Idelette Calvin

Kita sudah sering mendengar nama John Calvin, tokoh penting dalam Reformasi yang pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Namun, mungkin banyak dari kita yang belum pernah mendengar siapa wanita yang ada di belakang John Calvin. Dia adalah Idelette, seorang istri yang sederhana, saleh dan kokoh imannya.

Pertemuan Idelette dan Calvin bukanlah seperti kisah romantis yang biasa kita temukan di novel-novel. Calvin sibuk melayani dan masih membujang sampai usianya menjelang tiga puluh tahun. Pada saat itu, Calvin melayani orang-orang Perancis yang mengungsi di kota Strasbourg, daerah perbatasan antara Prancis dan Jerman. 

Idelette adalah istri John Stordeur, mereka memiliki dua anak. Ketika ada persekusi terhadap orang Protestan di Liege, Belgia, mereka terpaksa harus mengungsi ke Strasbourg demi mempertahankan iman Kristiani mereka.

John Stordeur dan Idelette adalah penganut Anabaptis, sebuah ajaran yang menentang baptisan anak dan percaya bahwa baptisan harus ditunda sampai seseorang bisa mengakui imannya. Di Strasbourg, pandangan mereka berubah menjadi pandangan Reformasi lewat pelayanan eksposisi Alkitab oleh Calvin. 

Calvin sering berdiskusi teologia dengan keluarga Stordeur di rumah mereka. Disana Calvin menyaksikan bagaimana Idelette adalah seorang wanita yang serius imannya, tenang, lembut, sederhana, dan selalu mengurus suami dan rumah tangganya.

Hanya beberapa tahun setelah tiba di Strasbourg, suami Idelette, John Stordeur, tiba-tiba meninggal akibat pandemi yang mewabah di seluruh dunia pada saat itu. Idelette menjadi kebingungan karena kematian suaminya dan harus mengurus dua anak sendirian.

Di lain pihak, Calvin yang sebelumnya tidak berencana untuk menikah, mulai menyadari bahwa ia memerlukan seorang istri yang dapat menolongnya mengatur keuangan dan rumah tangga, serta memperhatikan kesehatannya di tengah kesibukan pelayanannya. Ia tidak mencari wanita yang cantik atau kaya. Calvin hanya berharap dengan adanya pendamping hidup, ia dapat lebih mendedikasikan hidupnya pada Tuhan. Tetapi tidaklah mudah untuk mencari istri yang demikian.

Lalu teman Calvin yang bernama Pastor Martin Bucer mengusulkan agar Calvin menikahi Idelette. Calvin sudah cukup mengenal Idelette dan terkesan bagaimana Idelette merawat suaminya yang sekarat dan dua anaknya. Maka Calvin pun melamar Idelette dan mereka menikah pada tanggal 15 Agustus 1540 , beberapa bulan setelah Idelette menjadi janda.

Semua harapan Calvin tentang sosok istri terpenuhi pada diri Idelette. Idelette adalah pendamping yang bermental baja. 32 minggu dari 45 minggu pertama pernikahan mereka, Idelette ditinggal Calvin karena tugas pelayanan. Idelette selalu berdoa untuk Calvin dan pelayanannya. Idelette juga memiliki hati seorang pelayan, dia membuka rumah mereka menjadi tempat pengungsian bagi orang Perancis yang melarikan diri demi mempertahankan iman mereka. Ketika Calvin diminta pindah ke Jenewa pun, Idelette bersedia ikut pindah tanpa mengeluh walaupun sebenarnya dia sudah merasa senang di Strasbourg.

Di Jenewa, Idelette melahirkan tiga anak bagi Calvin, namun semua anak mereka meninggal kurang dari satu bulan setelah dilahirkan. Setelah itu, Idelette mengalami penurunan dalam kesehatannya. Meskipun demikian, Idelette tetap adalah sosok yang menopang suaminya ketika Calvin mengalami berbagai goncangan dalam pelayanannya.

Idelette akhirnya meninggal pada tanggal 25 Maret 1549, dalam usia pernikahannya yang ke-sembilan. Satu jam sebelum kematiannya, dengan kekuatan terakhirnya Idelette berseru kepada Tuhan, ia menyatakan iman pengharapannya yang teguh kepada Tuhan. Calvin begitu terkesima atas ketenangan istrinya.

Di dalam kesedihannya, Calvin menyatakan bahwa ia telah kehilangan “penolong yang setia dalam pelayanannya” dan “sahabat terbaik dalam hidupnya”.

Idelette adalah sosok yang membawa damai dan sukacita dimanapun dia ditempatkan, dan tidak pernah mengeluh di tengah-tengah kesulitan dalam hidupnya.





Calvin dan Institutes of The Christian Religion

Halo teman-teman, hari ini kita akan membahas seorang tokoh yang memiliki peran penting dalam Reformasi Protestan di Swiss yang bernama John Calvin.

John Calvin lahir pada 10 Juli 1509 di Noyon, Perancis. Ia dibesarkan di dalam keluarga yang mengikuti pengajaran Roma Katolik. Ayah Calvin bekerja di bagian administrasi bersama Uskup lokal di daerah tersebut. Ia berharap agar Calvin dapat menjadi seorang pastor.

Calvin menghabiskan masa mudanya dengan mempelajari teologi, hukum, dan sastra klasik. Ketika berusia 14 tahun, Calvin pergi ke Paris untuk melanjutkan pendidikannya. Pada tahun 1523, pengajaran mengenai Reformasi yang berasal dari Martin Luther telah menyebar ke seluruh Paris, tetapi Calvin tetap berada di sisi Roma Katolik.

Pada tahun 1527, Calvin mengenal pengajaran Reformasi melalui seorang temannya. Itulah pertama kali Calvin melihat keindahan Alkitab dan kemuliaan Allah. Sejak itu, Calvin menjadi salah seorang pendukung Gerakan Reformasi.

Sebagai seseorang yang secara terang-terangan mendukung Reformasi, nyawa Calvin selalu terancam, hingga akhirnya Ia melarikan diri dari Paris.

Sebagai seorang cendekiawan, Calvin ingin menyebarkan pengajaran Reformasi melalui tulisannya.  Calvin berniat untuk hidup dengan tenang di Strasbourg dan memulai karya-karya tulisannya. Namun di tengah perjalanan menuju Strasbourg, Ia singgah di sebuah kota bernama Jenewa, Swiss.

Ketika William Farel, seorang pemimpin gerakan Reformasi di Jenewa mendengar bahwa Calvin sedang berada di Geneva, ia meminta Calvin untuk tinggal di sana dan berjuang untuk melakukan Reformasi.

Pada awalnya Calvin menolak, tetapi Farel dengan keras meminta bahkan mengutuk Calvin yang tidak mau berbagian dalam perjuangan Reformasi, padahal memiliki kemampuan yang diperlukan saat itu. Akhirnya Calvin pun menjadi takut dan memutuskan untuk tinggal di Geneva.

Calvin memiliki beban yang jelas di dalam hatinya, yaitu untuk mengembalikan Kemuliaan Allah. Menurut Calvin, Gereja Roma Katolik telah menghancurkan Kemuliaan Kristus dalam banyak hal. Gereja saat itu menganut banyak doktrin yang keliru sehingga membuat kesempurnaan dan keindahan Kristus memudar.

Setelah mengenal pengajaran Reformasi, Calvin melihat bahwa banyak orang memiliki kehausan untuk mengenal Kristus, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Berangkat dari sana, Calvin kemudian membuat sebuah buku kecil yang berisi tentang dasar-dasar agama Kristen. Harapannya, buku kecil tersebut dapat dibaca oleh banyak orang dan mudah dibawa kemana saja.

Akhirnya pada Maret 1536, edisi pertama Institutes of the Christian Religion pun diterbitkan.

Institutes of the Christian Religion memiliki peran penting dalam Reformasi Protestan. Buku ini berisi perintah dan inti pengajaran Reformasi. Melalui Institutes, Calvin melanjutkan dan menyempurnakan gerakan Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther dan kaum reformator lainnya.

Institutes of Christian Religion awalnya ditulis dalam Bahasa Latin, bahasa yang umum digunakan kaum Cendekiawan waktu itu. Tetapi kemudian Calvin menerjemahkannya ke dalam bahasa Perancis, agar dapat dibaca oleh lebih banyak orang khususnya orang-orang awam.

Seiring dengan berjalannya waktu. Calvin melihat adanya keperluan untuk memperbarui bukunya. Ia pun menambahkan topik lainnya. Edisi keduanya diterbitkan tahun 1539, Edisi ketiga tahun 1543, Edisi keempat tahun 1550, dan Edisi terakhirnya tahun 1560.

Seorang teolog terkenal asal Inggris, J. I. Packer, mengatakan bahwa Institutes adalah salah satu keajaiban dunia, baik dalam dunia sastra, spiritual, dan teologi.

Buku kecil yang semula ditulis Calvin, kemudian berkembang menjadi sebuah buku yang memiliki hampir 1.000 halaman. Setelah lebih dari 460 tahun terbit, Institutes of the Christian Religion masih menjadi salah satu buku yang paling penting di sejarah Kekristenan hingga saat ini.

Katherine Willoughby

Dalam sejarah Reformasi, Tuhan juga memakai para wanita yang takut akan Dia untuk menggenapi rencanaNya. Salah satunya adalah Katherine Willoughby. Dia lahir di dalam keluarga bangsawan Inggris yang memiliki relasi yang dekat dengan kerajaan. Orang tuanya mendidik dia dengan ajaran Katolik yang ketat. Katherine adalah seorang wanita cerdas, cantik, jujur dan tegas dalam berbicara. Koneksi yang kuat pada kekuasaan politik dan status sosial yang dimilikinya, serta komitmen pada reformasi gereja, menempatkan Katherine di pusat perkembangan politik dan kekristenan pada masa itu.

Wanita ini lahir di Suffolk, Inggris pada tahun1519. Ketika Katherine masih kecil ayahnya meninggal dunia dan dia mewarisi banyak kekayaan dari ayahnya. Charles Brandon, adik ipar Raja Henry VIII, membeli hak wali Katherine ketika ia berusia 9 tahun. Charles dan istrinya, Mary Tudor, adalah penganut konservatif Katolik Roma. Awalnya Katherine dipersiapkan untuk menjadi istri Henry Brandon, anak Charles. Tetapi 10 minggu setelah Mary meninggal, Charles Brandon sendiri yang berusia 49 tahun menikahi Katherine yang baru berusia 14 tahun. 

Pada tahun 1543, Katherine ditugaskan menjadi pendamping Ratu Catherine Parr, istri terakhir raja Henry VIII. Katherine pun diwajibkan mendengar kotbah setiap harinya, membaca buku ‘Prayers or Medytacions’ yang ditulis oleh Ratu yang berisi ajaran reformasi tentang keselamatan. Ia juga terlibat dalam diskusi-diskusi agama dengan Ratu. Dari sinilah iman Katherine diperbaharui, dan pada pertengahan 1540an, Katherine meyakini bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi dan pembenaran hanya oleh iman saja. Ia memperoleh 'Tyndale's New Testament' edisi cetak Alkitab pertama dalam bahasa Inggris, dan secara terang-terangan mengkritik Katolik Roma. Setelah kematian suaminya, Charles Brandon, di tahun 1545, Katherine semakin terbuka menyatakan iman Kristennya secara publik. Katherine juga kehilangan kedua putranya di hari yang sama tahun 1551 akibat “sweating sickness” yang melanda Inggris. Ditengah kedukaannya kehilangan anak dan suaminya, Katherine tetap mengakui bahwa Allah itu baik.

Sebagai salah satu wanita terkaya di Inggris, Katherine menggunakan kekayaannya untuk mendukung gerakan Reformasi. Ia menyediakan Alkitab untuk setiap gereja di Lincolnshire. Dia menjadi pelindung dan pendukung para reformator termasuk Hugh Latimer, yang memberikan pengaruh besar bagi hidup kerohanian Katherine. Katherine juga menolong pengungsi Protestan dari Eropa. Katherine menggunakan koneksi politiknya untuk mendapatkan surat jaminanyang memperbolehkan mereka membangun gereja yang diakui secara legal.

Katherine menikah dengan pengawalnya yang bernama Richard Bertie dan mereka saling mencintai. Mary I (ke 1) atau Bloody Mary, penganut setia Katolik Roma, menjadi Ratu pada tahun 1554, Katherine dan Richard berada dalam bahaya penganiayaan oleh karena kepercayaan Reform mereka. Keduanya memutuskan untuk meninggalkan Inggris dan berlayar ke Jerman. Ketika semakin banyak pengungsi Reformasi dari Inggris berdatangan, mereka mendirikan gereja di Wesel. Hal ini diketahui oleh Ratu Mary I, maka Katherine dan Richard harus melarikan diri lagi dan pada akhirnya sampai ke Polandia atas undangan Raja Jan Laski. Pemerintah Polandia menyambut baik mereka, bahkan memberikan Richard peran administratif untuk memajukan reformasi di negara tersebut.

Ketika Ratu Mary I atau yang dikenal sbg bloody Mary meninggal dan digantikan oleh Ratu Elizabeth di tahun 1559, Katherine dan keluarganya pun kembali ke Inggris tanpa harus takut ancaman karena iman mereka. Katherine menggunakan segala kesempatan yang dia miliki di akhir hidupnya untuk mendukung reformasi Protestan di Inggris. Dia meninggal di usia 61 pada tahun 1580. Katherine banyak mengalami penderitaan selama hidupnya, tetapi dia tetap setia mempertahankan imannya sampai akhir 

Hugh Latimer, Menyalakan Lilin Yang Tidak Terpadamkan

Halo teman-teman semua, hari ini kita akan membahas seorang tokoh Reformasi yang bernama Hugh Latimer atau yang dikenal sebagai Lilin Dari Inggris (England’s Candle)

Ketika kita mendengar kata “Lilin”, apa yang muncul di pikiran kita? Panas? Cahaya? Atau mungkin kita teringat ketika mati lampu? Ketika listrik sedang mati, kita biasanya menyalakan lilin sehingga ada terang dan tidak gelap lagi. Hal itulah yang dilakukan Latimer dan teman baiknya, Nicholas Ridley di Inggris, 16 Oktober 1555. Bukan karena Inggris mati lampu saat itu, tentunya karena belum ada listrik.

Hugh Latimer lahir di Inggris tahun 1485. Ia menempuh pendidikan di University of Cambridge, dan menjadi seorang pastor. Selama 30 tahun, Latimer hidup sebagai penganut Katolik yang ketat dan sering menyerang para kaum Protestan. Namun pada tahun 1525, Ia bertemu dengan Thomas Bilney, seorang pendukung Protestan yang juga belajar di University of Cambridge. Pertemuan itu membuka mata Latimer, dan Ia beralih menjadi pendukung keras kaum Protestan.

Selama lebih dari 20 tahun, Latimer terus berjuang untuk melakukan Reformasi terhadap gereja di Inggris. Ia dikenal sebagai seseorang yang tidak pernah berhenti berkhotbah. Seorang tokoh Kristen, J. C. Ryle pernah berkata, “Tidak ada tokoh Reformasi yang menabur benih Doktrin Protestan di kalangan menengah kebawah yang lebih luas dan efektif seperti Latimer”. 

Tetapi pada tahun 1553, ketika Ratu Mary menjadi penguasa, Latimer ditangkap dan dipenjarakan di Menara London (Tower of London). Ia ditangkap dengan tuduhan mau melakukan pemberontakan dengan menyebarkan pengajaran Reformasi. Di menara itu, Latimer bertemu Nicholas Ridley yang juga adalah pejuang Reformasi. 

Mereka tahu bahwa hidup mereka tidak lama lagi dan mereka akan segera dijatuhi hukuman mati. Keduanya bercakap-cakap dan berdoa sebelum menjalani hukuman mereka, yaitu dibakar hidup-hidup. 

Ridley mengatakan, “Bersiaplah saudaraku, sebab Tuhan akan meredakan api ini, atau Ia menguatkan kita untuk menghadapinya.”

“Be of good heart, brother, for God will either assuage the fury of the flame, or else strengthen us to abide it.”

Sesaat sebelum Latimer dieksekusi, Ia berteriak, “Bersiap-siaplah Master Ridley, dan jadilah kuat; hari ini kita akan menyalakan lilin, di dalam Anugerah Tuhan, di Inggris, yang aku percaya tidak akan terpadamkan.”

“Be of good comfort, Master Ridley, and play the man; we shall this day light such a candle, by God’s grace, in England, as I trust shall never be put out.”

Sekilas sepertinya kisah Hugh Latimer berakhir dengan tragis, Ia mati sebagai seorang martir dan dieksekusi di depan publik. Seluruh rangkaian ini menggambarkan betapa gelapnya kondisi Inggris waktu itu. Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi tiga tahun kemudian: Ratu Mary meninggal dan digantikan oleh Ratu Elizabeth yang merupakan pendukung kaum Protestan. Gereja Protestan pun akhirnya didirikan secara permanen di Inggris.

Sejarah membuktikan bahwa sebuah lilin yang dinyalakan oleh Hugh Latimer dan para tokoh martir lainnya dengan menggunakan tubuh mereka yang dibakar, menjadi terang yang tidak terpadamkan sampai hari ini.

Katharina von Bora (1499 – 1552)

Hidup sebagai wanita Jerman di abad 15an bukanlah hal yang mudah. Mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menjadi biarawati. Katharina Von Bora, walaupun masih keturunan bangsawan, dia hampir menghabiskan separuh hidupnya di dalam biara. Setelah ibunya meninggal pada waktu dia berumur 5 tahun, ayahnya memasukannya ke asrama Benedictine. 4 tahun kemudian, ayahnya mendaftarkan dia masuk ke sekolah biara dan pada usianya yang ke 16, dia mengambil sumpah menjadi biarawati. 

Pada tahun 1517, Martin Luther memakukan 95 tesisnya di pintu gereja di Wittenberg, hal ini dilakukan untuk memprotes Gereja Roma Katolik yang melakukan praktek penjualan surat pengampunan dosa. 

Ajaran Reformasi Luther menyebar dengan cepat di Eropa dan membuka mata Katharina dan juga 11 biarawati lainnya. Hati nurani mereka tidak tahan lagi dengan kehidupan di biara. Mereka ingin melarikan diri. Tetapi bagaimana caranya?

Diam-diam Katharina dan 11 biarawati lainnya menghubungi Martin Luther meminta bantuannya untuk mengeluarkan mereka dari biara. Mereka berhasil bersembunyi di kereta Koppe yang tertutup antara barel ikan dan melarikan diri ke Wittenberg. Ini merupakan langkah yang sangat berbahaya bagi para biarawati yang melarikan diri dan menyangkalagama mereka karena hukumannya adalah hukuman mati.

Setelah mereka keluar maka dengan cepat mereka ditempatkan di keluarga atau menikah karena tidak ada tempat untuk perempuan lajang dalam masyarakat pada waktu itu. 

Pada tahun 1525 Katharina menikah dengan Marthin Luther. Boleh dikatakan pernikahan mereka tidak dimulai atas dasar cinta, bahkan Katharina melihat pernikahannya sebagai suatu tugas dari Allah sedangkan bagi Luther adalah untuk menyenangkan hati ayahnya. 

Meskipun demikian, pernikahan mereka pada akhirnya menjadi sebuah pernikahan yang bahagia, dan menjadi kisah cinta yang sangat menguatkan. 

Katharina bukan wanitalah biasa, dia adalah seorang istri yang cerdas, terampil, cekatan, dan selalu giat bekerja, dia bangun jam 4 pagi untuk mengurus kebutuhan sehari-hari suami dan mendidik 6 anak mereka, ditambah lagi 11 anak yatim piatu yang mereka adopsi. Sampai-sampai Luther bercanda memberikan dia julukan Bintang Pagi Wittenberg.

Peran dan pelayanan Katharina dalam rumah tangga, memberikan ruang gerak yang luas bagi suaminya, untuk menulis, mengajar, bepergian, dan berkotbah paling tidak sebanyak 150 kali setiap tahunnya. Ini adalah kontribusi yang tidak terlihat dari seorang Katharina bagi Reformasi. 

Pada jaman itu panggilan hidup wanita Kristen yang dianggap ideal adalah sebagai seorang biarawati. Namun, Katharina memberikan contoh teladan baru tentang apa artinya menjadi seorang wanita yang mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan, melalui pelayanan di dalam keluarga dan gereja. Ketika mengerjakan tugasnya sehari-hari, dia tidak memisahkan mana tugas yang rohani mana yang tidak karena dia percaya bahwa dia sedang melayani Allah di dalam segalatugasnya

Keluarga Luther tidak luput dari kesedihan yang mendalam, Anak ke-2 mereka, meninggal pada usia 10 bulan. Anak ke-3 mereka, meninggal pada usia 13 tahun. Puncak kesedihan Katharina adalah pada saat Martin Luther, suami terkasihnya meninggal dunia pada tahun 1546. Katharina sangat sedih dan hancur hati. Setelah kematian suaminya, dia mengalami kesulitan dalam keuangan sehingga dia terpaksa harus meninggalkan rumahnya. 

Pada saat terjadi pandemi Black death, Katharina pergi ke Torgau untuk menyelamatkan diri tetapi dalam perjalanan itu dia mengalami kecelakaan parah dan meninggal 3 bulan kemudian pada usia 53 tahun. 

Di ranjang kematiannya, Katharina memberikan pernyataan seperti ini, “Aku akan tetap menempel erat pada Kristus, seperti mantel yang bergantung pada kaitannya.” 

Kehidupan Katharina adalah suatu kesaksian hidup yang selalu bergantung kepada Tuhan,dan menunjukkan keinginan hatinya untuk menjunjung tinggi kebenaran. Warisan terbesarKatharina bagi Reformasi adalah kesetiaannya di dalam pernikahannya dan dalam imannyakepada Tuhan, juga teladan kesalehannya bagi gereja.

Martin Luther dan 95 Tesis

Halo teman-teman, hari ini kita akan membahas seorang tokoh Reformasi Protestan yang bernama Martin Luther.

Martin Luther lahir pada 10 November 1483 di Eisleben, Jerman. Orangtua Luther berharap agar anaknya menjadi pengacara yang sukses. Tetapi Tuhan memiliki kehendak lain. Luther memutuskan untuk menjadi  seorang Biarawan. Tidak hanya itu, Luther juga terus belajar dan menjadi seorang pastor sekaligus profesor di bidang Teologi.

Di zaman Luther, pada masa pemerintahan Paus Leo X tahun 1517, Gereja Katolik melakukan praktik penjualan surat Indulgensi (Surat Penghapusan Dosa) demi mengumpulkan dana untuk merenovasi Gereja St. Peter’s Basilica di Roma. Mereka mengklaim bahwa surat Indulgensi tersebut dapat menghapuskan dosa dan menyelamatkan manusia dari hukuman api penyucian/purgatori.

Luther mengetahui bahwa ini tidak benar. Sehingga pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memakukan disputasinya yang berjudul “Disputation on the Power and Efficacy of Indulgencies” atau yang lebih dikenal sebagai 95 Tesis di pintu gerbang gereja Wittenberg. Tesis Luther dianggap menyerang Gereja Katolik pada waktu itu.

95 Tesis Luther menejaskan bahwa: 1) Alkitab adalah otoritas tertinggi, dan 2) manusia bisa diselamatkan hanya melalui iman, bukan melalui hasil usaha sendiri.

Ketika Luther menulis tesisnya, ia sebenarnya bermaksud untuk mengutarakan pendapat melalui diskusi kaum cendekiawan dan bukan untuk melakukan pemberontakan terhadap Gereja Katolik. Waktu itu, diskursus melalui tulisan dan disputasi secara langsung lazim terjadi di kalangan cendekiawan.

Tetapi di luar dugaan, dalam waktu satu bulan, tulisan Luther telah menyebar ke seluruh Jerman. Hal ini mengakibatkan Surat Indulgensi menjadi tidak laku lagi dan Luther dianggap melawan Gereja Katolik. Momen ini juga menjadi momen penting yang memulai Reformasi Protestan.

Mari kita melihat beberapa poin dalam tesis Martin Luther:

  • Tesis no. 32: “Orang yang percaya bahwa, melalui surat pengampunan dosa, mereka dijamin mendapatkan keselamatan mereka, akan dihukum secara kekal bersama dengan guru-guru mereka.”
  • Tesis no. 36: “Setiap orang Kristen yang merasakan penyesalan yang sejati akan mendapatkan pengampunan dosa seluruhnya yang sejati dari penderitaan dan rasa bersalah, bahkan meskipun tanpa surat pengampunan dosa.”
  • Tesis no. 37: “Setiap orang Kristen sejati, entah yang hidup atau yang mati, mendapatkan bagian dalam semua berkat Kristus dan gereja yang diberikan kepadanya oleh Allah meskipun tanpa surat pengampunan dosa.”
  • Tesis no. 43: “Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memberi kepada orang miskin, atau memberi pinjaman kepada orang yang kekurangan, berbuat lebih baik daripada jika ia membeli surat pengampunan dosa.”
  • Tesis no. 50: “Orang-orang Kristen harus diajar bahwa,jika Paus mengetahui tuntutan para pengkhotbah pengampunan dosa, ia akan lebih menyukai jika Basilika St. Petrus dibakar sampai menjadi abu, daripada dibangun dengan kulit, daging, dan tulang domba-dombanya.”
  • Tesis no. 86: “Sekali lagi: "Mengapa Paus, yang kekayaannya saat ini jauh lebih banyak daripada orang yang paling kaya di antara orang kaya, tidak membangun Basilika St. Petrus dengan uangnya sendiri, sebaliknya dengan uang dari. orang-orang percaya yang miskin?''

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya pada bulan Juli 1520, Paus Leo X memutuskan bahwa pengajaran Luther sesat dan mengancam akan memberikan ekskomunikasi jika ia tidak menarik kembali ucapannya. Tetapi Luther dengan tegas menolak untuk menarik kembali ucapannya, dan membakar surat dari Paus yang membuatnya diekskomunikasi pada 3 Januari 1521.

500 tahun lebih sudah berlalu sejak reformasi Martin Luther, namun sekiranya kita tidak melupakan 2 pelajaran penting yang ditinggalkan oleh sang reformator, yaitu bahwa: 1) Alkitab adalah otoritas tertinggi dan 2) keselamatan hanya dapat diperoleh melalui iman.

Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua untuk menghargai Alkitab karena Alkitab adalah Firman Allah yang sangat mulia dan juga membacanya setiap hari agar iman kita semakin kuat.

Source: HISTORY, SarapanPagi Biblika Ministry

Martin Luther: Anak Laki-laki yang Menggoncangkan Gereja

Monty : Hi, Jason!

Jason : Hi Pak Monty!

Monty : Jason, kamu tau tidak apa yang biasa gereja rayakan pada bulan Oktober?

Jason : ga tau Pak. Ulang tahun gereja?

Monty : Bukan. Setiap bulan Oktober, seluruh gereja Protestan di dunia memperingati hari reformasi.

Jason : Oh iya Jason ingat. Tapi Reformasi apa sih Pak?

Monty : Reformasi adalah suatu gerakan membawa gereja kembali kepada kebenaran Alkitab.

Nah kali ini, kita akan mendengarkan sebuah cerita yang terjadi lebih dari 500 tahun yang lalu, tentang seorang anak laki-laki yang menggoncangkan gereja dan memulai gerakan Reformasi. Apakah Jason mau dengar?

Jason : Mau

Monty : Baik semua duduk dan dengarkan baik-baik ya.

Anak itu Namanya Martin Luther.

Ia lahir pada tahun 1483 di Jerman.

Martin seorang anak yang pintar. Dia suka membaca, menulis, bernyanyi dan berdiskusi tentang banyak hal. Keluarga Martin ingin agar dia menjadi seorang ahli hukum ketika dia besar nanti. Namun, Tuhan mempunyai rencana lain bagi Martin.

Suatu hari dalam perjalanan, badai hebat melanda dan tiba-tiba sebuah sambaran petir hampir mengenai Martin. Dengan gemetar ketakutan, dia berjanji akan menjadi seorang biarawan jika Tuhan selamatkan hidupnya.

Jason : Biarawan itu apa Pak?

Monty : Biarawan adalah orang yang tinggal di biara untuk belajar tentang agama.

Jason : Ow. Trus Martin selamat ga?

Monty : Nah doanya dijawab oleh Tuhan! Dia selamat dan Martin pun menepati janjinya.

Namun, walaupun sudah menjadi biarawan, Martin tetap saja tidak memiliki damai di hatinya; dia tidak yakin bahwa Tuhan mengasihinya. Dia berusaha berdoa lebih lama, berpuasa, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat supaya bisa diterima oleh Tuhan.

Sampai suatu hari, Martin membaca Roma 1:17 yang mengatakan bahwa “Orang benar akan hidup oleh iman”.

Lalu, Tuhan membuka hati Martin dan memberinya karunia iman yang sejati kepada Yesus. Martin menyadari keselamatan bukan karena usaha sendiri, melainkan anugerah dari Tuhan.

Martin sungguh bersukacita.

Pada saat itu, tidak semua orang bisa belajar dan membaca Alkitab. Alkitab hanya ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani - bahasa yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu saja. Jadi, banyak orang tidak sadar kalau gereja mengajarkan hal-hal yang tidak benar. Misalnya, ketika gereja saat itu mengajarkan bahwa pengampunan dosa dapat dibeli dengan uang. Martin menolak ajaran ini. Martin tahu bahwa itu adalah kebohongan. Maka pada tanggal 31 Oktober 1517, dia menulis 95 pernyataan tentang ajaran gereja yang salah dan menempelkannya pada pintu gereja di Wittenberg.

Tok…tok…tok… orang banyakpun mulai berkumpul dan membaca apa yang Martin tulis.

Lalu gemparlah kota itu. Banyak orang yang percaya dengan apa yang Martin tulis. Mata orang mulai terbuka terhadap kebenaran. Tetapi hal ini justru membuat para pemimpin gereja marah besar. Martin dianggap melawan gereja dan dipaksa untuk menarik kembali ajarannya. Tetapi Martin menolak dan dengan tegas menjawab, “Aku tidak akan menarik kembali pernyataanku. Di sini aku berdiri, kiranya Allah menolong aku”.

Pemimpin gerejapun berusaha untuk menangkap Martin. Tetapi Tuhan menyelamatkan Martin melalui teman-temannya yang menyembunyikannya sehingga dia luput dari hukuman. Dalam persembunyian, Martin mulai menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman. Hasilnya, semakin banyak orang dapat membaca dan mengerti Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.

Sejak saat itu, gerakan Reformasi mulai tersebar ke seluruh dunia.

Nah anak-anak,

Sekarang kita bersyukur punya Alkitab dalam bahasa yang bisa kita mengerti. Jangan sia-siakan. Ayo baca Alkitab setiap hari supaya kita kenal Kebenaran dan memiliki iman yang sejati. Kalau tidak baca Firman, kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jadikan Firman yang utama dalam hidup kita. Walaupun sudah pergi ke sekolah minggu sejak kecil, bukan berarti kita sudah diselamatkan. Tetapi kita diselamatkan dan dibenarkan hanya melalui iman dalam Yesus Kristus.

Anak-anak,

Tuhan sudah pakai anak laki-laki yang bernama Martin Luther menjadi Bapa Reformasi Protestan, untuk memulai hal yang luar biasa 500 tahun yang lalu. Tapi bukan berarti reformasi sudah selesai. Tuhan mau kita teruskan semangat reformasi, supaya Injil yang sejati boleh semakin dikenal.

Monty : Jason mau Tuhan pakai seperti Martin Luther?

Jason : mauuu

Monty : Kalau begitu jangan lupa rajin baca Firman dan doa. Anak-anak di rumah juga ya. Kiranya Tuhan boleh pakai hidup kita sejak kecil untuk meneruskan semangat reformasi. Tuhan memberkati

 

Renungan bagi Kaum Muda: Ketakutan akan Penilaian Orang

Seringkali kita sebagai anak-anak Tuhan merasa takut akan penilaian orang terhadap diri kita. Kalau ada orang yang lihat saya berdoa di depan umum, apa mereka akan pikir saya aneh? Kalau tiap kali teman saya ajak jalan saya selalu bilang tidak karena alasan gereja, apa mereka akan mencap saya fanatik? Kebanyakan orang seperti domba yang hanya menjadi pengikut. Kita mengikuti apa yang orang lain ikuti. Kita tidak berani melawan arus. Nilai-nilai yang dianggap penting oleh kebanyakan orang, itu yang kita kejar. Opini orang tentang kita, itu yang kita pikirkan dan menjadi penentu identitas diri kita. Misalnya bagi kebanyakan orang, akhir pekan adalah hari untuk berkumpul bersama teman dan keluarga. Lebih baik kita tidak pergi ke gereja daripada nanti dicap tidak gaul dan terlalu fanatik oleh teman-teman yang mengajak kumpul-kumpul hari Sabtu dan Minggu. Ingatlah apa yang tertulis dalam Matius 10:28,” Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Bagaimana perasaan kita ketika orang mencap kita fanatik atau tidak gaul? Apakah itu membuat kita menjauhi Tuhan? Apakah kita lebih takut akan penilaian orang lain terhadap kita dibandingkan dengan takut kepada Tuhan? Kolonel James Gardiner, seorang tentara yang berani dan saleh berkata, “Saya takut akan Tuhan, karena itu tidak ada seorang pun yang lain yang saya takuti.” Dalam Yesaya 51:7-8 tertulis, ”Janganlah takut jika diaibkan oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka. Sebab ngengat akan memakan mereka seperti memakan pakaian dan gegat akan memakan mereka seperti memakan kain bulu domba; tetapi keselamatan yang dari pada-Ku akan tetap untuk selama-lamanya.” Apakah ada seorang pun di dunia ini yang bisa menyelamatkan jiwa kita? Tidak! Hidup kita begitu singkat dan penuh ketidakpastian. Satu hal yang pasti adalah bahwa kita pasti akan mati dan dihakimi oleh Allah. Jadi, jangan kita kuatir akan apa yang dunia katakan atau pikirkan tentang kita karena tidak selamanya kita ada di dalam dunia. Jangan malu membiarkan orang melihat kita sebagai pengikut Kristus yang sungguh-sungguh dan jangan pernah takut untuk melakukan apa yang benar walaupun itu berarti kita melawan arus dunia. Oleh: DO

Dunia untuk Kita atau Kita untuk Dunia?

Tahun 2020 merupakan dekade baru yang sangat menggemparkan dunia. Semua ini terjadi karena virus yang tidak terlihat yang disebut Corona. Siapa pun terkena dampak dan imbas dari virus ini, tanpa terkecuali. Negara maju, negara berkembang, negara manapun, semua terguncang dengan adanya virus kecil ini.

Bagaimana dengan kita? Ya, pasti kita semua terkena imbasnya. Bukan hanya di dalam hal pekerjaan atau sekolah yang membuat kita harus menyesuaikan diri tinggal di rumah aja, tetapi secara sadar atau pun tidak, muncul adanya kekhawatiran di dalam diri kita. Ketakutan-ketakutan akan bahaya virus yang mengancam membuat kita berpikir panjang untuk keluar rumah atau parno kalau dekat orang yang tiba-tiba batuk atau bersin.

Virus ini sudah membawa banyak perubahan dalam diri kita. Kita seperti dipaksa berdamai dengannya dengan cara hidup dalam new normal. Keadaan dunia ini seakan-akan mengubah semua rencana dan pola keseharian kita menjadi hal yang baru. Sebagai contoh, dulu ketika kita pulang dari kegiatan apapun di luar rumah, tidak ada dorongan untuk langsung mandi atau cuci tangan. Namun, sekarang hal itu jadi kebiasaan baru yang wajib dilakukan untuk melindungi diri kita dan orang-orang di rumah.

Apapun dampak dari virus ini, ego dan masalah pribadi sering sekali jadi pokok doa kita yang terutama. Permohonan akan perlindungan Tuhan atas kesehatan, karir, dan semua jalan kita di dunia ini. Hal ini sangat wajar, tetapi pernahkah kita terketuk untuk mendoakan orang lain, bahkan orang yang tidak kita kenal? Ketika kita melihat berita tentang dunia dan semua ‘tragedi’ yang terjadi ini, pernahkah kita mohon pada Tuhan untuk memberi belas kasihan pada dunia ini?

“Sebentar, masalah pribadi saya saja belum kelar, apalagi mendoakan orang lain dan dunia?” pikiran inilah yang sering ada dalam hidup kita dan jadi fokus utama. Tuntutan hidup membuat kita berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik sehingga kita seringkali lupa apa tujuan utama hidup kita di dunia ini. Kita bekerja keras untuk karir yang lebih baik, kita belajar mati-matian untuk menjadi yang terbaik di angkatan, belum lagi masalah finansial, belum lagi planning masa depan, ini, itu, tetapi apakah ‘hanya’ itu yang Tuhan mau untuk kita kerjakan?

Bagaimana kalau kita sendiri tidak sadar bahwa Tuhan mau pakai kita dan kita justru abai akan panggilan-Nya?

Dari semua itu, mari kita pikirkan peringatan keras Mordekhai, orang tua angkat dari Ratu Ester, saat Ratu Ester bersikap tidak acuh terhadap ratapan yang sedang diderita oleh bangsa Yahudi waktu itu. “… Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Ester 4:13-14). Peringatan ini sangat menampar hati saya. Sebagai manusia biasa, Ester pasti memiliki ambisi dan pergumulannya sendiri yang membuatnya abai terhadap bangsanya. Saya percaya, kita semua tahu bahwa Allah pasti punya cara. Allah mampu menggunakan cara apapun, lebih dari sekedar magic, untuk memberi kelegaan dan kelepasan bagi umat-Nya, tetapi bagaimana kalau kita sendiri tidak sadar bahwa Tuhan mau pakai kita dan kita justru abai akan panggilan-Nya? Kitab Ester memang diakhiri dengan sukacita kebebasan bangsa Yahudi akan musuh-musuhnya. Akhir yang bahagia ini tidak akan terjadi jika Allah tidak menggerakkan Ester untuk berespon terhadap peringatan keras Mordekhai yang kemudian diikuti oleh perkabungan, puasa, dan doa yang dilakukan seluruh umat Yahudi.

Nah, kalo gitu, Allah kan pasti punya cara, in the end juga mereka bahagia, ngapain saya harus berdoa? Ntar juga kelar nih pandemik. Well, let’s see. Bisa jadi pandemik ini tidak akan berakhir. Bisa jadi besok ketika kita bangun di pagi hari sudah tidak ada wabah Corona. Segala sesuatu bisa terjadi di luar kendali kita, tetapi perlu kita cermati dan sadari bahwa cara kerja Allah bukan dengan kita berdiam diri saja.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada Daniel. Daniel merupakan nabi besar yang dengan rendah hati mempelajari kitab, termasuk kitab Yeremia. Ia menemukan akan adanya jumlah tahun yang berlaku atas timbunan puing Yerusalem, dimana itu artinya akan ada pembebas untuk bangsanya, tetapi pembebasan itu belum kunjung datang. Menanggapi hal tersebut, Daniel bukannya bersikap tidak acuh, tetapi ia justru mengarahkan mukanya pada Tuhan Allah untuk mendoakan, memohon sambil berpuasa, dan mengenakan kain kabung serta abu (Daniel 9:3). Dan Allah menggenapi janji-Nya dengan memberikan Pembebas, tidak hanya untuk bangsa Yahudi saja, tetapi juga seluruh dunia, yaitu Dia yang kita sebut dengan Mesias. Allah memang tidak akan mengingkari janji-Nya, tetapi Ia mau kita berespon dengan tepat terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita, salah satunya dengan cara berdoa.

Saya berdoa karena saya tidak bisa menahan diri. Saya berdoa karena saya tak berdaya. Saya berdoa karena kebutuhan mengalir keluar dari saya sepanjang waktu, ketika bangun dan tidur. Itu tidak mengubah Tuhan. Ini mengubah saya. – C. S. Lewis

Berdoa, berpuasa, dan memohon akan belas kasihan Allah merupakan bagian kita. Sekali lagi, hal ini bukan bertujuan untuk membuat Allah bekerja, BUKAN, tetapi ini untuk menggerakkan, membangun, dan mendorong iman kita terhadap Dia. Lebih daripada itu, kita juga harus sadar kepada siapa kita memohon. Allah adalah Allah yang maha benar, suci, dan tidak kompromi terhadap dosa. Oleh karena itu, doa dan permohonan kita juga harus diikuti dengan menghilangkan our righteousness, merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui betapa berdosanya dan kebergantungan kita akan Dia. Betapa sombongnya kita untuk menjadikan ‘aku’ sebagai yang terutama. Mintalah pengampunan akan dosa kita dan dosa umat-Nya, walaupun kita sebenarnya tidak layak, tetapi kita mau lakukan ini demi kemuliaan Tuhan nyata dalam hidup kita baik secara individu maupun komunal.

Jadi, dunia untuk kita atau kita untuk dunia? Menurut saya, ini merupakan sebuah relasi unik. Allah memang menciptakan dunia ini untuk manusia, tetapi Allah juga mempercayakan sebuah tugas untuk manusia, yaitu Allah mau kita berkuasa atas bumi ini (Kejadian 1:26). Definisi kekuasaan ini menjadi tercemar karena manusia jatuh ke dalam dosa dan merasa kekuasaan itu seperti ‘raja kecil’ yang bisa berbuat semaunya. Tetapi sebenarnya “berkuasa” berarti mengelola, menjaga, memelihara, dan memperhatikan, bukan sebaliknya. Ia memanggil kita, mengingatkan kita lagi dan lagi akan tugas yang telah Ia percayakan pada kita terhadap dunia ini.

Pandemik ini seharusnya manjadi peringatan bagi kita semua. Mungkin apa yang dapat kita lakukan saat ini terbatas, tetapi bukan berarti kita bersikap seolah-olah kita berada pada belahan dunia yang lain. Ya, adalah kewajiban kita untuk menjalankan protokol kesehatan, tetapi tugas kita bukan sebatas itu saja. Kita harus ingat, Tuhan mau kita turut memperhatikan dan mendoakan dunia ini. Milikilah hati yang berdoa dan memohon belas kasihan Tuhan bagi dunia, bangsa, gereja, keluarga, dan orang lain. Mari kita menjalankan tugas kita untuk memperhatikan dunia, melakukan apa yang Allah mau untuk kita lakukan bagi dunia ini, dan memohon belas kasihan Allah melalui kesungguhan hati mendoakan keadaan dunia ini.

Oleh: EG

Image source: Comemo

Quote of the day

Sungguh benar bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan tidak akan kecewa.

George Muller