Allah yang Cemburu

Allah yang Cemburu

Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Allah itu cemburu? Bukankah cemburu itu sesuatu yang tidak baik? Ketika kita berbicara mengenai Allah, tentu kita membayangkan hanya karakter baik saja yang terdapat dalam diri Allah, dan cemburu bukanlah sesuatu yang kita pasangkan pada karakter Allah. Tetapi tidak demikian kata Alkitab. Ketika Allah membawa bangsa Israel keluar dari Mesir melalui Sinai dan memberikan hukum dan perjanjian-Nya, kecemburuan-Nya adalah salah satu karakter yang diajarkan Allah kepada mereka. “… sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu … (Keluaran 20:5b). Dan beberapa saat kemudian Allah memberi tahu Musa, “… karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburu, adalah Allah yang cemburu. (Keluaran 34:14b). Pernyataan diri Allah tentang nama-Nya di dalam Alkitab selalu menyatakan mengenai natur dan karakter-Nya.

Lalu bagaimana kita tahu bahwa kecemburuan Allah adalah sesuatu yang baik dalam diri Allah kalau bagi manusia kecemburuan adalah sesuatu yang dipandang buruk? Jika Allah itu sempurna dan layak kita sembah, bagaimana kita dapat menyembah Allah dalam kecemburuan-Nya?

Untuk menjawabnya, mari kita melihat dua hal ini:

  1. Deskripsi tentang Allah dalam Alkitab dinyatakan dalam bahasa yang diambil dalam keseharian hidup manusia.

Allah merendahkan diri-Nya dengan memakai bahasa yang dapat dipahami manusia karena itulah satu-satunya medium akurat yang dapat mengkomunikasikan hal-hal mengenai Dia kepada kita. Namun, yang harus kita ingat adalah ketika bahasa manusia sehari-hari dipakai untuk menggambarkan Allah, maka tidak ada batasan-batasan yang terjadi pada natur manusia terdapat pada penggambaran Allah. Dan elemen dari kualitas manusia yang berasal dari efek dosa juga tidak ada di dalam penggambaran Allah, hingga seluruh karakter Allah adalah karakter yang suci. Kecemburuan Allah bukan seperti kecemburuan manusia tetapi cemburu yang suci.

Kecemburuan Allah mendorong Allah untuk menghakimi orang-orang yang tidak setia dan jatuh kepada dosa dan ilah-ilah. Namun, pada saat yang sama Allah juga akan menebus dan membangkitkan umat pilihan-Nya dari penghakiman. Dan pada akhirnya kecemburuan Allah adalah kecemburuan bagi nama-Nya yang kudus agar Allah dipermuliakan di antara bangsa-bangsa.
  1. Ada dua jenis kecemburuan di tengah-tengah manusia.

Yang pertama adalah cemburu yang jahat. Di dalam Bahasa Inggrisnya adalah envy. Suatu ekspresi dari keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak dia punya dan ada perasaan benci atau ketidaksenangan karena orang lain memiliki yang dia tidak punya. Perasaan ini muncul dari ketamakan yang berasal dari harga diri manusia dan dapat menimbulkan suatu obsesi yang berbahaya.

Tetapi ada jenis kecemburuan kedua, di dalam Bahasa Inggris adalah jealousy, yaitu kecemburuan untuk melindungi suatu hubungan kasih yang ada di dalam suatu kovenan/perjanjian (misalnya dalam relasi suami-istri) dan mengambil tindakan ketika relasi di dalam kovenan itu dirusak. Tindakan ini bukan muncul sebagai reaksi buta dari harga diri yang terluka, tetapi buah dari afeksi pernikahan, dan usaha untuk menjaga hubungan yang eksklusif dalam pernikahan.

Alkitab secara konsisten melihat kecemburuan Allah dalam jenis yang terakhir ini, yaitu sebagai suatu aspek dalam relasi kasih dalam kovenan Allah dengan umat-Nya. Di dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa Allah melihat kovenan/perjanjian-Nya sebagai bentuk pernikahan yang suci antara Allah dan umat-Nya yang menuntut adanya kasih yang tak bersyarat dari Allah dan kesetiaan dari umat-Nya.

Jadi, apa yang dimaksud oleh Allah ketika Dia mengatakan kepada Musa bahwa Dia adalah Allah yang cemburu? Allah menginginkan mereka yang telah dikasihi dan ditebus-Nya untuk setia sepenuhnya bagi-Nya dan Dia akan menghukum siapa saja yang mengkhianati cinta-Nya dengan ketidaksetiaan.

Kecemburuan Allah mendorong Allah untuk menghakimi orang-orang yang tidak setia dan jatuh kepada dosa dan ilah-ilah. Namun, pada saat yang sama, Allah juga akan menebus dan membangkitkan umat pilihan-Nya dari penghakiman. Dan pada akhirnya kecemburuan Allah adalah kecemburuan bagi nama-Nya yang kudus agar Allah dipermuliakan di antara bangsa-bangsa.

“Allah yang cemburu tidak akan puas dengan hati yang mendua. Kita harus mengasihi dan menempatkan Dia sebagai yang pertama dan terutama.” – Charles Haddon Spurgeon

Maka, ketika kita mengetahui bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu karena kita adalah umat yang dikasihi dan ditebus-Nya, kita dapat berespon dalam 2 cara, yaitu:

  1. Miliki hati yang sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan.

Adanya hasrat di dalam hati untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Hati yang 100% mengarah hanya kepada-Nya. Hasrat dan keinginan ini tidak secara alami ada pada diri manusia. Hanya Roh Kudus saja yang dapat membuat hati kita berpaling kepada Tuhan dan menginginkan apa yang diinginkan Tuhan. Orang yang hatinya 100% untuk Tuhan mempunyai satu hasrat dalam dirinya, yaitu hasrat untuk menyenangkan hati Tuhan dan memperluas kerajaan Allah sehingga nama Tuhan dapat dipermuliakan.

  1. Jangan merebut kemuliaan Tuhan.

Karena Allah yang cemburu bagi nama-Nya yang kudus tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada orang lain. Hanya Tuhan saja yang harus ditahtakan sebagai raja dalam hidup dan dalam hati kita. Jika kita memberikan tahta itu kepada orang lain atau hal lain yang menjadi keinginan hati kita selain Tuhan, maka itu sudah menjadi berhala/ilah dalam hidup kita. Dan secara tidak sadar kecenderungan hati kita sudah berpaling kepada berhala/ilah itu, dan kita sudah menggeser kedudukan Allah sebagai raja di dalam hidup kita.

Bagaimana dengan diri kita? Mari kita teliti hati kita dan minta Tuhan untuk menyelidiki dan menyingkapkan isi hati kita. Dan mintalah belas kasihan-Nya untuk Tuhan boleh bekerja dalam hidup kita sehingga nama-Nya dipermuliakan dalam hidup kita.

Oleh: MA

Image source: Wikipedia
Oleh:

Quote of the day

Sungguh benar bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan tidak akan kecewa.

George Muller