Bagaimana mengetahui kehendak Tuhan di dalam hidup kita?

"Bagaimana caranya mengetahui kehendak Tuhan di dalam hidup kita?"

Ini adalah suatu pertanyaan yang semua dari kita bergumul. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan saya ahli, kita ahli, untuk mengetahui kehendak Tuhan. Tetapi di tempat yang lain, Alkitab dengan jelas menyatakan Tuhan itu ingin kehendakNya diketahui.

Nah sekarang saya ingin memberikan secara sederhana, hal-hal & prinsip apa untuk yang Tuhan nyatakan di dalam Firman-Nya untuk kita boleh mengenal Dia dan mengerti kehendak-Nya.

Yang pertama adalah baca Firman Tuhan, Alkitab, secara teratur.

Kita tidak bisa membaca bagian-bagian Alkitab yang kita inginkan saja, tetapi kita membacanya secara teratur, bab demi bab, ayat demi ayat. Alkitab itu akan memberikan kepada kita suatu kerangka berpikir mengerti kehendak Tuhan. Jadi bukan sesuatu yang mistik.

Oh, aku memilih itu atau memilih ini, maka kemudian Alkitab menyatakan: "Pilih yang A," oh, bukan seperti itu. Alkitab memberikan kepada kita prinsip-prinsipnya dan akan memberikan kepada kita cara berpikir untuk mengerti sifat Tuhan, mengenal pribadi-Nya dan kemudian baru kita akan mengerti kehendak-Nya. Pertama adalah baca Firman Tuhan secara teratur.

Kedua adalah milikilah hati yang ditetapkan untuk taat di depan.

Ini adalah sesuatu yang penting. Kita tidak bisa mengatakan kepada Tuhan, "Tuhan nyatakan kehendak-Mu," tetapi di dalam hati kita, "Aku tidak mau taat sepenuhnya atau kalau Tuhan katakan A, aku tidak mau, Tuhan katakan B, aku baru mau taat." Tidak, kita tetapkan hati di depan untuk taat kepada Tuhan terlebih dahulu, sebelum kita mengerti Tuhan menjawab apa. Ini ada di dalam Alkitab, di dalam Firman Tuhan, yang mengatakan: "Barangsiapa mau maka dia akan tahu", Yohanes 7:17. Yaitu, barangsiapa menetapkan hatinya taat terlebih dahulu, dia akan tahu kehendak Tuhan.

Hal yang ketiga adalah tidak ada orang yang bisa datang kepada Tuhan, mengenal Dia, tanpa hati itu adalah jujur, terbuka, dan tulus di hadapan Tuhan.

Ini yang di dalam Alkitab dikatakan integrity of heart (Integritas hati). Jadi, Tuhan itu bergaul dengan orang-orang yang jujur, Tuhan itu menyatakan kehendak-Nya kepada orang-orang yang tulus. Jujur, tulus, terbuka, itu adalah selalu hati yang kita harus jaga di hadapan Tuhan dan kemudian kita membaca Firman-Nya dengan teratur dan kita mau rela taat, maka kita lihat bagaimana Tuhan itu akan menyatakan sesuatu begitu jelas secara rohani di dalam hidup kita. Itu adalah mengerti kehendak Allah.

Renungan bagi Kaum Muda: Cinta akan Kesenangan

Masa muda adalah masa yang paling indah, begitulah lirik dari sebuah lagu. Makanya menjadi tua adalah hal yang paling tidak ditunggu-tunggu di dalam hidup. Masa muda adalah masa dimana sebagian orang mencapai puncak dari kesehatan dan kekuatan secara fisik. Kekuatiran, sakit penyakit, dan kematian terdengar sebagai sesuatu yang asing. Banyak orang bilang, “Nikmatilah hidup selama kamu muda.” Dan itulah yang banyak dilakukan oleh orang muda. Mereka mengartikan kalimat ini sebagai suatu dorongan untuk melakukan apa saja yang menyenangkan mereka tanpa batas apapun. Banyak yang akhirnya hidup untuk kenikmatan itu sendiri dan hidup hanya untuk mengejarnya. Misalnya mengejar kesenangan dalam seks, alkohol, obat-obat terlarang, pesta pora, dan sebagainya. Ada kalimat yang mengatakan “Semakin dilarang, semakin penasaran dan semakin dikejar”. Kenikmatan itu terus dipikirkan siang dan malam.

J.C. Ryle mengatakan bahwa cinta akan kesenangan adalah salah satu hal yang harus diwaspadai oleh anak muda. Segala sesuatu yang memberikan perasaan senang, yang menenggelamkan pikiran yang jernih, yang menyenangkan indera dan memuaskan daging, semua ini menguasai hidup anak muda dengan begitu kuat. Tetapi semua kesenangan itu hanya bersifat sementara, tidak akan pernah memuaskan, kosong dan sia-sia. Seperti seekor belalang yang terlihat begitu indah dengan mahkota di kepala mereka, namun ternyata mereka memberikan sengat yang mematikan dengan ekornya (Wahyu 9:3-11). Cinta akan kesenangan akan mematikan jiwa. Semua yang hanya memberikan kenikmatan sementara bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya. Tubuh kita adalah pelayan yang berguna tetapi selalu menjadi tuan yang buruk, jadi jangan sampai kita menjadi hamba dari tubuh.

Itulah sebabnya Alkitab mengatakan jauhkanlah diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (1 Petrus 2:11). Jauhkanlah juga diri dari situasi-situasi yang mungkin membuat kita jatuh, jangan membicarakan hal tersebut dan jangan memikirkannya sehingga membuat kita tergoda untuk melakukannya. Seperti tertulis di Kolose 3:5, “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”.

Jadi, apakah menjadi anak Tuhan berarti kita tidak dapat menikmati hidup? Tentu tidak. Justru sebaliknya, Tuhan menciptakan kita sebegitu rupa dengan segala indera yang ada supaya kita dapat menikmati hidup yang Dia berikan dan dunia yang Dia ciptakan, dengan ucapan syukur dan di dalam kekudusan. Seperti tertulis di dalam Mazmur 16:11, Tuhan berkenan memberitahukan kepada kita jalan kehidupan; di hadapan-Nya ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Nya ada nikmat senantiasa. Kiranya kita boleh menikmati Dia selama-lamanya dan terus bertumbuh dalam sukacita mengenal Tuhan.

Oleh: HE

Doa – Pilihan atau Kebutuhan?

“Menjadi seorang Kristen tanpa berdoa sama mustahilnya dengan hidup tanpa bernafas” adalah satu kalimat dari seorang tokoh Reformed besar, Martin Luther. Ketika seseorang sudah menjadi Kristen, maka doa bukan lagi suatu pilihan tapi merupakan kebutuhan mutlak. Sama halnya seperti bernafas, tidak ada manusia yang bernafas hanya sesekali saja, bukan? Setiap saat kita harus bernafas untuk tetap hidup, maka seperti itu juga seharusnya kehidupan doa anak-anak Tuhan yang sejati.

“Berdoa adalah ekspresi iman seseorang yang natural sama seperti bernafas bagi hidupnya.” - Jonathan Edwards

Mazmur 116:1-2 dengan indah mencatat tentang hal ini. Daud menuliskan, “Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.” Dalam satu terjemahan bahasa Inggris, ayat 2 dikatakan, “TUHAN membungkuk (He bends down) untuk mendengar, maka aku akan terus berdoa sepanjang aku bernafas” (New Living Translation, terjemahan bebas). Dapatkah kita membayangkan Tuhan pencipta dan pemilik seluruh alam semesta ini begitu ingin mendengarkan doa anak-anak-Nya, sampai dikatakan bahwa Ia menyendengkan telinga-Nya, Ia membungkuk untuk mendengarkan cerita kita? Allah yang kita sembah bukan Allah yang jauh di sana dan tidak lagi mempedulikan apa yang terjadi pada hidup kita, melainkan Dia adalah Allah yang ingin berelasi dengan manusia ciptaan-Nya.

Daud merupakan seorang raja sekaligus nabi yang diurapi Tuhan, tetapi hidupnya dipenuhi dengan kejaran musuh dan penderitaan. Pada masa-masa sulit dan terhimpit, Daud berseru kepada Tuhannya di dalam doa dan Tuhan mendengar serta menjawab doa Daud. Orang-orang yang berseru kepada Tuhan di dalam doa dan mengalami sendiri pertolongan Tuhan dalam hidupnya akan mengerti bahwa hanya Tuhan yang dapat diandalkan, tidak ada yang lain.

Tuhan yang hidup dan mendengar doa

Salah satu raksasa rohani yang kehidupan doanya seperti nafas dalam hidupnya adalah seorang misionaris bernama George Muller. Tuhan memakai hidup Muller untuk menjadi berkat bagi puluhan ribu anak-anak yatim piatu yang ada di kota Bristol, Inggris. Muller bukan orang kaya yang mampu mengasuh dan menghidupi begitu banyak anak yatim, tapi dia adalah orang yang sepenuhnya bergantung pada pertolongan Tuhan di dalam doa. Muller memiliki beban besar dalam hatinya untuk menunjukkan kepada setiap orang, terutama mereka yang tidak percaya pada Tuhan, bahwa dia berdoa kepada Tuhan yang hidup. Jika kita membaca buku hariannya, maka kita bisa melihat sendiri bagaimana Tuhan menjawab doa-doa Muller dengan cara dan waktu-Nya yang ajaib.

Seperti hari-hari biasa, pagi itu di panti asuhannya seluruh anak-anak berkumpul untuk sarapan. Kira-kira 300 anak sudah duduk manis di depan meja makan, tetapi saat itu di hadapan mereka hanya ada piring yang kosong. Hari itu mereka kehabisan makanan, tidak ada makanan yang dapat diberikan untuk anak-anak, tetapi saat itu Muller tetap memimpin doa makan seperti biasa dan mengucap syukur kepada Tuhan untuk makanan yang akan mereka makan (dengan penuh keyakinan Tuhan akan menyediakan). Tidak lama setelah itu, terdengar suara ketukan pintu. Seorang tukang roti datang dengan membawa begitu banyak roti. Dia berkata bahwa sepertinya hari itu Tuhan menyuruhnya untuk membuat roti lebih banyak dari biasanya untuk dikirim ke panti asuhan. Muller begitu berterima kasih dan langsung membagikan roti itu kepada anak-anak. Tidak lama setelah itu, terdengar suara ketukan lain dari luar. Kali ini seorang tukang susu yang berdiri di depan pintu. Dia berkata bahwa ban mobilnya kempes sehingga harus diperbaiki dan itu membutuhkan waktu yang lama, maka dia memutuskan untuk memberikan semua susu yang dibawanya kepada panti asuhan Muller karena kalau tidak, susu itu akan rusak. Pagi itu, Tuhan menyediakan makanan dan minuman kepada ratusan anak dengan cara yang luar biasa.

Dalam hidupnya, Muller tidak pernah meminta atau memohon bantuan dari orang lain, tidak pernah juga berinisiatif mengadakan acara penggalangan dana untuk kebutuhan panti asuhannya. Dia mengandalkan dan percaya kepada Tuhan sepenuhnya dan Muller membuktikan sendiri bahwa Tuhannya hidup dan mendengar doa.

Mengandalkan Tuhan, bukan diri

Mungkin kita berkata dalam hati, “Yah, itu kan Daud. Itu kan George Muller. Mana mungkin kita bisa seperti mereka?” Jangan lupa bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sama yang disembah Daud atau Muller. Hal-hal besar itu dapat terjadi bukan karena kehebatan orang-orang itu, tetapi karena Tuhan yang bekerja melalui hidup mereka. Tuhan berkenan menyatakan pertolongan-Nya kepada orang yang dengan sepenuh hati berharap kepada-Nya.

Tapi masalahnya kita sering sekali mengandalkan kemampuan diri sendiri atau bahkan orang-orang di sekeliling kita. Kita mau mendapat jalan keluar yang cepat dan mudah. Waktu masalah datang, kita sibuk mencari bantuan dari kanan dan kiri, mengusahakan segala macam cara tanpa bergumul bersama Tuhan terlebih dulu. Pada akhirnya, setelah kita menemui jalan buntu dan semua usaha kita gagal, barulah kita mencari Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Jangan salah mengerti bagian ini. Tidak ada yang salah ketika kita menerima pertolongan dari orang lain. Atau jangan juga berpikir bahwa di saat kita mendapat masalah, yang perlu dilakukan hanya berdoa dan tidak mengerjakan apa-apa. Tuhan dapat mengirimkan jawaban doa melalui orang-orang di sekitar kita, contohnya seperti kisah Muller yang doanya dijawab melalui tukang roti dan tukang susu itu. Doa juga tidak pernah meniadakan usaha manusia. Orang yang hidupnya mengandalkan Tuhan bukan orang yang pasrah dan hanya menunggu datangnya pertolongan. Ini semua bicara tentang arah hati. Yang salah adalah ketika kita menjadikan doa hanya sebagai pilihan (option) terakhir dalam hidup. Arah dan fokus hati kita tidak pernah benar-benar tertuju kepada Tuhan. Kita menjadikan doa hanya seperti ban serep yang baru kita keluarkan dan pakai sesudah tidak ada pilihan lain lagi.

Musa mengajarkan suatu prinsip penting yang seharusnya dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan; mencari pimpinan dan penyertaan Tuhan sebelum melangkah. Dalam kitab Keluaran pasal 33, Musa berkata kepada Tuhan: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Yang menjadi isi doa Musa bukan supaya dia bisa cepat tiba di Kanaan, tapi Musa minta agar Tuhan menyertai dan berjalan bersama dengan dia. Jika tidak, bagi Musa lebih baik tidak pergi ke tempat yang berlimpah susu dan madu itu. Musa mengarahkan hatinya pada pribadi Tuhan dan penyertaan-Nya lebih daripada apapun juga

Relasi Yesus dengan Bapa

Sepanjang hidup-Nya dalam dunia, Tuhan Yesus senantiasa berdoa kepada Bapa-Nya di sorga. Alkitab mencatat begitu banyak peristiwa dimana Yesus pergi menyendiri untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Bahkan setelah menjalani hari yang penuh dengan pelayanan; mengajar, menyembuhkan orang-orang sakit, dan melakukan mujizat, Tuhan Yesus tidak langsung beristirahat, melainkan Dia pergi berdoa: “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Matius 14:23).

 Isi hati Yesus terdalam adalah Bapa yang di sorga dan seluruh kehendak-Nya. Yang menjadi kerinduan-Nya adalah dapat bersekutu dengan Bapa di dalam doa. Puncaknya, pada malam sebelum disalib, Yesus berdoa dengan lebih sungguh lagi kepada Bapa. Injil Lukas mencatat, “Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Peperangan Yesus melawan penguasa kegelapan bukan dimulai di atas kayu salib, peperangan itu sudah dimulai dan dimenangkan-Nya di Taman Getsemani ketika Ia berdoa. Yesus menang ketika Ia menetapkan hati untuk meminum cawan murka Bapa atas dosa manusia. Ketika Ia taat pada kehendak Bapa, kuasa iblis dikalahkan. Jika Yesus yang adalah Anak Allah begitu bergantung kepada Bapa di sorga, terlebih lagi kita yang adalah manusia debu dan tanah. Bukankah kita yang seharusnya lebih sungguh lagi dalam kehidupan doa kita?

Relasi manusia dengan Bapa

Manusia yang sadar dirinya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan akan dengan rendah hati datang kepada-Nya, mengakui keterbatasan diri dan menyatakan kebergantungan penuh pada Tuhan. Ketika doa sudah menjadi seperti nafas hidup seseorang, maka pasti dia tahu ke mana harus berlari mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. 

Seperti relasi yang intim antara Yesus dengan Bapa, maka seperti itu juga seharusnya relasi kita dengan Tuhan. Pada intinya doa adalah relasi antara manusia ciptaan dengan Allah sang Pencipta dan ini merupakan satu-satunya sarana untuk kita berelasi dengan Tuhan. Ketika Allah menciptakan Adam dari debu dan tanah, Allah menghembuskan nafas-Nya sendiri ke dalam tanah itu sehingga manusia pertama hidup dan memiliki kemungkinan untuk berelasi dengan Dia. Allah kita bukan Allah yang jauh dan tidak terjangkau. Dia Allah yang begitu mengasihi dan ingin dekat dengan umat-Nya. Maka setiap kali kita berdoa, fokuslah pada pribadi-Nya. Tidak hanya memikirkan ap­a yang kita doakan, tetapi kepada siapa kita berdoa.

Tuhan begitu ingin mendengar kita berbicara kepada-Nya, Ia menyendengkan telinga-Nya terhadap doa permohonan kita. Bahkan ketika ada yang tidak dapat kita ucapkan dalam hati, Ia pun mengerti dan mengetahuinya. Jangan bertele-tele dan sibuk menyusun kalimat indah atau merangkai kata yang panjang seperti ingin memberi setumpuk informasi kepada Tuhan dalam doa kita. Kita juga tidak perlu mengarahkan Tuhan atas jalan keluar sesuai keinginan kita. Tuhan tidak perlu arahan manusia. Dia mengetahui setiap detail hidup kita dan paling mengerti jalan keluar terbaik bagi kita. Serahkanlah seluruh jawaban doa di tangan Tuhan, biarkanlah Dia bekerja dengan bebas dalam hidup kita melalui cara-Nya sendiri.

“ Sepanjang Tuhan masih memberi nafas, sepanjang itulah kita harus terus bergantung kepada-Nya di dalam doa.”

Kiranya Tuhan menumbuhkan kerinduan dalam hati kita untuk datang mendekat kepada-Nya. Berdoalah, karena Tuhan mendengar. Berdoalah, karena kita tidak dapat melakukan apapun juga tanpa pertolongan-Nya. Berdoalah, karena dengan berdoa kita dapat mengalahkan godaan dan cobaan dari si jahat. Sepanjang Tuhan masih memberi nafas, sepanjang itulah kita harus terus bergantung kepada-Nya di dalam doa.

Oleh: ET

Image source: Unsplash

Saya & Corona

Di dalam podcast ini kita akan berbicara tentang satu tema yang begitu penting yaitu tema Saya & Corona”. Kali ini saya ditemani oleh rekan saya Jeanifer. Jeanifer mungkin bisa memperkenalkan diri secara singkat untuk teman-teman di rumah.

Nama saya Jeanifer. Saya berprofesi sebagai seorang nurse (perawat) di emergency department di salah satu rumah sakit di Sydney. Dan ini adalah tahun kelima saya sebagai seorang nurse. 

Selamat datang Jean. Jean mungkin bisa share sedikit kapan pertama kali mendengar tentang virus corona ini dan waktu itu apa sih yg dipikirkan?

Jujur saat pertama kali mendengar virus ini, saya tidak melihat ini sebagai sesuatu penyakit yang serius, karena yang kami ketahui pada saat itu, dilihat dari sudut pandang medis, gejala-gejala dari coronavirus ini sangat ringan. Sangat mirip sekali dengan gejala flu yang setiap tahun terjadi saat memasuki musim dingin datang. Saya sejujurnya berpikir bahwa ini adalah kemungkinan besar bentuk lain dari penyakit flu atau radang paru2 biasa yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Tetapi minggu berganti minggu, situasi dunia mulai berubah, setelah mendengar berita dimana virus ini telah menyebar ke Italia dan beberapa negara Eropa dan asia yang ternyata memakan korban bahkan jauh lebih banyak dari pada China, dan disitulah pandangan saya mulai berubah terhadap virus ini secara signifikan. Ada sesuatu yang berbeda dari virus ini, bukan hanya penyakit radang paru-paru biasa yang dialami oleh banyak pasien yang kami dirawat di rumah sakit saat musim dingin mulai datang, ini adalah sesuatu yang tampak ringan dari gejalanya, tapi secara prognosis, ini bisa mematikan. Bukan hanya mematikan bagi yang berusia lanjut, tapi bagi yang masih muda pun, virus ini bisa mengancam kehidupan mereka.

Apa yang dipikirkan ketika pertama kali diperhadapkan dengan pasien yang terkena corona?

Setelah dinas kesehatan Australia mulai mengambil siaga 1 melawan coronavirus semua setting yang ada di rumah sakit, peraturan dan protokol mulai berubah. Kami tidak lagi diperbolehkan untuk memakai seragam yang biasa kami pakai saat berangkat kerja dari rumah, kami tidak lagi boleh mengantongi handphone atau membawa barang bawaan yang kami biasa bawa ke rumah sakit. Kami disediakan tas khusus dan dianjurkan untuk meninggalkan sepatu yang kami pakai di rumah sakit dan memakai sepatu lain untuk pulang ke rumah. Saat kami bekerja pun, kami diberikan seragam khusus untuk bekerja dimana baju-baju tersebut akan disterilkan setelah pemakaian. Bukan hanya seragam khusus tapi kami harus mengenakan masker dan alat pelindung tubuh selama shift kami berlangsung. Kami tidak diperbolehkan memakai perhiasan seperti kalung, anting, cincin bahkan jam sekalipun saat kami bekerja karena benda-benda tersebut bisa menjadi salah satu mode of transmission yang sangat mungkin untuk virus ini kami bawa pulang ke rumah saat selesai bekerja. Saya ingat hari dimana atasan kami menghimbau perubahan-perubahan tersebut yang tadi saya jelaskan, mulai pada saat itu terjadi ketegangan pada saat kami bekerja dari hari-hari sebelumnya sebelum ada virus corona. Untuk keselamatan tenaga medis, setiap pasien yang datang ke emergency, harus kami perlakukan seolah-olah mereka positif virus corona. Ini karena kami mempunyai jumlah staf yang cukup terbatas dan kalau ada yang terkena maka akan sulit untuk kami menyediakan pelayanan kesehatan untuk para pasien.

Hal ini membawa satu beban besar bagi perawat dan dokter karena kami tidak bisa tahu secara langsung siapa yang terjangkit dan siapa yang tidak. Sangat jelas dalam memori saya, ketakutan yang menyelimuti kami setiap kali kami memulai shift kami. Ketakutan dalam hal apa? Ketakutan karena memasuki suatu situasi yang dipenuhi ketidaktahuan. Tidak ada seorangpun yang mengerti dan tahu cara kerja virus ini, yang kami tahu virus ini sangat mudah untuk tersebar dari satu orang ke orang lain. Pada saat itu kami himbau secara tegas, jikalau ada dari kami yang mulai memiliki gejala2 seperti batuk, panas tinggi atau flu, atau apapun itu, kami harus secara jujur memberitahu pihak rumah sakit untuk kami di test untuk coronavirus dan kami dilarang untuk bekerja sampai kami mendapat satu clearance bahwa kami negative. Disitu saya sadar, bahwa Tuhan mengijinkan hal ini terjadi agar saya bisa lebih lagi bergantung sepenuhnya hanya kepada pribadi Tuhan. Yang sedang saya hadapi pada saat itu bukanlah bekerja melawan penyakit yang saya pernah pelajari dan kenal sebelumnya tapi saya sedang menghadapi satu tantangan penyakit dimana manusia diseluruh dunia tidak tahu cara kerja dan bagaimana virus corona bekerja. 

Dalam masa-masa seperti itu, ada tidak suatu momen atau pergumulan yang paling berat bagi Jean?

Bagian yang paling menantang adalah saat saya harus memperlakukan bahwa semua pasien yang datang ke emergency itu sebagai pasien dengan positive corona. Pada setiap pasien saya harus melakukan proses testing itu dimana saya dengan alat pelindung diri yang lengkap harus mengambil sampel sel dari hidung dan tenggorokan setiap pasien yang kami curigai terjangkit coronavirus. Untuk mengambil sample ini, sangat lumrah untuk pasien menjadi batuk seketika saat sample taking dilakukan dan untuk mendapat sampel secara efektif, saya harus berdiri dekat pada wajah mereka dan saat mereka batuk seketika, itu adalah indikasi bahwa sample taking telah dilakukan dengan benar. Secara profesi saya harus merawat mereka sebisa yang saya mampu tapi disisi lain ada satu ketakutan yang nyata mulai memasuki pikiran saya saat itu. 2 pertanyaan ini muncul, bagaimana jika Tuhan mengijinkan saya terkena coronavirus dan bagaimana saya harus berespon. Setiap kali saya pulang, secara sadar saya harus menjaga jarak dengan orang2 di rumah karena saya tidak tahu jika saya membawa virus itu pulang ke rumah. Sempat tersirat satu pemikiran, mungkin saya harus pindah untuk sementara waktu selama masa pandemi ini. Kekhawatiran demi kekhawatiran berkecamuk dan setiap hari saat hendak memulai shift, doa yang saya saat itu adalah memohon pada Tuhan kalau saya terekspos virus ini, saya meminta agar Tuhan berikan kerelaan hati untuk turut merasakan apa yang pasien coronavirus itu rasakan. Saya memohon hati yang rela agar jangan sampai iman saya tergoncangkan. 

Jelas sekali iman Kristen itu sangat berperan besar dalam saya bekerja sebagai seorang perawat. Iman kepada Kristus lah yang memberikan saya satu teladan dan tujuan yang jelas mengapa saya berprofesi sebagai seorang nurse yaitu untuk menjadi terang dan garam bagi mereka yang lemah dan putus asa karena kondisi penyakit mereka sendiri

Tuhan di dalam providensia-Nya memberikan satu ketenangan kepada saya di tengah-tengah pandemik ini. Setiap hari saat datang kerja, banyak dari staff dan pasien yang menunjukan satu ketakutan terhadap kematian. Apakah akan sakit sekali rasanya saat mendekati kematian yang disebabkan oleh virus ini? Kita tahu bahwa belum ada obat yang bisa melawan virus ini, bahkan obat antiviral dengan spektrum tertinggi pun belum bisa dipastikan secara ilmiah mampu untuk melawan virus yang tidak terlihat ini. Ketakutan akan kematian bukan hanya bisa kita lihat di rumah sakit, ketakutan akan kematian ini benar-benar dirasakan oleh banyak orang di seluruh dunia. 

Masa pandemi ini telah mengubah cara manusia menunjukan perhatian kepada keluarga, teman dan sesama, pelukan dan sentuhan dulu adalah bentuk kasih sayang tapi sekarang, sikap ini menjadi sesuatu yang berbahaya karena transmisi virus corona yang sangat mudah berpindah. Pembatasan secara sosial dan fisik telah menjadi satu tanda bahwa kita peduli kepada orang lain. Ini adalah satu hal yang tidak pernah manusia pikirkan sebelumnya. Virus yang tidak terlihat ini telah sungguh-sungguh telah mengubah semua aspek kehidupan manusia. 

Satu ayat firman Tuhan yang terus saya pikirkan adalah adalah dari Ibrani 13:8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Orang percaya yang sejati akan mengalami penyertaan Allah yang penuh dengan kemurahan semasa ia hidup, ketika ia mati, dan untuk selama-lamanya. Dari janji yang bersifat luas dan mencakup semuanya ini, orang Kristen boleh yakin bahwa hanya dari Tuhan lah mereka beroleh pertolongan. Allah Tritunggal yang adalah pencipta dari seluruh alam semesta ini, di dalam kedaulatan-Nya sudah mengetahui saat virus ini pertama kali muncul, kemana virus ini akan pergi dan kapan virus ini akan berhenti menyebar. Dan ini menjadi satu pengharapan besar bagi umat manusia ciptaan-Nya dimana di dalam kepak sayap-Nya lah kita bisa mendapatkan perlindungan, pada batu karang yang kokoh itulah iman kita tidak bisa tergoncangkan dan di dalam kasih sayang-Nya lah kita mendapatkan ketenangan.

Kedaulatan yang sama yang sanggup menghentikan coronavirus, namun belum, adalah kedaulatan yang sama yang menopang jiwa manusia di dalamnya. Meskipun yang manusia rasakan saat ini adalah kesedihan, kehilangan, kekecewaan atau mungkin sekali keputusasaan, tetaplah ingat bahwa Tuhan pada diri-Nya adalah tetap Tuhan yang baik dan penuh dengan kemurahan terhadap kita kita manusia berdosa. Semua hal yang terjadi saat ini, pandemi, perang, keterpisahan bahkan dukacita tidak membuat attribute Allah berubah sama sekali. Mengutip satu kalimat dari John Piper, “Baik mati ataupun hidup, Tuhan akan beserta denganmu”. Sebagai seorang Kristen, bukan diri kita lagi yang paling penting, bukan keamanan kita atau apapun yang kita miliki tapi kita dituntut untuk melepaskan hak kita agar kehendak Tuhanlah yang sungguh-sungguh terjadi dalam hidup kita. Dan jikalau diperlukan jalan penderitaan dan kesakitan agar kehendak Tuhan yang terjadi maka mintalah Tuhan untuk Dia sendiri yang menguatkan dan meneguhkan hati kita. Soli Deo Gloria.

Quote of the day

Sungguh benar bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan tidak akan kecewa.

George Muller