Renungan bagi Kaum Muda: Cinta akan Kesenangan

Renungan bagi Kaum Muda: Cinta akan Kesenangan

Masa muda adalah masa yang paling indah, begitulah lirik dari sebuah lagu. Makanya menjadi tua adalah hal yang paling tidak ditunggu-tunggu di dalam hidup. Masa muda adalah masa dimana sebagian orang mencapai puncak dari kesehatan dan kekuatan secara fisik. Kekuatiran, sakit penyakit, dan kematian terdengar sebagai sesuatu yang asing. Banyak orang bilang, “Nikmatilah hidup selama kamu muda.” Dan itulah yang banyak dilakukan oleh orang muda. Mereka mengartikan kalimat ini sebagai suatu dorongan untuk melakukan apa saja yang menyenangkan mereka tanpa batas apapun. Banyak yang akhirnya hidup untuk kenikmatan itu sendiri dan hidup hanya untuk mengejarnya. Misalnya mengejar kesenangan dalam seks, alkohol, obat-obat terlarang, pesta pora, dan sebagainya. Ada kalimat yang mengatakan “Semakin dilarang, semakin penasaran dan semakin dikejar”. Kenikmatan itu terus dipikirkan siang dan malam.

J.C. Ryle mengatakan bahwa cinta akan kesenangan adalah salah satu hal yang harus diwaspadai oleh anak muda. Segala sesuatu yang memberikan perasaan senang, yang menenggelamkan pikiran yang jernih, yang menyenangkan indera dan memuaskan daging, semua ini menguasai hidup anak muda dengan begitu kuat. Tetapi semua kesenangan itu hanya bersifat sementara, tidak akan pernah memuaskan, kosong dan sia-sia. Seperti seekor belalang yang terlihat begitu indah dengan mahkota di kepala mereka, namun ternyata mereka memberikan sengat yang mematikan dengan ekornya (Wahyu 9:3-11). Cinta akan kesenangan akan mematikan jiwa. Semua yang hanya memberikan kenikmatan sementara bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya. Tubuh kita adalah pelayan yang berguna tetapi selalu menjadi tuan yang buruk, jadi jangan sampai kita menjadi hamba dari tubuh.

Itulah sebabnya Alkitab mengatakan jauhkanlah diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11). Jauhkanlah juga diri dari situasi-situasi yang mungkin membuat kita jatuh, jangan membicarakan hal tersebut dan jangan memikirkannya sehingga membuat kita tergoda untuk melakukannya. Seperti tertulis di Kolose 3:5, “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”.

Jadi, apakah menjadi anak Tuhan berarti kita tidak dapat menikmati hidup? Tentu tidak. Justru sebaliknya, Tuhan menciptakan kita sebegitu rupa dengan segala indera yang ada supaya kita dapat menikmati hidup yang Dia berikan dan dunia yang Dia ciptakan, dengan ucapan syukur dan di dalam kekudusan. Seperti tertulis di dalam Mazmur 16:11, Tuhan berkenan memberitahukan kepada kita jalan kehidupan; di hadapan-Nya ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Nya ada nikmat senantiasa. Kiranya kita boleh menikmati Dia selama-lamanya dan terus bertumbuh dalam sukacita mengenal Tuhan.

Oleh: HE

Oleh:

Quote of the day

Tidak ada kemuliaan yang lebih besar bagi manusia selain untuk memuliakan Allah.

J. I. Packer