia tawarkan. Untuk sementara waktu mungkin semua pencapaian bisa menjadi kebanggaan besar dan orang di sekitar akan menilai kita sukses, tapi uniknya semakin dikejar dan semakin mendapat apa yang diinginkan, pada akhirnya manusia akan menemukan jiwanya tetap kosong.

Sama seperti sederetan mobil mewah terpajang dengan cat mengkilap tetapi tanpa bensin. Mobil itu hanya indah dilihat untuk sementara waktu, lama-kelamaan mobil mewah itu akan berkarat dan tidak berguna karena tidak ada bahan bakar di dalamnya untuk menggerakkannya. Dunia saat ini juga dipenuhi oleh orang-orang yang terlihat hebat dari luar, tetapi hatinya begitu kosong.

Lihatlah berapa banyak artis terkenal yang sudah mencapai puncak ketenarannya tapi berakhir dengan bunuh diri. Apa yang kurang dari hidup mereka? Uang, rumah besar, mobil mewah, jet pribadi, semua mereka miliki. Banyak orang yang bermimpi menjadi seperti mereka, bahkan mungkin kita juga pernah membayangkan betapa enaknya menjadi artis-artis itu, hidup tanpa kekurangan materi, dikelilingi banyak teman dan dipuja ribuan, bahkan jutaan penggemar. Tapi lihatlah kenyataan yang ada, mereka memilih untuk mengakhiri hidup dan tidak menikmati semuanya lagi. Hidup yang begitu hampa di tengah limpahnya harta. 

Desain yang rusak

Ketika Tuhan menciptakan manusia pertama dalam dunia, Tuhan memerintahkan manusia untuk menaklukkan dunia. Itu berarti dunia dicipta untuk manusia, bukan sebaliknya, tetapi dosa merusak seluruh tatanan dan desain awal penciptaan. Manusia tidak lagi tunduk pada Tuhan, melainkan pada dunia. Dosa membuat arah hati kita berbalik dari Tuhan sehingga kita tidak lagi bisa melihat Tuhan sebagai yang paling indah dan mulia. Mata kita tertutup oleh tipuan si penguasa dunia. Ya, setan berusaha menampilkan dosa di depan mata kita dengan bungkusan rapi dan hiasan-hiasan indah supaya kita tertarik dan akhirnya terjerat di dalamnya. Tapi pada hakekatnya dosa tetaplah dosa, ujungnya adalah maut.

Ketika ular memperlihatkan kepada Hawa betapa baik buah itu untuk dimakan, buah yang Tuhan sendiri perintahkan jangan dimakan, apakah kita bisa berkata, “Tidak apa lah, kan hanya buah saja?” Tidak, itu dosa! Itu bentuk perlawanan langsung manusia ciptaan terhadap Tuhan, Sang Pencipta. Tujuan setan adalah merusak rencana Tuhan. Setan mau membuat manusia tidak lagi melihat seluruh kebaikan Tuhan dan strateginya berhasil dengan menampilkan buah yang sedap dilihat. Akhirnya, manusia tergoda dan memilih apa yang dianggapnya baik. 

Dasar yang salah

Strategi setan tidak berubah dari dulu sampai sekarang, motivasinya pun tetap sama. Dia adalah penipu. Yang ditawarkan di hadapan kita bukan sesuatu yang terlihat buruk dan menakutkan, semuanya akan terlihat menarik dan pasti kita sukai. Itu yang terjadi saat ini ketika manusia mencari dan mengejar apa yang terlihat sangat menjanjikan, dengan harapan semua itu dapat memberi kepuasan dan makna dalam hidup. Manusia membangun pengharapan besar terhadap sesuatu yang sifatnya sementara dan dapat berubah. Bagaikan mendirikan rumah di atas fondasi pasir, tinggal tunggu waktu maka semua akan runtuh. Pengharapan yang dibangun di atas dasar yang salah hanya akan berujung pada kekecewaan. 

Manusia begitu rapuh. Hari ini kita kuat, besok kita lemah. Hari ini kita bisa mengambil keputusan, besok kita terombang-ambing. Hari ini kaya, besok kita bisa jatuh miskin. Semua ini diizinkan Tuhan untuk mengingatkan umat manusia kalau tidak ada yang bisa dijadikan pegangan di dalam dunia ini. Setiap kesulitan dan penderitaan yang kita alami menyadarkan kita pentingnya bergantung pada Tuhan. 

Manusia dicipta bagi Tuhan

Pengharapan kita harus didasarkan pada Tuhan saja karena Dia adalah Allah yang kekal. Setiap manusia dicipta juga diberikan jejak yang sama di dalam dirinya. Tuhan menaruh kekekalan dalam hati manusia. Sebesar apapun usaha yang dilakukan, bahkan sampai memasukkan seluruh dunia ke dalam hati, tidak akan membuat kita tenang dan puas karena ada sesuatu di dalam diri manusia yang tidak dapat dipuaskan oleh apapun dari dunia ini. Manusia dicipta untuk maksud yang lebih mulia, maka hanya apa yang bernilai kekal yang dapat memenuhkan tempat yang kosong dalam hati kita.

Seorang bapak gereja di abad ke-4, Augustine, mengatakan satu kalimat yang tepat, “Tuhan menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri dan hati manusia tidak akan tenang sampai menemukan peristirahatan di dalam Dia.” Kita dicipta oleh Tuhan dan bagi Tuhan saja, maka hati kita tidak akan mendapat istirahat yang tenang di luar Tuhan. Suka atau tidak, ini adalah kebenaran.

Tuhan menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri dan hati manusia tidak akan tenang sampai menemukan peristirahatan di dalam Dia
-Augustine of Hippo

Mendapatkan istirahat dalam Tuhan

Firman Tuhan menyatakan dalam Ibrani 13:8, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Bukankah ini seharusnya menjadi penghiburan bagi setiap manusia yang mencari dan berharap? Pribadi-Nya tidak berubah. Janji-Nya tidak berubah. Kesetiaan-Nya tidak berubah. Cinta-Nya tidak pernah berubah. Cinta yang tertinggi dan terbesar yang mungkin manusia terima adalah cinta yang diberikan oleh Bapa sendiri melalui Kristus. Cinta-Nya bagi kita tidak akan berkurang dan juga tidak bisa bertambah, karena cinta-Nya sempurna. Tidak ada yang bisa lebih baik lagi diberikan dari apa yang sudah sempurna.

Saat kita bisa merasa hidup ini sangat membosankan dan hati begitu kosong, mungkin ini adalah satu peringatan untuk kita berhenti sejenak dari seluruh aktivitas dan kembali kepada Tuhan. Memohon belas kasihan-Nya dan datang kepada-Nya dengan lutut dan doa. Berbahagialah orang di tengah dunia yang selalu berubah, bisa menapakkan kakinya pada dasar yang kokoh. Berbahagialah manusia jika hidup di tengah dunia yang sementara ini, bisa mencari dan mengejar yang bernilai kekal. Oh jiwa, kembalilah kepada Penciptamu dan tinggallah tenang di dalam-Nya, karena Dia tetap sama, kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya.

Oleh: ET

Image source: Unsplash

Oleh:

Quote of the day

Sungguh benar bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan tidak akan kecewa.

George Muller