Kesabaran Allah

Kesabaran Allah

Kita sekarang hidup di zaman yang serba praktis dan serba cepat. Jika kita mengingini sesuatu, kita mau untuk mendapatkannya secepat mungkin bahkan detik ini juga. Konsep menunggu atau sabar menjadi sesuatu yang asing bagi kita semua. Hal ini dibuktikan dari peningkatan restoran cepat saji di Indonesia yang bertumbuh sekitar 15% setiap tahunnya. Menunggu 15 menit untuk makanan? 5 menit saja sudah terlalu lama! Hal yang sama juga terjadi di gereja-gereja masa kini. Mendengar khotbah satu jam? 15 menit saja udah kelamaan!

Mungkin kita setuju bahwa kesabaran adalah hal yang penting. Tetapi pertanyaannya, darimana kita belajar mengenai kesabaran? Kenapa seseorang perlu menjadi sabar? Jawabannya sederhana, karena Allah sendiri yang lebih dulu bersabar kepada kita.

Arthur W. Pink mendefinisikan kesabaran Allah sebagai kemampuan menahan amarah dan menunggu sebelum memberikan hukuman kepada orang-orang yang berdosa. Kita dapat melihat hal ini saat umat Israel memberontak kepada Allah di Kadesh, padang gurun Paran. Ketika Allah hendak melenyapkan mereka, seketika itu juga Musa berkata, “TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat” (Bilangan 14:18).

Kesabaran Allah terlihat ketika Ia berhadapan dengan kita semua, orang-orang yang berdosa. Dalam kitab Kejadian 6, dikatakan bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, oleh karena itu Allah berhendak untuk menghapuskan manusia maupun binatang yang ada di bumi. Ketika itu, hanya Nuh dan keluarganya saja yang benar di mata Allah. Kemudian Allah memerintahkannya untuk membuat sebuah bahtera karena akan datang air bah yang akan memenuhi seluruh bumi. Allah tidak langsung saat itu menghukum orang-orang yang berdosa, tetapi memberikan mereka waktu dan kesempatan untuk berbalik kepadanya, diperkirakan sekitar 120 tahun (Kejadian 6:3).

Apakah Allah tidak mampu untuk seketika itu juga memberikan hukuman kepada mereka? Tentu Ia mampu melakukannya, seperti tertulis dalam Kisah Para Rasul 5:1-11 mengenai Ananias dan Safira. Ketika mereka berbohong, seketika itu juga Allah langsung menghukum dengan mencabut nyawa mereka. Lantas mengapa Allah tidak langsung saat itu menghukum orang-orang yang berdosa? Satu-satunya jawaban adalah karena Ia panjang sabar atau dalam bahasa inggrisnya longsuffering. Ia menahan amarah-Nya dan memberikan waktu sebelum memberikan hukuman kepada kita semua, orang-orang berdosa yang layak untuk dimurkai-Nya.

Kejadian 3 menceritakan mengenai kejatuhan Adam dan Hawa sebagai perwakilan dari seluruh manusia telah jatuh ke dalam dosa. Allah kemudian menghukum dan mengusir mereka dari Taman Eden. Tetapi Allah juga yang membuatkan mereka pakaian dari kulit binatang dan mengenakannya kepada mereka. Oh betapa panjang sabar Allah kita! Tidak hanya itu, Ia juga menjanjikan bahwa akan ada kemenangan melawan keturunan ular melalui anakNya sendiri, yaitu Yesus Kristus.

Betapa seringnya kita melawan perintah-perintah Tuhan? Seringkali kita melawan Dia, melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya, memanfaatkan kebaikan dan kesabaranNya terhadap kita. Apa yang seharusnya kita lakukan?

Paulus dalam 1 Timotius 1:16 memberikan kita gambaran tentang kesempurnaan kesabaran yang diperlihatkan oleh Yesus Kristus kepada dirinya. Yesus Kristus yang adalah Allah itu sendiri dengan kesabarannya menunggu agar Paulus berbalik dan bertobat. Seperti Paulus, kita semua orang-orang berdosa yang telah menerima kesabaran-Nya, sudah sepantasnya kita juga berlaku sabar terhadap orang-orang lain, misalnya saat kita ditolak atau bahkan dihina ketika mengabarkan injil.

“Seorang Kristen tanpa kesabaran layaknya seorang prajurit tanpa lengan.” - Thomas Watson

Kunci utama dari kesabaran adalah mengetahui bahwa Allah yang berdaulat dan memiliki kontrol atas sejarah manusia turut bekerja dalam kehidupan kita sekarang ini. Efesus 4:2, Paulus berkata, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Setiap orang Kristen yang menyadari bahwa diri kita telah menerima belas kasihan dan kesabaran dari Allah seharusnya dapat menjadi teladan bagi orang-orang yang ada di dunia ini, khususnya yang ada di sekeliling kita. Mari kita belajar untuk sabar terhadap teman, keluarga, bahkan kepada orang-orang yang menolak menerima Injil Kristus, sebab kita telah terlebih dahulu menerimanya dari Allah.

Kunci utama dari kesabaran adalah mengetahui bahwa Allah yang berdaulat dan memiliki kontrol atas sejarah manusia turut bekerja dalam kehidupan kita sekarang ini.

Oleh: DS

Oleh:

Quote of the day

Sungguh benar bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan tidak akan kecewa.

George Muller