Kemarahan Allah

Kemarahan Allah

Ketika membaca judul di atas, apa yang muncul dalam pikiran kita? Mungkin kita akan mengerutkan dahi sambil berpikir, apa iya Allah bisa marah? Bukankah Ia penuh kasih dan penyayang? Tetapi faktanya, bukan saja Allah pernah marah, tetapi Alkitab bahkan dengan jelas mencatat mengenai kemarahan dan murka Allah lebih banyak dibanding dengan kebaikan dan kelembutan-Nya (A.W. Pink, The Attributes of God). 

Kitab Ulangan 32:39-41 memberikan kita gambaran tentang Allah yang marah dan menuntut adanya pembalasan.

“Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. Sesungguhnya, Aku mengangkat tangan-Ku ke langit, dan berfirman: Demi Aku yang hidup selama-lamanya, apabila Aku mengasah pedang-Ku yang berkilat-kilat, dan tangan-Ku memegang penghukuman, maka Aku membalas dendam kepada lawan-Ku, dan mengadakan pembalasan kepada yang membenci Aku”.

Ketika kita membaca Alkitab secara keseluruhan, kita akan menemukan bentuk-bentuk kemarahan dan murka Allah di berbagai kitab lainnya. Kita akan menemukan Allah yang murka dan mengirimkan api (Bilangan 11:1-2), Allah yang membuat umat Israel mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun sehingga seluruh angkatannya habis mati (Bilangan 32:13), Allah yang menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora (Kejadian 19:24), dan Tuhan Yesus yang mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (Matius 21:12)

Alkitab juga mencatat beberapa peristiwa mengenai kemarahan Yesus. Salah satunya tercatat di dalam kitab Markus 3:5.

“Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.”

Yesus marah kepada orang-orang Farisi yang saat itu berada di rumah ibadat. Ia berdukacita karena melihat kedegilan hati orang-orang Farisi tersebut. Mereka yang adalah kaum pilihan, umat Israel, para ahli yang telah membaca dan merenungkan kitab suci tetapi tidak mengerti dan hati mereka jauh dari Tuhan. Bayangkan saja, ketika melihat Yesus menyembuhkan orang yang sedang sakit, alih-alih bersukacita, mereka malahan dengan sengaja mencari-cari hal apa yang bisa digunakan untuk mempersalahkan Yesus.

Kemarahan Tuhan Yesus tidak muncul karena Ia tidak dapat menguasai diri, tetapi karena Ia melihat suatu dosa sehingga hati-Nya menjadi marah dan berduka. Kemarahan Tuhan Yesus adalah kemarahan yang suci, sangat berbeda dengan kita. Kita seringkali mudah marah bahkan untuk hal-hal yang tidak perlu.

Kita marah karena barang milik kita hilang atau diambil orang, atau kita marah ketika menghadapi kemacetan lalu lintas. Mari kita berpikir sejenak, ketika orang lain menghina Kekristenan dan menjadikannya lelucon, bagaimana sikap kita? Apakah hati kita berduka dan marah? Atau barangkali kita juga tertawa dan menganggapnya sebagai hal yang lucu? Masakan kita tidak marah jika kesucian Allah kita diolok-olok? Kita harus mengintrospeksi diri kita. Apakah kita juga berduka terhadap hal yang mendukakan Allah? Apakah kita juga marah terhadap hal yang membuat Allah marah? Sudahkah kita sehati dan sinkron dengan Allah?

Tuhan Yesus sudah menjadi teladan untuk kita semua. Dia yang adalah Allah rela turun ke dalam dunia demi menebus dosa kita. Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan dan mengosongkan diri-Nya sendiri (Filipi 2:7). Dia tidak marah karena hak-Nya diambil orang lain, maupun ketika diolok-olok orang lain. Tetapi Ia marah terhadap dosa dan ketika manusia mempermainkan nama Allah. Inilah kemarahan yang sejati, kemarahan yang muncul dari kesucian Allah.

Pada zaman ini konsep kemarahan Allah sudah jarang dibahas. Kita lebih sering mendengar mengenai konsep kebaikan dan kasih Allah. Tetapi sesungguhnya, menurut A.W. Pink, kemarahan Allah adalah bentuk kesempurnaan dari keilahian-Nya yang harus terus kita renungkan. Mengapa kita perlu merenungkan mengenai kemarahan Allah?

Pertama, agar hati kita menyadari bagaimana Allah membenci dosa. Sebab seringkali kita memandang dosa sebagai hal yang ringan. Kedua, menghasilkan jiwa yang takut akan Allah. Kita harus melayani Allah yang sejati dengan perasaan gentar karena Allah kita adalah api yang menghanguskan. Ketiga, memiliki perasaan yang senantiasa bersyukur kepada Yesus Kristus karena telah melepaskan kita dari murka Allah.

Sebagai orang yang percaya, kita sepatutnya bersyukur karena telah dilepaskan dari murka Allah dan diperdamaikan dengan Dia. Tetapi kita tidak boleh menganggap remeh hal itu, dan terus berjuang untuk melawan dosa, sebab dengan jelas dikatakan bahwa Allah membenci dosa. Dan kita harus selalu mengingat bahwa Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12:29).

“Kita sudah terlalu meninggikan kasih Tuhan melampaui kesucian dan murka-Nya sampai neraka pun seolah-olah ber-AC.” - Steve Lawson
“Alkitab bahkan mencatat mengenai kemarahan dan murka Allah lebih banyak dibandingkan dengan kebaikan dan kelembutan-Nya.” - A.W. Pink, The Attributes of God

Oleh: DS

Image source: Wikipedia
Oleh:

Quote of the day

Tidak ada kemuliaan yang lebih besar bagi manusia selain untuk memuliakan Allah.

J. I. Packer