Charles Spurgeon

Charles Spurgeon

Masa Muda

Charles Spurgeon lahir pada tanggal 19 Juni 1834 di Kelvedon, sebuah desa kecil di Essex, Inggris. Dia merupakan putra dari pasangan John dan Eliza Spurgeon, anak pertama dari 17 bersaudara, tetapi hanya 8 bersaudara yang Tuhan ijinkan melanjutkan hidup di dunia. Pada umur 10 bulan, keluarga Spurgeon pindah ke Colchester dan kemudiaan saat masih berumur 16 bulan John dan Eliza mempercayakan Charles untuk dibesarkan oleh kakek neneknya, James dan Sarah di Stambourne. Tidak diketahui dengan pasti mengapa John dan Eliza mengirim si kecil Charles untuk hidup bersama kakek dan neneknya. Tetapi dari hal yang tidak dapat dipahami manusia ini, tersembunyi rencana besar Tuhan untuk Spurgeon, karena di tempat inilah Spurgeon dipersiapkan Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya.  Sebagai seorang hamba Tuhan, rumah James Spurgeon penuh dengan buku-buku peninggalan orang suci dan para tokoh puritan. Spurgeon menghabiskan masa kecilnya membaca semua buku yang ada, dan diantaranya adalah Pilgrim's Progress dari John Bunyan menjadi buku favorit yang dibacanya lebih dari 100 kali. Isi buku ini terus hidup di hati Spurgeon hingga akhir hayatnya.

Kelahiran Baru

Sebagai putra dan cucu dari hamba Tuhan, Spurgeon tumbuh dengan pengetahuan akan firman Tuhan dan doktrin kaum Puritan yang kuat, namun dia baru mengalami kelahiran baru ketika berumur 15 tahun. Ketika Spurgeon sedang dalam perjalanan ke gereja yang biasa dia kunjungi, badai salju memaksa dia berhenti di sebuah gereja Methodist kecil yang sudah tua. Sekitar 12-15 orang hadir dalam kebaktian hari itu. Namun karena badai salju, pendeta gereja tersebut tidak dapat hadir dan seorang pria kurus menggantikannya untuk berkotbah di mimbar. Dia membuka Alkitab dan membacakan ayat dari kitab Yesaya 45:22 yang berbunyi, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi”. Seakan dapat membaca isi hati Spurgeon, pria itu memandangnya dan berkata “Anak muda, kamu berada dalam masalah. Dan kamu tidak akan dapat keluar kecuali kamu mencari Kristus”. Kemudian dia mengangkat tangannya dan berteriak, “Cari, Cari, Cari!”  Saat itulah Roh Kudus membukakan mata Spurgeon untuk melihat jalan keselamatan, menganugerahkan kelahiran baru dan hati yang penuh dengan suka cita. Ketika dia pulang ke rumah, orang tuanya langsung melihat perubahan nyata dalam diri Spurgeon, senyum penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya, dia bukan lagi seorang anak yang muram, dia berubah menjadi pribadi yang ceria dan bersemangat. Malam itu Spurgeon yang sudah lahir baru pergi ke Gereja Baptis Eld Lane bersama ibunya dan tak lama setelah itu dia dibaptis di Isleham Ferry di River Lark.

Awal Pelayanan 

Spurgeon pertama kali berkotbah di depan kongregasi jemaat di Teversham chapel, dia kemudian bergabung dengan Gereja Baptis St. Andrews Street menjadi pengkotbah ke desa-desa sekitarnya. Pada tahun 1851, Gereja Baptis Waterbeach mengangkat Spurgeon menjadi gembala saat dia baru berumur 17 tahun. Dia terkenal dengan panggilan “Boy Preacher”. Namun penampilan dan umurnya yang masih sangat muda ini bukan cerminan dari kedewasaan dan kedalaman kotbah yang disampaikannya.  Dalam penggembalaan Spurgeon, Tuhan menganugerahkan banyak jiwa datang ke gereja Waterbeach. Jemaat yang awalnya hanya 40 orang berkembang menjadi sekitar 450 orang. Pada umur 19 tahun Spurgeon memulai pelayanan di London di Gereja New Park Street, sebuah gereja yang sudah berdiri selama 200 tahun. Gereja ini sangat terkenal di masa lalu tetapi telah banyak ditinggalkan jemaatnya. Pelayanan Spurgeon dengan segera menarik kedatangan banyak jemaat, 4500 orang datang untuk mendengarkan kotbah Spurgeon tiap minggunya.

Tragedi Surrey Garden Hall & Gereja Metropolitan Tabernacle

Seiring penyertaan Tuhan dalam pelayanan Spurgeon, gereja New Park Street mulai mengalami kendala daya tampung gedung, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menyewa Surrey Garden Music Hall.  Surrey Hall yang didesain untuk menampung 12 ribu orang dipenuhi oleh lebih dari 22 ribu jemaat. Pada suatu kebaktian tahun 1856, saat Spurgeon mulai berdoa, beberapa orang berteriak “Kebakaran”, “Tempat ini akan rubuh”, seketika kepanikan melanda jemaat dan akhirnya mengakibatkan 7 orang meninggal dan 28 orang masuk rumah sakit. Tragedi ini nyaris mengakhiri pelayanan Spurgeon, dia harus dipindahkan ke luar kota di mana dia tenggelam dalam depresi yang sangat kelam. Tetapi Tuhan membawa Spurgeon keluar dari kegelapan melalui ayat Firman Tuhan Filipi 2:9 yang berbunyi, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama”. Belajar dari tragedi tersebut, gereja memutuskan untuk melakukan perubahan drastis. Pada bulan Maret 1861 kongregasi gereja pindah ke Metropolitan Tabernacle yang memiliki kapasitas 5000 tempat duduk ditambah dengan ruang yang memadai untuk 1000 orang berdiri. Ini adalah gedung gereja paling besar pada saat itu. Gereja Metropolitan Tabernacle menjadi rumah Spurgeon di sepanjang sisa hidup dan pelayanannya. Gereja ini terus berkembang pesat, kuasa Roh Kudus memenuhi kehidupan dan aktivitas kekristenan para jemaat gereja.  Setiap minggu, selama kesehatannya memungkinkan, Spurgeon terus menyampaikan Firman Tuhan di gereja Metropolitan Tabernacle hingga kotbah terakhirnya pada tanggal 7 Juni 1891.

Mendidik Penginjil Muda

Pada tahun pertama pelayanannya di London, Spurgeon bertemu Thomas Medhurst, seorang pemuda yang awalnya berkeinginan untuk menjadi aktor, namun Tuhan dalam anugerah-Nya memakai Firman yang disampaikan oleh Spurgeon untuk memberikan kelahiran baru dan api dalam memberitakan injil kepada Medhurst. Namun seperti kebanyakan pemuda di masa itu, Medhurst kurang memiliki pendidikan yang dapat menunjang pelayananannya, sehingga Spurgeon merasa terbeban untuk membantunya. Spurgeon mengatur supaya Medhurst diterima di sekolah berasrama untuk Pendeta di Bexley, dan menanggung semua biayanya. Sekali seminggu, Medhurst mengunjungi Spurgeon untuk belajar Teologia dan pelayanan secara umum. Tak lama kemudian, banyak pemuda lain yang juga digerakkan Roh Kudus untuk melayani Tuhan menyatakan keinginan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang dapat menunjang pelayanan mereka. Melihat hal ini, Spurgeon sadar bahwa Tuhan memberikan tanggung jawab kepadanya untuk mendirikan sekolah pelatihan untuk para pelayan Tuhan. Pada tahun 1866, di kota London saja, anak didik Spurgeon berhasil membangun 18 gereja baru. Penginjilan juga dilakukan di 7 pos misi, dan pos tersebut kemudian didewasakan menjadi gereja. Tujuh gereja yang sudah tua dan sepi pengunjung mendapatkan kebangunan rohani. Di samping itu, 80 alumni yang menyebar ke seluruh Inggris juga membawa berkat ke manapun mereka pergi. Satu alumnus mengubah gereja yang awalnya hanya dihadiri 18 orang dan membaptis lebih dari 800 orang hanya dalam waktu beberapa tahun.

Pelayanan Diakonia Masyarakat

Rasul Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, dan Spurgeon membuktikan bahwa iman sungguh hidup dalam dirinya. Dia setia mengabarkan Firman Tuhan sejak muda, setia memberitakan berita Injil melalui buku dan traktat, serta setia dalam mempersiapkan calon pendeta, penginjil, dan pemimpin gereja di masa depan. Namun tak hanya dalam kata-kata, Spurgeon juga melakukan perbuatan nyata dalam melaksanakan perintah Tuhan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan seperti para janda, anak yatim dan kaum miskin. Contoh penyertaan Tuhan yang luar biasa terjadi di tahun 1866, ketika Tuhan memberikan beban untuk membangun panti asuhan Stockwell. Spurgeon menggalang dana dan berdoa dengan tekun untuk memulai panti asuhan tersebut. Seorang janda bernama Mrs. Hillyard menulis surat ke Spurgeon, dan mendonasikan dana sebesar 20 ribu poundsterling untuk mendirikan panti asuhan untuk anak yatim. Panti asuhan tersebut dirancang sesuai keinginan Spurgeon. Tidak seperti panti asuhan pada umumnya, di mana anak-anak tinggal di gedung yang menyerupai barak tentara, berpakaian serupa serta dibuat menjadi obyek belas kasihan untuk mendapatkan sumbangan. Bangunan panti asuhan Stockwell dibuat menyerupai rumah yang terhubung satu dengan yang lain, di mana tiap rumah menampung 14 anak laki-laki dan dikelola oleh seorang wanita yang juga bertindak sebagai ibu dari anak-anak tersebut. Mereka mendapat pendidikan dan pengajaran Kristen, yang disiplin tapi penuh dengan kasih. Sepuluh tahun setelah bagian untuk anak laki-laki selesai dibangun, rumah untuk anak perempuan juga berdiri. Kedua bangunan ditambah bangunan untuk klinik didirikan mengelilingi lapangan rumput tempat bermain anak yang dihiasi berbagai bunga dan tanaman yang indah. Panti asuhan Stockwell tetap berdiri hingga London mengalami pengebomanan pada perang dunia II (1940-1941). Setelah itu, panti asuhan Stockwell berganti nama menjadi tempat penitipan anak Spurgeon. Saat ini tempat ini dikenal dengan nama Spurgeons, salah satu yayasan sosial anak paling terkemuka di Inggris. Panti asuhan bukanlah satu-satunya pelayanan diakonia Spurgeon. Dia sangat aktif terlibat dalam berbagai macam kegiatan sosial sepanjang hidupnya. Hingga saat dia meninggal, Spurgeon terlibat secara pribadi dalam 66 organisasi sosial yang berbeda.

Setia Dalam Iman Dan Firman Tuhan

Buku Darwin “Origin of Species” yang diterbitkan di tahun 1859, menentang kebenaran yang dituliskan di dalam Firman Tuhan. Dasar kekristenan juga mendapat tantangan dari gerakan “Higher Criticism” yang berusaha menurunkan status Injil dari Firman yang datang dari Tuhan menjadi sebuah buku cerita yang ditulis manusia biasa. Konsep ini diajarkan di berbagai Universitas, bahkan di era 1860 mulai diajarkan di beberapa sekolah penginjilan. Pergeseran dari Kekristenan yang fundamental ini sangat nyata dalam berbagai denominasi gereja juga terlihat mulai mempengaruhi banyak orang dalam gereja Baptis. Spurgeon menentang keras pengajaran ini, meskipun kesehatannya sudah menurun, dia bertekad untuk berdiri teguh membela kebenaran Firman Tuhan dan dengan segenap tenaga melawan ajaran baru tersebut. Spurgeon menyatakan bahwa persekutuan gereja Baptis harus mendeklarasikan secara terbuka posisi mereka. Dia meminta mereka untuk mengadopsi pernyataan iman yang Injili, dan setiap anggota, baik gereja maupun individual, harus menerima pernyataan iman itu jika ingin tetap menjadi anggota. Keteguhan niat Spurgeon sangat jelas terlihat melalui berbagai pernyataannya, sayangnya permintaan Spurgeon tersebut tidak mendapatkan dukungan dari mayoritas anggota yang ada.  Menyadari kenyataan bahwa ajaran sesat tersebut berkembang dengan pesat, Spurgeon memutuskan untuk menulis artikel berjudul “The Down-Grade” dalam majalahnya. Artikel ini menimbulkan kontroversi dalam gereja Baptis di Inggris. Banyak yang setuju dengan pendapat Spurgeon dan secara terbuka menyatakan dukungan mereka, namun banyak juga yang menentang. Tulisan Spurgeon menjadi bahan pembicaraan dan perdebatan banyak orang. Spurgeon kemudian menulis beberapa artikel lanjutan, di mana dia membuktikan dengan jelas bahwa pernyataannya bukan hanya berdasarkan kecurigaan yang tak berdasar. Saat menuliskan artikel lanjutan tersebut, Spurgeon memperoleh jawaban atas pergumulan dalam hatinya, “Apakah dengan terus membiarkan diri saya berhubungan dengan mereka, saya justru menolong orang-orang yang menolak Tuhan?” dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari keanggotaan persekutuan gereja Baptis. Banyak yang beranggapan bahwa tindakan Spurgeon tersebut kurang tepat, namun seiring berjalannya waktu,  dia terbukti benar. Sesuai perkataan Spurgeon, gereja yang tidak berpegang pada kebenaran Firman Tuhan mulai ditinggalkan jemaatnya, kehadiran dalam persekutuan doa semakin jarang sampai akhirnya banyak yang dibubarkan, dan anugerah Tuhan yang mengubahkan kehidupan banyak orang juga semakin jarang terjadi. Satu per satu gereja berubah fungsi menjadi toko atau garasi atau bahkan dihancurkan.

Epilog

Spurgeon adalah pengikut ajaran Calvin, dan sangat dipengaruhi oleh ajaran para tokoh Puritan. Semua pengajarannya selalu didasarkan kepada salib Tuhan Yesus, dia juga kuat dalam mengajarkan doktrin Sanctification.  Dia terkenal sebagai “Prince of Preachers” pengkotbah terbaik di masanya, dia berbicara dengan bahasa yang dapat dimengerti kebanyakan orang. Selama masa hidupnya Spurgeon diperkirakan berkotbah kepada 10 juta orang, seringkali dia berkotbah lebih dari sepuluh kali per minggu.  Pelayanan Spurgeon tidak hanya menarik orang untuk datang ke London dan mendengarkan kotbahnya, tapi juga menginspirasi orang untuk menyebarkan pelayanannya ke seluruh dunia. Hingga 1892, buku kotbah Spurgeon diperkirakan telah terjual sebanyak 56 juta buah. Buku kotbah tersebut  bisa ditemukan di tangan pendeta di Tennessee, petani kopi di Sri Lanka, orang Kristen di Cina, hingga nelayan di kawasan Mediterania. Seorang narapidana yang menunggu eksekusi hukuman mati di Amerika Selatan diketahui sempat membaca kotbah Spurgeon, tepat sebelum eksekusi dilaksanakan. Spurgeon tidak hanya menjadi fenomena di kota London, tapi telah menjadi fenomena global, dan pelayannya menjadi sangat terkenal hanya dalam waktu beberapa tahun. Spurgeon juga penulis yang sangat produktif, materi yang ditulis Spurgeon melebihi semua penulis Kristen lainnya. Hingga saat ini tulisan Spurgeon menjadi salah satu tulisan yang paling banyak dibaca. Setidaknya tiga karya Spurgeon telah terjual lebih dari satu juta salinan, salah satunya adalah “All of Grace” hingga saat ini masih menjadi salah satu buku paling banyak dijual sepanjang masa. Dia menghabiskan waktu 20 tahun mempelajari dan menulis komentari kitab Mazmur “The Treasure of David”, buku ini diapresiasi sebagai hasil karya terbaik sepanjang hidupnya. Spurgeon tidak pernah mencari ketenaran, dia sepenuhnya menggantungkan diri pada penyertaan Roh Kudus dan selalu merasa tidak layak sebagai pelayan Tuhan. Dia menjunjung tinggi Firman Tuhan, sangat disiplin dalam berdoa, dan kehidupan sehari-harinya mencerminkan kemuliaan nama Tuhan.  Ketika orang bertanya kepada Spurgeon apa rahasia dari keberhasilan pelayanannya, dia menjawab, “Semua hanya karena doa jemaat dan orang-orang yang mengasihinya”.

Spurgeon's quotes related to his life

  • “My life seems to me like a fairy dream, I’m often both amazed and dazed with His mercies and His Love. Oh how good God has been to me” 

 

“Hidupku seperti mimpi yang indah, aku sangat kagum dan takjub atas belas kasihan dan cinta-Nya. Oh betapa baiknya Tuhan kepada ku”

 

  • “I would rather be descended from one who suffered for the faith than bear the blood of all the emperors in my veins”

 

“Lebih baik bagiku untuk menjadi keturunan dari seseorang yang menderita karena imannya, daripada memiliki darah seluruh raja dunia mengalir di nadiku”
Image source: Faithlife
Oleh:

Quote of the day

Sungguh benar bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan tidak akan kecewa.

George Muller