Renungan bagi Kaum Muda: Ketidakpedulian

Renungan bagi Kaum Muda: Ketidakpedulian

EGP (emang gue pikirin)?” Sangat umum kita mendengar ungkapan ini dari orang-orang di sekeliling kita.

Udah, nggak usah dipikirin, lakukan aja – hidup kan cuma sekali.” Inilah yang menjadi pegangan banyak orang muda dari jaman ke jaman. Mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan tidak akan menyebabkan masalah apapun ke depannya. Terlebih lagi, hal yang sudah ada di depan mata, yang sangat menarik hati, menciptakan dorongan kuat untuk mengejarnya, seringkali tanpa dipertimbangkan baik-baik. Toh, yang penting sekarang hidup enak – ada waktunya untuk kerja keras nanti! Namun sebagaimana orang yang terlalu asyik melihat HP dan tidak peduli terhadap sekeliling jatuh ke lubang yang persis di depannya, ketidakpedulian adalah suatu bahaya yang sangat sulit terdeteksi.

Menurut J. C. Ryle, ketidakpedulian adalah sesuatu yang membahayakan, terutama bagi anak muda. Ini dikarenakan sifat acuh tak acuh dan tidak peduli untuk memikirkan matang-matang setiap hal yang akan dilakukan. Ini seringkali terjadi di dalam hidup kita, mulai dari hal-hal yang sederhana, hingga sampai ke hal-hal yang rumit, misalnya memilih pekerjaan hanya karena uang, bermain games, dan jalan-jalan ketimbang belajar dengan keras, memilih pasangan hidup hanya karena penampilan, semuanya hal-hal yang kelihatan sederhana yang mengakibatkan penderitaan bertahun-tahun. Bila hal duniawi diremehkan sedemikian rupa, apalagi hal rohani? Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Ams. 16:25). Banyak anak muda mengejar dosa dan berkata, “Aku tidak memikirkan sampai ke sana; itu tidak terlihat seperti dosa, terlihat enak.” Dosa tidak akan datang kepada manusia sambil berkata, “Aku adalah dosa!” Dosa selalu terlihat “baik dan sedap kelihatannya” ketika ia hendak dijalankan (Kej. 3:6).

Oleh karena itulah Firman Tuhan mengajar untuk kita memperhatikan keadaan kita. Ketetapan hati untuk berhenti, berpikir dan mempertimbangkan hal seturut Firman Tuhan sangat penting. Maka dari itu, kita harus memperoleh hikmat dan pengertian (Ams. 4:7) dari sumber hikmat itu, yaitu Allah sendiri, melalui pertolongan Roh Kudus, dalam hati dan pikiran kita dan menjalankannya. Bijaksana untuk menyikapi segala sesuatu dibutuhkan bukan hanya untuk hidup rohani, tetapi hidup dalam dunia ini untuk kebaikan kita.

Mungkin terlintas suatu pikiran yang mengatakan, “Kalau begitu, masa hidup harus bersikap sangat suram dan termenung-menung?” Perlu dipahami, Allah adalah Allah yang ‘bahagia/menyenangkan’, bukan Allah yang dingin, kaku dan membosankan. Di dalam Yesus Kristus, Allah mau membentuk hati kita untuk bijaksana dalam mempertimbangkan apa yang kita lakukan dan ke mana kita berjalan, semua supaya kita bertumbuh dalam sukacita pengenalan akan Dia. Dan lebih daripada itu, Ia mau supaya kita makin berjalan hidup dalam pimpinan-Nya dan menikmati hidup serta diri-Nya senantiasa. Kiranya kita mau untuk dididik dan belajar untuk makin peduli dan berbijaksana dalam hidup di dalam Tuhan.

Oleh: HN

Oleh:

Quote of the day

Menjadi seorang Kristen tanpa doa sama tidak mungkinnya seperti menjadi hidup tanpa bernafas.

Martin Luther