Mematikan Dosa (1)

Banyak dari orang-orang Kristen yang berpikir, jika didalam sebuah kebaktian mereka pernah mengangkat tangan, maju ke depan, menangis dan menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamatnya, maka itu artinya mereka sudah diselamatkan dan masuk surga.

Ini bukan kebenaran yang Alkitab nyatakan karena ada banyak kepalsuan yang mungkin terjadi dalam hal-hal seperti ini.

Alkitab menyatakan dalam Galatia 5:24 kalau seseorang adalah milik Kristus Yesus, maka dia akan mematikan dosa yang ada di dalam dirinya dan menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

Ini prinsipnya : barangsiapa menjadi milik Kristus = True Christian = The real member of Christ, mereka adalah orang-orang yang memberi dirinya diperintah oleh Yesus Kristus dan yang memberi dirinya takluk dibawah pimpinan Roh Kudus. Orang-orang seperti ini akan memiliki 1 tanda kesejatian, yaitu proses pengudusan yang sungguh-sungguh terjadi di dalam hidupnya.

Kalau seseorang berkata “saya sudah menerima Yesus Kristus”, tapi hidupnya masih di bawah kuasa dosa, tidak mengasihi kesucian Allah, tidak mau mematikan dosa, maka semua itu adalah kebohongan. Setiap orang Kristen yang sejati harus mengalami proses pengudusan setelah proses pengakuan.

2 hal ini yang merupakan bentuk dari proses pengudusan. Yang pertama adalah mematikan dosa. Dan setelah itu, maka Roh Kudus akan membawa seluruh hati dan pikiran kita dalam proses yang progresif untuk memikirkan kehendak Allah di surga.

Perhatikan 4 arah ini. Alkitab menyatakan ini merupakan tugas-tugas penting yang Tuhan berikan kepada setiap orang Kristen yang sejati.

Kepada Tuhan, setiap manusia harus hormat.

Kepada setan, setiap manusia harus melawan.

Terhadap diri, setiap daripada diri kita harus menyangkal.

Kepada dosa, setiap daripada kita harus mematikan dosa.

Hanya orang2 yang adalah milik Kristus, maka di dalam hatinya ada Roh Kudus yang akan membawa dia menuju kepada pengalaman-pengalaman mematikan dosa.

Pembenaran didalam Kristus Yesus dan proses pengudusan akan selalu bersanding bersama-sama.

Jika proses pengudusan ini tidak ada, maka semua pengakuan kita ketika kita menangis, mengangkat tangan dan maju kedepan dalam sebuah kebaktian, itu menjadi suatu kepalsuan.

Ordo Salutis: Predestinasi

Predestinasi adalah salah satu doktrin yang penting di dalam kekristenan yang sering menjadi pokok pembahasan karena cukup menarik dan penuh misteri. Tetapi doktrin ini juga banyak disalah mengerti oleh banyak orang Kristen, sehingga kita harus lebih berhati-hati di dalam mempelajari doktrin ini. Jikalau tidak berhati-hati, maka kita akan memiliki pengertian yang salah akan doktrin ini, dan itu akan menjerat kita pada pengenalan yang salah akan Allah.

Mari kita terlebih dahulu melihat di dalam Efesus 1:5. Di dalam ayat ini dikatakan ,“Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Ini adalah salah satu ayat di dalam Alkitab yang mengandung doktrin Predestinasi. Predestinasi pada dasarnya berarti Allah di dalam kekekalan telah memilih dari semua manusia, sebagian orang-orang yang akan diselamatkan, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya. Maka tentu sebagai konsekuensi logisnya, ada orang-orang yang tidak akan diselamatkan. Hal ini menyebabkan munculnya tuduhan yang mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Tuduhan ini sama sekali tidak benar.

Untuk dapat mengerti doktrin Predestinasi, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

Pertama, kita harus mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang jahat yang keluar dari Allah. Sebagai manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, kita mudah dan sering memiliki pikiran yang jahat/jelek terhadap sesuatu, seseorang dan bahkan kepada Allah. Kita bisa berpikiran buruk terhadap apa saja dan siapa saja. Misalnya, seseorang yang suka berbohong, maka dia akan memiliki kecenderungan untuk mencurigai orang lain dan berpikir bahwa orang lain juga suka berbohong seperti dia. Maka dia akan sering ketakutan kalau-kalau dia dibohongi atau ditipu oleh orang lain. Tentu setiap orang akan selalu berjaga-jaga jangan sampai dibohongi atau ditipu, tetapi kecurigaan orang ini akan lebih besar daripada orang lain pada umumnya. Ini adalah salah satu karakter manusia yang selalu memproyeksikan sifat-sifatnya sendiri, pemikirannya sendiri, presaposisinya sendiri kepada orang lain. Dan lebih celaka lagi, presaposisi ini juga manusia pakai untuk memproyeksikan Allah. Karena presaposisi yang salah ini maka kita juga akan mengenal Allah yang salah, yaitu Allah yang jahat.

Kedua, di dalam Yesaya 55:8 disebutkan “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.” Maka tentu saja kita tidak akan pernah bisa memahami sepenuhnya rencana Tuhan yang tinggi. Hanya sebagian yang diwahyukan kepada kita dan itu tidak membuat kita bisa mengerti Tuhan sepenuhnya seperti yang ditulis di dalam kitab Ulangan 29:29 “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita.” Maka tanggung jawab kita hanya sebatas pada yang dinyatakan kepada kita saja. Jangan mencoba mencari tahu apa yang disembunyikan bagi kita karena ini bisa menuju kepada kesesatan. Predestinasi adalah salah satu contoh yang baik untuk ini. Ketika kita memaksa untuk mengetahui bagian yang Tuhan sembunyikan ini, maka bisa menghasilkan suatu kesimpulan yang menyesatkan, contohnya seperti pemikiran bahwa Tuhan itu jahat, tidak adil, pilih kasih dan sebagainya. Tidak mungkin ini keluar daripada Tuhan. Seperti yang disebutkan sebelumnya, tidak ada yang jahat keluar dari Tuhan. Pikiran kitalah yang seringkali menyesatkan oleh sebab dosa kita sendiri. Sejauh bagian kita, percayalah bahwa Tuhan tahu apa yang Dia kerjakan dan janganlah kita menjadi sombong, menaikkan posisi kita seolah-olah kita tahu apa yang menjadi pikirkan-Nya, pertimbangan-Nya, dan bijaksana-Nya. Paulus berkata di dalam Roma 11:33-34, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?”

Ketiga, Tuhan oleh kebaikan-Nya menghendaki semua orang untuk diselamatkan. Tidak mungkin Dia mencipta manusia hanya untuk dibinasakan. Firman Tuhan berkata di dalam 1 Timotius 2:4 bahwa Tuhanlah “yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan”. Tetapi ini bukan ketetapan-Nya, melainkan kehendak-Nya. Karena jika itu adalah ketetapan Tuhan, maka pasti terlaksana dan semua orang diselamatkan. Pada dasarnya Tuhan tidak menghendaki kehancuran orang fasik, melainkan pertobatan supaya ia hidup (Yeh. 33:11). Tetapi ketika Tuhan memanggil orang-orang fasik untuk kembali kepada-Nya, mereka tidak mau datang. Firman Tuhan: “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat. 23:37). Ini adalah dalam konteks Yerusalem, tetapi sampai sekarang masih tetap sama kejadiannya. Tuhan memanggil orang-orang untuk diselamatkan melalui pemberitaan Injil Yesus Kristus. Tetapi orang-orang fasik menolak panggilan ini. Maka mereka pada akhirnya dibinasakan karena keadilan Tuhan harus dijalankan.

Kesimpulannya, Predestinasi mengandung suatu misteri yang tidak bisa kita pahami sepenuhnya. Tetapi yang penting kita tanamkan dalam pikiran kita adalah bahwa Allah itu adalah kasih dan adil adanya.  Kedua atribut Allah ini tidak dapat dipisahkan. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa dan melawan Allah, pada saat yang sama manusia sudah memasuki suatu keadaan dimana dia sudah selayaknya dibinasakan. Ketika Allah berbelas kasihan dan mengampuni sebagian manusia, maka itu tidak membuat Allah harus mengampuni semua. Ketika orang berdosa dihukum oleh Allah, itu adalah suatu keadilan Allah yang ditegakkan karena orang berdosa layak dihukum. Allah tidak berhutang apa-apa kepada orang yang tidak diselamatkan karena memang mereka layak dihukum.

Ketika kita mengerti akan doktrin predestinasi dan menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan keselamatan bagi kita, maka seharusnya kita bersyukur dan memuji Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Oleh: AH

Ordo Salutis: Garis Besar Ordo Salutis

Tuhan telah menetapkan Ordo Salutis sejak dari kekekalan, Dia juga yang menggenapinya dan memberikan anugerah-Nya yang begitu besar kepada kita. Pada bagian ini kita akan melihat garis besar daripada Ordo Salutis. 

Mari kita melihat pengertian tentang keselamatan terlebih dahulu. Keselamatan sebenarnya tidak bisa dipersempit artinya sebagai mati masuk sorga saja. Banyak orang mencari Tuhan hanya supaya bisa masuk ke sorga saja. Ini bukan konsep keselamatan dalam kekristenan. Keselamatan adalah ketika anugerah Tuhan diberikan kepada kita dengan dihadirkannya Roh Kudus di dalam hidup kita, yang memampukan kita untuk percaya dan menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dengan iman.

Ketika mendapat anugerah keselamatan ini, maka kita dibenarkan dan diperdamaikan dengan Allah Bapa di sorga. Hubungan yang telah rusak karena kita sudah jatuh di dalam dosa, kini diperbaharui kembali oleh Kristus Yesus melalui karya penebusan-Nya. Kita kembali memiliki relasi yang intim dengan Allah Bapa di mana kita bisa merasakan kehadiran-Nya dan pimpinan-Nya di dalam hidup kita. Kita bisa merasakan segala berkat-berkat-Nya yaitu kegenapan dari janji-janji-Nya, suatu pengalaman untuk menyaksikan Tuhan yang hidup dan bekerja dalam hidup kita. Ini adalah suatu kenikmatan yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan, yang Dia berikan kepada kita pada saat ini ketika kita masih hidup di dunia.

Di sisi lain, ketika kita sudah mengalami semuanya ini, maka segala kehidupan kita akan berubah. Kita akan menjadi manusia baru, anak-anak Allah. Maka ketika kita melakukan kehendak-Nya, pada saat yang sama kita memuliakan Bapa kita yang ada di sorga. Inilah keselamatan itu, yang sudah Tuhan hadirkan dalam hidup kita sekarang dan terus akan berlanjut sampai kepada kekekalan.

Relasi yang intim dengan Allah Bapa di sorga ini disebut sebagai “mengenal Allah”. Arti dari kata “mengenal” yang dipakai di dalam Alkitab ini tidak sama dengan arti dari kata “mengenal” yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. “Mengenal” di sini bukan berarti hanya sekedar “tahu” atau “memiliki pengetahuan tentang”, melainkan suatu pengenalan yang memiliki suatu relasi yang intim. Kata asli dari “mengenal” dalam bahasa Ibrani yang dipakai di dalam Alkitab adalah ‘yada’. Kata yang sama juga dipakai untuk menjelaskan ‘hubungan intim’ suami isteri, misalnya di dalam Kejadian 4:25 dikatakan “Adam bersetubuh pula dengan isterinya”.

Tuhan memakai gambaran hubungan suami istri untuk menjelaskan bagaimana intimnya relasi kita seharusnya dengan Dia karena seorang suami/istri adalah orang yang paling mengenal pasangannya dengan begitu intim, melebihi orang lain. Hanya dengan relasi yang seperti ini kita dapat menikmati Tuhan dalam hidup kita. Jadi keselamatan bukan hanya sekedar mati masuk sorga, melainkan ketika kita dapat mengenal dan berelasi dengan Dia secara intim, saat ini, selagi kita masih hidup sampai kita mati dan dibangkitkan di dalam kekekalan.

Mengenal Allah adalah suatu proses sepanjang hidup. Kita tidak akan pernah bisa mengenal Allah secara tuntas seumur hidup, karena pengenalan akan Allah yang tidak terbatas itu tidak bisa ditampung oleh otak manusia yang terbatas. Untuk mempelajari seluruh pengetahuan dalam satu bidang studi saja kita tidak mampu. Bagaimana kita bisa menuntaskan pengetahuan tentang Pencipta kita. Hanya di dalam kekekalan nanti maka kita baru dapat mengenal Allah sepenuhnya. Tetapi ini bukan berarti sekarang kita tidak perlu mengenal Dia.

Ordo Salutis dijelaskan dengan singkat oleh Paulus di dalam Roma 8:30 sebagai berikut “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

Secara garis besar Ordo Salutis dimulai dari pemilihan di dalam kekekalan oleh Allah kepada orang-orang yang akan diselamatkan atau yang biasa disebut dengan istilah Predestinasi. Orang-orang pilihan inilah yang mendapatkan panggilan dari Allah. Panggilan efektif akan menghasilkan kelahiran kembali (baru) dan pertobatan yang mencakup pengakuan dosa dan iman. Orang tersebut akan memiliki hubungan yang baru dengan Tuhan, menjadi “anak Tuhan”, kemudian diteruskan dengan ketaatan dan ketekunan sebagai orang kudus. Pada akhirnya mereka boleh dipermuliakan.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Ordo Salutis membentuk suatu urutan yang logis. Tetapi perlu diperhatikan bahwa urutan ini bukan merupakan urutan secara kronologis atau urutan waktu seolah-olah seseorang dapat dipanggil sebelum dia dibenarkan. Meskipun secara logis berurutan, tetapi sebenarnya proses ini adalah satu kejadian yang sama. Ketika Tuhan memanggil kita, maka pada saat yang sama kita akan beralih dari dosa menuju kepada Tuhan, di mana kita dibenarkan. Dan orang yang dibenarkan maka dia akan dipermuliakan karena dia sekarang menjadi anak Allah.

Jika kita boleh memperoleh anugerah menjadi bagian dari Ordo Salutis, maka Allah mengijinkan kita untuk mengenal-Nya. Alangkah pentingnya setiap orang yang telah menerima anugerah keselamatan untuk boleh hidup memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya. Bersyukurlah kepada Tuhan ketika kita dapat mengenal Dia karena tidak semua orang yang mencari Allah akan menemukan-Nya. Allah hanya bisa dikenal jika dan hanya jika Dia mau menyatakan diri-Nya. Banyak orang mencari tetapi tidak kepada semuanya dia menyatakan diri-Nya. Bukan kita yang menemukan Yesus, melainkan Dialah yang menemukan kita. Mari kita bersyukur senantiasa untuk anugerah-Nya.

Soli Deo Gloria.

Oleh: AH

Pengajaran Kaum Puritan Mengenai Pekerjaan Sehari-hari

Menurut Saudara, apa itu makna pekerjaan? Sebagai orang percaya, bagaimanakah harus kita menanggapi karir dan apa yang Alkitab ajarkan tentang ini?

Ini selalu menjadi pertanyaan bagi kita, terutama di dunia yang penuh pilihan ini. Bagaimana tidak? Sebagian besar hidup kita akan kita dedikasikan untuk bekerja (diluar tidur)! Tetapi Alkitab pun menyatakan di Kejadian 1:28 dan Kejadian 2:15, bahwa Allah menetapkan manusia untuk bekerja di dunia yang Dia sendiri ciptakan. Di dalam anugerah Tuhan, kita boleh belajar dari saksi-saksi iman seperti kaum Puritan tentang bagaimana menggenapkan panggilan Tuhan di dalam pekerjaan sebagai orang percaya.

Kaum Puritan adalah kaum Protestan Inggris pada abad ke 16 dan 17 yang menetapkan prinsip teologia Reformed dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pekerjaan mereka sangat praktis; pengajaran mereka Alkitabiah, dan sungguh bermakna. Salah satu pengajaran mereka yang praktis adalah tentang pekerjaan. Bagaimana cara kita mencari pimpinan Tuhan di sini? Mari kita telusuri sama-sama.

Mari kita coba pikirkan pertanyaan ini: “Ke mana Tuhan sudah memanggilku?”
Sebagai orang Kristen, panggilan objektif kita dari Tuhan selalu mendahului kesadaran kita. Jadi, pekerjaan bukan suatu hal yang terpisah dari relasi kita dengan Tuhan, tetapi sebagai sesuatu yang kita akan lakukan hampir seluruh hidup kita, adalah aktivitas ‘rohani’ pula! Kita sudah punya panggilan kita yang kelihatan jelas. Kita yang adalah orang Kristen, jemaat gereja, seorang anak, mahasiswa, mungkin orang tua dan seorang teman – semua ini adalah panggilan yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita. Maka, dalam konteks seperti ini, tiga hal penting ini baik untuk kita pikirkan mengenai kehendak Tuhan bagi pekerjaan kita.

1. Pekerjaan apa yang aku inginkan?

Allah adalah Allah yang ‘bahagia/menyenangkan’ (‘a happy God’ – 1 Tim 1:11), bukan Allah yang mengekang. Di dalam Anak-Nya, Yesus Kristus, dan melalui Roh Kudus-Nya, Dia mau membentuk hati kita untuk mengingini pekerjaan yang Dia panggil kita untuk kerjakan, dan bukan hanya itu – untuk menikmatinya! Seorang Puritan, Richard Steele, menyatakan: Allah memanggil setiap manusia untuk melayaninya di panggilan tertentu di dunia ini untuk kebaikan diri mereka dan kebaikan masyarakat, dan telah menentukan bagi tiap-tiap orang posisi mereka. Tuhan mau umat-Nya bekerja dengan ‘gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.’ (Ibrani 13:17)

Tetapi perlu diingat, keinginan itu bukan panggilan. Sangat gampang bagi kita untuk menganggap keinginan yang Tuhan berikan sebagai suatu panggilan – memang aspirasi itu penting, tetapi itu bukanlah keseluruhan suatu panggilan. Kita butuh dua hal lagi, yaitu peneguhan dari orang lain dan kesempatan yang Tuhan berikan.

2. Apa orang-orang di sekitar meneguhkan panggilan itu?

Pertanyaan selanjutnya objektif, yaitu tentang kemampuan kita. Apakah kita sendiri bisa melihat (meski kecil) kita bisa memenuhi kebutuhan orang lain dengan bekerja di bidang yang kita tuju? Dan lebih daripada itu, apakah orang-orang yang mengenal dan mengasihi kita setuju dengan arah ini? Apa mereka pikir kita ini ‘fit’ untuk pekerjaan yang kita mau?

William Perkins, seorang Puritan mengatakan: Inti kehidupan kita adalah ‘melayani Tuhan dengan melayani manusia di pekerjaan dimana kita dipanggil.’ Panggilan sejati kita bukan dibentuk dari kemauan kita sendiri, seperti apa yang orang jaman sekarang katakan – follow your heart! Don’t let your dreams be dreams! – tetapi membentuk hati kita melalui kebutuhan orang lain. Mencari kehendak Tuhan dalam panggilan kita dilakukan dengan mencari dimana aspirasi kita bisa sejalan dengan kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dan uniknya, kesenangan kita dalam pekerjaan itu bertumbuh seturut dengan bukti kelihatan yang makin jelas bahwa kita menolong masyarakat dan mereka mengakui usaha baik kita! Sesuatu bukti yang indah, bukan?

3. Arah mana saja yang Tuhan bukakan?

Terakhir, hal yang paling penting (dan yang paling sering dilewati) adalah kesempatan yang jelas Tuhan berikan dan pintu yang Tuhan bukakan secara nyata. Mungkin kita bisa merasa terpanggil, dan orang-orang bisa saja meneguhkan perasaan kita, tetapi sampai Tuhan membuka pintu itu, kita tidak dipanggil 100%.

Disinilah kita bisa lihat dengan jelas providensia Allah! Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Allah berkuasa atas segala sesuatu – dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia (Roma 11:36). Jadi, kalau ada panggilan jelas dalam hidup yang memenuhi aspirasi kita, misal tawaran kerja, dan di teguhkan oleh persetujuan orang yang mengenal kita, kita boleh ambil ini sebagai konfirmasi ‘panggilan’ Tuhan.

Dan kita boleh mengatakan bahwa panggilan ini dari Dia karena Tuhan sendiri, melalui providensia-Nya mempersiapkan semuanya! Dia yang memulai proses ini dengan menanam keinginan yang baik untuk membantu orang lain; dan Dia meneguhkan panggilan itu melalui kemampuan yang Dia tanam didalam kita dan peneguhannya oleh teman-teman kita; dan sekarang Tuhan sendiri menkonfirmasi panggilan itu dengan membuka pintu kesempatan itu lebar-lebar – Tuhan-lah, bukan manusia yang memberi pekerjaan!

Tuhan tidak hanya memberi kepada kita hamba Tuhan, misionari, pengkhotbah dan penilik gereja, tetapi Dia juga memberi kita dokter dan petani. Dalam anugerah umum-Nya, Dia memberi guru, pengusaha, dan pedagang bagi orang yang benar dan tidak. Dan terlebih lagi, Tuhan memberi kita kepada dunia untuk melayani-Nya, memuliakan-Nya, dan menjadi saksi bagi Dia di dunia ini.

Hudson Taylor

Masa kecil

James Hudson Taylor lahir pada tanggal 21 Mei 1832 di Barnsley, England. Kedua orang tuanya adalah orang Kristen yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Ketika Hudson Taylor masih di dalam kandungan, mereka sudah berdoa kepada Tuhan agar ia bisa dipakai Tuhan dan pergi ke Cina. Tetapi ketika ia berusia 15 tahun, dia menjadi skeptis terhadap kekristenan dan kecewa kepada orang-orang Kristen yang menyatakan percaya pada Alkitab tapi hidup sama seperti orang-orang duniawi yang tidak mengenal ajaran Kristen. Hal ini menyebabkan Hudson Taylor memutuskan untuk hidup bagi dirinya sendiri.

Hidup Hudson Taylor yang begitu jauh dari Tuhan menggerakkan ibu dan kakak perempuannya untuk tekun berdoa memohon pertobatannya. Sampai ketika ia berumur 17 tahun, Tuhan menjawab doa mereka. Hudson Taylor sedang berada di rumahnya dan secara tidak sengaja membaca sebuah traktat berjudul “Sudah Selesai”. Muncul pertanyaan di dalam hatinya akan arti dari kalimat tersebut, yang kemudian mengubahkan pemikirannya yang salah mengenai Allah. Ia juga mendapatkan pengertian akan pemenuhan karya keselamatan Allah melalui hidup Yesus Kristus. Saat itu juga Hudson Taylor menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya dan membuat keputusan untuk melayani Tuhan sebagai misionaris dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Cina.

Tantangan terbesar

Persiapan Hudson Taylor untuk pergi ke Cina dijalani dengan berbagai tantangan yaitu masalah kesehatan, keuangan yang sangat terbatas dan pergumulan untuk menyelesaikan studi medisnya. Tetapi penyertaan Tuhan begitu nyata bagi Hudson Taylor sehingga ia dapat melalui semua kesulitan itu dan pergi ke Cina pada bulan September 1853 yang disponsori oleh sebuah badan misi bernama Chinese Evangelization Society. Setibanya di Shanghai, Cina pada tanggal 1 Maret 1854, Hudson Taylor memulai penginjilan dan pembagian traktat di berbagai area, namun usahanya kurang mendapat sambutan baik dari warga sekitar. Mereka hanya melihatnya sebagai orang asing. Hal ini membuat ia memutuskan untuk berpakaian seperti orang Cina asli demi membuktikan bahwa apa yang dia kabarkan bukanlah kabar yang asing.

Pada tahun 1857, Hudson Taylor memutuskan untuk keluar dari Chinese Evangelization Society. Di tahun berikutnya ia menikah dengan Maria Dryer yang berasal dari keluarga misionaris. Penderitaan dan kesulitan terus menerus dialami oleh Hudson Taylor dari berbagai sisi kehidupan, kesehatan yang kurang baik, kondisi keuangan yang tidak mencukupi, kedukaan karena kematian empat orang dari delapan anaknya pada usia yang masih kecil dan puncaknya adalah ketika istri yang teramat dicintainya meninggal pada tanggal 23 Juli 1870.

Hasil kerja

Pada saat kesempatan yang begitu besar terbuka di Cina, kesehatan yang memburuk justru memaksa Hudson Taylor kembali ke Inggris bersama istri keduanya dan anak perempuannya yang masih kecil. Namun, apa yang terlihat seperti sebuah kemunduran di dalam pekerjaan misinya, ternyata merupakan suatu langkah maju. Ketika ia berada di Inggris, dia berhasil menyelesaikan studi medisnya, menyempurnakan terjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Cina dan mengorganisir The China Inland Mission (CIM).

The China Inland Mission (CIM) terbentuk pada tanggal 25 Juni 1865 ketika Hudson Taylor sedang berada di Brighton Beach, Inggris untuk berdoa. Hatinya sangat terbeban untuk menjangkau jutaan orang-orang Cina yang berada di daerah terpencil, ia meminta agar Tuhan mengirimkan 24 orang misionaris untuk pergi kembali ke Cina bersama-sama dengan dia. Melalui doanya, Hudson Taylor mendapat suatu kebenaran yang menyadarkan dia bahwa tanggung jawab untuk memulai pekerjaan misi yang baru itu adalah bukan miliknya melainkan Tuhan sendiri. Hudson Taylor membuka rekening di bank untuk misi ini dengan saldo pertama sebanyak 50 Dollar. Charles Spurgeon yang mendengar kabar tentang apa yang Hudson Taylor kerjakan, teramat kagum dengan api penginjilan bagi negara Cina yang milikinya. Pada tahun itu juga dia mengumpulkan uang sebanyak 13 ribu Dollar dan menerima 24 orang misionaris. 

CIM mempunyai  beberapa keunikan yaitu para misionarisnya tidak mendapat gaji tetap dan mereka juga tidak boleh meminta bantuan dana. Para misionaris ini harus percaya kepada Tuhan untuk mencukupi kebutuhan mereka, terlebih lagi mereka harus memakai pakaian tradisional dan memasukkan injil itu ke dalam budaya Cina. Pada tanggal 26 May 1866, keluarga Hudson Taylor bertolak menuju Cina setelah lima setengah tahun melayani dan merekrut orang-orang di kampung halamannya. 

Hal-hal yang menonjol tentang Hudson Taylor

Dikarenakan oleh begitu banyak orang-orang Cina yang harus dijangkau dengan pekerjaan penginjilan, Hudson Taylor mengeluarkan suatu peraturan yang dianggap radikal yaitu ia mengirim misionaris-misionaris wanita yang belum menikah masuk ke pedalaman, suatu kebijaksanaan yang dikritik oleh banyak misionaris-misionaris. Tetapi keberanian Hudson Taylor tidak mengenal batasan, gaya kepemimpinan dan idealismenya yang tinggi menciptakan ketegangan antara perwakilan CIM di London dan di Cina. Perwakilan di London berpendapat bahwa Hudson Taylor memimpin secara otokratis, sedangkan ia berpendapat bahwa ia hanya melakukan apa yang terbaik untuk pekerjaan penginjilan itu dan menuntut komitmen yang tinggi dari anggota-anggotanya. Cara bekerja Hudson Taylor yang sangat melelahkan ini baik di Cina maupun di luar negeri yaitu Inggris, Amerika, dan Kanada ketika ia harus memberikan kesaksian dan untuk merekrut misionaris-misionaris, tetap dilakukan meskipun dengan kesehatan yang tidak baik dan pergumulan dengan depresi karena kehilangan istri pertama dan anak-anaknya.

Prinsip kerja dan rasa percaya dari Hudson Taylor yang penuh kepada Tuhan menjadikan CIM berkembang dan maju, meskipun tidak pernah meminta bantuan dana. Hal ini menginspirasi ribuan orang untuk meninggalkan kenyamanan di dunia barat dan pergi membawa pesan kekristenan menuju ke pedalaman Cina yang luas dan yang belum pernah dijangkau. Tujuan dari misinya adalah untuk membawa kabar injil ke tempat di mana  Injil belum pernah dikabarkan sebelumnya. 

Meskipun pekerjaan misi di Cina ini sempat terganggu dengan pengambilalihan kekuasaan oleh partai Komunis di Cina tahun 1949, CIM terus melanjutkan pelayanan sampai hari ini di bawah nama Overseas Missionary Fellowship International (OMF).

Legasi

Hudson Taylor merupakan misionaris yang paling luas penjangkauan misinya di dalam sejarah Cina. Selama 51 tahun pelayanannya di sana, China Inland Mission telah mendirikan 20 stasiun misi dan membawa 849 orang misionaris ke ladang penginjilan (968 pada tahun 1911), melatih 700 orang pekerja Cina, mengumpulkan 4 juta Dollar dan membangun gereja-gereja di Cina dengan jumlah jemaat 125 ribu orang yang giat bersaksi. Dikatakan bahwa sedikitnya 35 ribu orang yang telah dia injili dan 50 ribu orang telah ia baptiskan. Talentanya untuk menginspirasi banyak orang untuk menyerahkan diri dan harta benda mereka kepada Kristus sangatlah mengagumkan. Hudson Taylor dikenal sebagai seorang pendoa, ia belajar mengenai kuasa doa melalui ibu dan kakak perempuannya. Ia juga dikenal sebagai orang beriman, dia menyatakan bahwa dirinya hanyalah pelayan dari Allah yang setia. 

Hudson Taylor meninggal dunia pada tanggal 3 Juni 1905 dan dikuburkan di Changsa, Hunan. CIM yang dulu dikenal sebagai Overseas Missionary Fellowship, sekarang bernama OMF International, didirikan dan dijalankan melalui contoh hidup dan permohonannya akan pekerja-pekerja misi yang sangat dibutuhkan, yang kemudian mendorong orang-orang untuk berdoa dan pergi ke Cina. Hudson Taylor berkata, “Semoga generasi kita boleh menjunjung tinggi Firman dari Allah kita yang setia, hidup, bersaksi dan berdoa seturut dengan kehendak-Nya di mana pun kita berada”.

Sebuah pernyataan dari Hudson Taylor yang menginspirasi banyak orang yaitu:

  • “Cina tidak akan bisa dimenangkan bagi Kristus dengan misionaris-misionaris yang hanya sedikit bicara dan tidak banyak bekerja”.
  • “Contoh misionaris-misionaris yang dibutuhkan adalah yang bersedia mendahulukan Yesus, Cina dan jiwa-jiwa itu daripada segala hal di setiap saat, bahkan hidup mereka sendiri harus menjadi yang kedua”.
  • "China is not to be won for Christ by quiet, ease-loving men and women," he wrote. "The stamp of men and women we need is such as will put Jesus, China, [and] souls first and foremost in everything and at every time—even life itself must be secondary."
Image source: Wikipedia

Jonathan Edwards dan Disiplin Rohani

Tokoh pertama yang dibahas dalam seri “Tokoh-tokoh Kristen” kali ini adalah Jonathan Edwards. Pada suatu kesempatan, RC Sproul, pendiri Ligonier Ministeries, mengatakan bahwa Jonathan Edwards adalah tokoh paling saleh yang pernah diberikan Tuhan kepada Amerika. Ini adalah kalimat yang sangat berani, mengingat pasti begitu banyak tokoh asal Amerika yang dia pelajari. Jika kita sendiri yang mengatakan kalimat tersebut mungkin terkesan biasa, sebab mungkin sekali tokoh yang kita ketahui hanya satu saja.

Tujuan dari artikel yang sangat singkat ini bukan untuk memberikan gambaran lengkap mengenai siapa Jonathan Edwards, melainkan agar kita semua dapat mengenal, atau bahkan sekedar mengintip siapa dan mengapa dia disebut sebagai orang paling saleh di Amerika.

Mengapa belajar melalui tokoh Kristen

Ibrani 13:7 mengajarkan agar kita mengingat akan pemimpin yang telah menyampaikan firman Allah, memperhatikan akhir hidup mereka, dan mencontoh iman mereka. Paulus sendiri dalam nasihatnya kepada Timotius mengajarkan agar memegang segala pengajaran yang telah dia berikan kepadanya. Sehingga kita mengetahui adalah hal yang baik untuk melihat suatu tokoh dan mempelajari bagaimana mereka pernah dipakai oleh Tuhan.

Hidup Jonathan Edwards

Secara singkat saja, Edwards lahir di East Windsor, Connecticut pada 5 Oktober 1703. Dia terlahir di dalam keluarga Kristen, dan ayahnya, Timothy Edwards merupakan seorang pendeta di daerah tersebut. Kepandaiannya sudah terlihat sejak di usia muda.

Meskipun lahir dalam keluarga Kristen, Edwards tetap mengalami pergumulan dalam imannya. Khususnya di saat remaja, dia sangat kesulitan menerima pengajaran Calvinist mengenai “Kedaulatan Allah”. Edwards melihat itu sebagai doktrin yang sangat mengerikan. Tetapi oleh karena anugerah Tuhan, ia mendapatkan pencerahan pada tahun 1721 saat melakukan meditasi pada kitab 1 Timotius 1:17. Sejak itu Edwards memiliki suatu sukacita terhadap doktrin “Kedaulatan Allah”.

Dia mengemban pendidikan di Yale University dan memperoleh gelar Master pada tahun 1722. Ketika itu, dirasakan bahwa Harvard University telah bergeser ke arah sekular, oleh karenanya dia memilih mengambil pendidikannya di Yale ketimbang Harvard. Setelah lulus, Edwards menjadi murid dari kakeknya, Solomon Stoddard yang merupakan pendeta dan melayani bersama di dalam gereja. Edwards adalah orang yang sangat komitmen dalam hal belajar, menurut sejarah, ia menghabiskan 13 jam dalam satu hari untuk membaca dan menulis.

Terdapat banyak sekali karya terkenal yang ditulis oleh Edwards, baik dalam bentuk khotbah maupun buku-buku. Karyanya yang paling terkenal dan banyak dibaca berjudul “Orang berdosa di tangan Allah yang murka”. Suatu khotbah yang luar biasa dan memberikan banyak kebangunan rohani. Tetapi sangat disayangkan jika kita hanya berhenti di buku itu saja, sebab banyak sekali karya-karya Edwards yang

sungguh memukau, bahkan hingga hari ini, misalnya The Freedom of the Will, Religious Affections, A Faithful Narrative of Suprising Work of God, Life and Diary of David Brainerd, dan A Treatise on Original Sin”.

Great Awakening

Dalam bukunya yang berjudul A Faithful Narrative of Suprising Work of God, Edwards memberikan kesaksian secara singkat mengenai kebangunan rohani secara besar-besaran yang terjadi di New England (Amerika Serikat) tahun 1734-35, yang disebut juga The Great Awakening.

Saat itu Edwards melayani sebagai pendeta di Northampton, Massachusetts. Pada bulan Desember tahun 1734, Roh Tuhan (The Spirit of God) bekerja secara luar biasa bagi orang-orang di wilayah tersebut. Secara mendadak, satu per satu, 5 hingga 6 orang bertobat dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini sangat mengejutkan, terlebih lagi karena salah satu diantaranya adalah perempuan muda yang bisa dikatakan paling nakal di kota itu.

Edwards yang awalnya ragu kemudian mencoba berbicara dengan perempuan muda tersebut. Dalam percakapan tersebut, perempuan itu mengatakan bahwa Tuhan memberikan dia satu hati yang baru, yang hancur, dan yang telah disucikan. Mendengar hal tersebut, Edwards hanya bisa mengatakan, "I could not then doubt it, and I have seen much in my acquaintance with her since to confirm it."

Tidak terduga berita pertobatan perempuan ini menjadi satu cara yang dipakai oleh Tuhan untuk membangkitkan kerohanian anak-anak muda di kota tersebut. Kebangunan rohani secara besar-besaran mulai terjadi di kota tersebut, mencakup segala kelas sosial dan semua rentan usia. Pembicaraan mengenai hal-hal spiritual menjadi sangat populer dan dicari-cari oleh semua orang di kota tersebut, seakan-akan semua orang melupakan segala kesibukan dunianya, dan berkomitmen untuk membaca, berdoa, dan hal-hal rohani lainnya.

Dalam durasi yang cukup singkat, jumlah orang-orang suci yang takut akan Tuhan bertambah berkali-kali lipat jumlahnya. Pada musim Spring dan Summer tahun 1735, seluruh kota seperti dipenuhi oleh hadirat Allah. Terlihat dengan jelas adanya kehadiran Tuhan hampir di semua rumah tangga yang ada. Dalam setiap pertemuan, para pemuda selalu menghabiskan waktunya untuk membicarakan mengenai kebesaran dan cinta dari Yesus Kristus.

Kebangunan rohani terjadi besar-besaran, dalam kurun waktu 4 atau 5 minggu berturut-turut, terdapat paling tidak 4 orang yang bertobat per harinya, atau sekitar 30 orang per minggunya. Semua orang mendadak menyadari kerusakan dirinya dan menyadari dosa mereka. Ada yang terjadi secara mendadak, ada juga yang terjadi secara bertahap.

Setelah mengalami kebangunan rohani, mereka mulai menyadari dosa mereka dan berhenti melakukannya. Selain itu juga mereka juga mulai secara aktif membaca, berdoa, bermeditasi, baik di gereja maupun di rumah mereka secara pribadi. Hal ini terjadi kepada setiap orang di berbagai rentan usia yang berbeda-beda, dari anak-anak yang berusia 4 tahun (The Conversion of Phebe Barlet), hingga orang tua yang berusia 70 tahun.

Hal ini bermula dari kota yang dilayani oleh Jonathan Edwards hingga ke kota-kota lainnya. Pada tahun-tahun tersebut, kebangunan rohani secara besar-besaran terjadi di New England. Tetapi pada bulan May tahun 1736, terlihat jelas sekali bahwa Roh Kudus secara bertahap mulai menarik diri dari mereka.

Selain Jonathan Edwards, ada 2 tokoh lainnya yang dipakai Tuhan secara luar biasa, yaitu John Wesley dan George Whitefield.

Akhir Pelayanan Jonathan Edwards

Setelah melayani dalam waktu yang lama di Northampton, pada tahun 1750, Edwards secara resmi dikeluarkan dari gereja melalui voting jemaat. Dari 253 jemaat yang mengikuti voting, 230 menginginkan agar dia keluar. Sungguh disayangkan sekali bahwa gereja tersebut harus kehilangan tokoh sebesar Jonathan Edwards. Tetapi alasan mengapa Edwards di voting keluar, bukan karena dia berbuat kesalahan, dosa, atau sesuatu yang negatif.

Sebaliknya, Edwards justru menginginkan agar jemaat lebih serius dan ketat di dalam kehidupan bergereja. Ia ingin menambahkan aturan agar perjamuan kudus hanya diperbolehkan kepada orang yang telah menerima anugerah dari Allah, bukan untuk semua orang. Tentu saja bukan hanya karena satu hal ini, tetapi ini menjadi satu pemicu penting.

Edwards kemudian berpindah ke Stockbridge, Massachusetts, di mana dia melayani jemaat yang lebih kecil dan sekaligus menjadi misionaris untuk suku India. Perpindahan ini membuat Edwards mengalami masalah keuangan, tetapi dia justru memiliki waktu lebih untuk belajar dan menulis. Di waktu-waktu ini justru ia menyelesaikan bukunya yang berjudul The Freedom of the Will pada tahun 1954.

Tahun 1958, Edwards terpilih menjadi presiden dari College of New Jersey (kini dikenal sebagai Princeton University). Tetapi setelah menjabat selama beberapa bulan saja, pada tanggal 22 Maret 1758, Edwards meninggal di usianya yang ke 54 tahun.

Disiplin Rohani

Setelah kita melihat secara singkat mengenai kehidupan Jonathan Edwards, mari kita melihat prinsip-prinsip penting khususnya dalam hal disiplin rohani dari dirinya.

Dalam sebuah acara konferensi yang diadakan Desiring God tahun 2003, Don Whitney memberikan satu sesi mengenai prinsip dan hal-hal mengenai disiplin rohani dari Jonathan Edwards. Disiplin rohani adalah sesuatu yang kita lakukan, bukan siapa diri kita. Disiplin tidak berkaitan dengan anugerah, karakter, ataupun buah roh.

Tidak semua aktifitas atau kegiatan yang kita lakukan dapat disebut sebagai disiplin rohani, melainkan hanya yang berkaitan dengan Alkitab. Tetapi segala bentuk praktis dari disiplin rohani dapat menjadi sesuatu yang mematikan tanpa adanya iman dan motivasi yang benar.

Siapa yang lebih banyak berdoa, membaca kitab suci, berpuasa, dan kegiatan rohani lainnya dibandingkan dengan orang-orang Farisi? Tujuan dari melakukan disiplin rohani adalah menjadi semakin serupa dengan Kristus. Sehingga kita mengerti bahwa dengan melakukan kegiatan disiplin rohani tidak

menjamin seseorang menjadi saleh (Godly), melainkan sebaliknya, seseorang yang saleh dengan sendirinya akan melakukan disiplin rohani.

Terdapat banyak sekali penerapan disiplin rohani yang kita bisa pelajari dari Jonathan Edwards. Tetapi dalam artikel ini hanya akan 2 hal saja, yaitu meditasi dan berdoa.

Melakukan Meditasi Alkitab

Menurut Edwards, melakukan meditasi adalah cara terbaik untuk menikmati keindahan dan kemanisan dari Alkitab. Hal ini melibatkan proses berpikir dalam waktu yang lama, dan berfokus kepada sesuatu yang ditemukan dalam teks, baik saat membaca, mendengar, mempelajari, dan menghapal Akitab.

Edwards sering melakukan meditasi Alkitab saat sedang mengendarai kuda dalam perjalanannya. Dampak yang ia rasakan melalui meditasi begitu terasa dalam jiwanya. Terkadang, hanya mendengar satu kata saja dalam Alkitab, dapat membuat hatinya begitu terbakar, sama halnya ketika mendengar nama Kristus, maupun sifat-sifat Allah.

Mungkin kita sering bertanya-tanya mengapa saat kita membaca Alkitab di rumah masing-masing, efek dan dampaknya sangat terasa sedikit. Tetapi saat kita mendengar ayat yang sama dikhotbahkan oleh pendeta kita maupun orang lain, kita bisa begitu tergerak dan mendapatkan banyak hal? Alasannya adalah karena saat di rumah, kita hanya membacanya secara cepat, sekilas saja, seakan-akan ada suatu dorongan yang mendesak agar kita menutupnya secepat mungkin.

Tetapi jika kita mendengarnya dari orang lain, kita mendengarnya dalam waktu yang lama, melihat secara rinci hal menonjol yang ada di dalamnya, membandingkannya dengan bagian-bagian yang lain, membuat atau membayangkan ilustrasinya, dan mencoba penerapkannya dalam hidup. Kita memberikan suatu usaha keras saat kita memikirkannya.

Membaca Alkitab sangat penting, khususnya secara eksposisi. Tetapi meditasi akan firman, diibaratkan seperti menyerap dan membawa firman tersebut masuk ke dalam hati kita, dan memperbaharui diri kita.

Berdoa

Edwards adalah orang yang sangat sering berdoa sehingga kita kesulitan untuk mencari kegiatan rutin dirinya yang tidak berkaitan dengan doa. Dia berdoa sendirian saat bangun di pagi hari, doa keluarga di pagi hari sebelum sarapan dan di malam hari, berdoa ketika belajar, maupun ketika berjalan-jalan di sore hari. Berdoa adalah bentuk disiplin sekaligus ungkapan sukacita menurut Edwards.

Kita tidak bisa tau secara pasti kapan saja Edwards berdoa, sebab dia memang secara sengaja merahasiakan kegiatan rutinitasnya, mengikuti perintah Yesus untuk berdoa secara tertutup. Menurut Edwards, doa dapat dilakukan dalam bentuk formal maupun informal, direncanakan secara teratur maupun mendadak. Dia melihat doa sebagai sesuatu yang natural seperti suatu nafas dalam dalam dirinya.

Berdoa menurut Edwards adalah hal yang sangat essensial. Mendengar bahwa adanya seorang Kristen yang tidak berdoa adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Edwards tidak bisa membayangkan jika ada orang yang mengenal Tuhan yang ia kenal, dan tidak terdorong akan kepuasan, cinta, dan kemanisan dalam kegiatan berdoa. Jika seseorang memiliki keinginan akan Tuhan, orang tersebut secara otomatis pasti akan berdoa.

Ini baru sedikit sekali yang kita bisa pelajari dari raksasa rohani yang pernah diberikan oleh Tuhan kepada Amerika. Kiranya kita semakin memiliki dorongan untuk mengenal Tuhan melalui pembelajaran tokoh-tokoh besar yang Tuhan bangkitkan di dalam sejarah kekristenan.

Semoga Tuhan memberkati. Soli Deo Gloria.

Kesucian Allah

“Ah! Tidak apa-apa berbuat dosa ini sekarang. Toh, Allah itu Maha kasih dan sabar. Pasti Dia akan mengampuni dan melupakan dosa saya. Bukankah Tuhan Yesus sudah mati bagi saya?” Pemikiran seperti ini memenuhi pikiran ketika saya berada dalam kondisi jatuh dalam dosa. Sering saya mengamankan diri dengan konsep ini apabila jatuh dalam dosa yang sama berulang kali dengan sengaja. Ini membuat saya merasa tidak apa-apa berdosa lagi dan lagi.

Suatu hari, ketika saya mengikuti satu kebaktian Minggu, apa yang saya pikirkan dan amini selama ini terpatahkan. Firman Tuhan hari itu bertemakan mematikan dosa. Memang benar, Allah yang begitu kasih telah mengaruniakan Tuhan Yesus, Anak-Nya, bagi dunia untuk mati atas dosa-dosa manusia. Akan tetapi, ada satu tanggung jawab umat tebusan untuk mematikan dosa. Tindakan ini berhubungan erat dengan salah satu atribut Allah yang penting. Atribut ini mungkin sudah jarang bahkan mungkin tidak pernah diperdengarkan di gereja ataupun di pertemuan ibadah lainnya. Hal itu adalah kesucian Allah.

James Innell Packer, seorang teolog kelahiran Inggris, dalam bukunya “Knowing God” menguraikan bahwa kasih Allah tidak lepas dari kesucian-Nya.  Kasih Allah adalah kasih yang suci. Kasih Allah tidak terlepas dari kasih yang mengutamakan kebenaran, standar moral, kebencian atas dosa, serta kasih yang meminta anak-anak-Nya untuk hidup sempurna seperti pribadi-Nya sendiri (Matius 5:48; 1 Yohanes 1:5). Kita tidak boleh mengabaikan kesucian Allah ini dalam memahami pribadi-Nya.

Kesucian Allah ini dimanifestasikan dengan pengorbanan Yesus Kristus, Anak-Nya, atas dosa manusia. Allah yang suci membenci dosa namun Ia juga mengasihi manusia. Ia mau agar kita tidak binasa karena dosa-dosa kita. Akan tetapi, manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Allah pun berinisiatif untuk memberikan solusi atas kondisi ini dengan menganugerahkan Anak-Nya sendiri, menggantikan kita yang harusnya dihukum atas dosa-dosa yang kita lakukan.

Definisi tersebut menghantar kita untuk mengerti bahwa sebagai umat yang telah ditebus dan sebagai peta teladan Allah, ada satu tanggung jawab yang kita emban yakni hidup dalam kesucian atau kekudusan sama seperti pribadi Allah yang suci. Hidup dalam kesucian adalah bukti pertobatan atas dosa. Hidup yang suci adalah hidup yang meninggalkan dosa, sepenuhnya takluk dan taat akan Firman Tuhan, hidup dalam terang Allah. Hidup yang suci sama sekali tidak mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan melainkan menelanjangi dan mematikan dosa (Efesus 5:8-16).

Bagaimana bila tanggung jawab ini kita abaikan? Seperti dalam Ibrani 12:6-11, seseorang yang telah ditebus akan dihajar oleh Allah ketika ia berdosa atau tidak hidup dalam kesucian. Hal ini merupakan bukti bahwa ia dikasihi oleh Allah sebagai anaknya. Seorang bapa manusiawi saja akan menghajar anaknya ketika ditemui berbuat salah. Tujuannya agar si anak tidak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang. Hajaran ini tentu saja sakit namun berfaedah demi kebaikan si anak. Terlebih pula Allah Bapa, dalam kesucian-Nya, memberikan ganjaran atas dosa yang kita lakukan. Ganjaran ini merupakan buah kebenaran yang akhirnya mendatangkan damai. Kita tidak akan menjadi anak gampangan.

Banyak bukti dalam Alkitab tentang bagaimana Allah menunjukkan kesucian-Nya kepada orang-orang yang dikasihi-Nya saat mereka tidak hidup suci. Seperti raja Daud yang ditegur dan dihukum Allah dengan keras setelah tidur dengan isteri Uria dan membunuh panglima itu (2 Samuel 12:1-12). Begitu pula, seperti Zakheus sang pemungut cukai yang melihat kesucian Allah dalam Yesus Kristus dan akhirnya bertobat (Lukas 19:1-9).

Dari kedua contoh kasus di atas, terlihat bahwa Allah yang suci benar-benar membenci dosa dan mengganjar orang yang dianggapnya sebagai anak. Selain itu juga, terdapat kesamaan respon yang tepat dan benar yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh Alkitab tersebut setelah menyaksikan kesucian Allah. Mereka sungguh-sungguh bertobat dan meninggalkan dosa. Mereka hidup dalam kesucian Allah.

Seperti kutipan dari buku “Holiness of God” oleh R. C. Sproul, seorang teolog dari Amerika, yang mengatakan bahwa “Ketika kita memahami karakter Allah, ketika kita mengenali kesucian-Nya, maka kita mulai mengenali dosa dan keputusasaan kita. Manusia berdosa yang tidak berdaya hanya dapat bertahan hidup (suci) hanya karena anugerah.” Kesucian Allah dapat membuat kita mengenali dosa-dosa kita dan akhirnya mengarahkan kita untuk bertobat dan meninggalkan dosa. Kita dapat hidup suci sepenuhnya bergantung pada kasih karunia Allah saja.

“Ketika kita memahami karakter Allah, ketika kita mengenali kesucian-Nya, maka kita mulai mengenali dosa dan keputusasaan kita. Ketidakberdayaan manusia berdosa hanya dapat bertahan hidup hanya karena anugerah.” – R. C. Sproul

Bagaimana dengan respon kita selama ini? Apakah kita masih sering mengabaikan atribut kesucian Allah ini dari hidup kita? Apakah kita masih sering hidup aman dalam dosa-dosa tertentu karena mengabaikan kesucian-Nya? Kiranya kita dapat sungguh bertobat, mematikan dosa, dan meninggalkannya karena kesucian Allah sudah nyata bagi kita.

“Kesucian Allah dapat membuat kita mengenali dosa-dosa kita dan akhirnya mengarahkan kita untuk bertobat dan meninggalkan dosa.”

Oleh: AL

Ordo Salutis: Pendahuluan

Topik keselamatan adalah salah satu topik yang menarik untuk banyak orang, baik di dalam maupun di luar kekristenan. Keselamatan biasanya selalu dikaitkan dengan kehidupan yang kekal. Manusia pada dasarnya menyadari bahwa hidup itu hanya sementara saja dan setiap orang pada dasarnya mau masuk surga. Nah setelah kematian datang menjemput, bagaimana selanjutnya?

Topik keselamatan menjadi orientasi dari banyak agama dan kepercayaan di dunia. Banyak agama mencoba menjelaskan seharusnya bagaimana manusia harus menjalani hidup agar bisa masuk ke surga. Semua dari mereka menekankan pada perbuatan manusia. Manusia memiliki ide bahwa jika dia berbuat ini itu maka Tuhan akan berkenan. Banyak agama yang memakai semacam sistem nilai seperti di dalam sekolah. Berbuat ini dan itu maka akan mendapatkan suatu nilai, yang nanti pada akhir jaman akan dihakimi oleh Tuhan. Bahkan ada yang memakai sistem “remedi” atau “her” jika nilainya tidak cukup. Sistem pengajaran sekolah diterapkan pada Kerajaan Allah. Keselamatan yang merupakan inisiatif dan karya Tuhan tetapi manusia pikir mereka bisa menentukan aturannya. Tetapi yang kita ketahui bahwa agama-agama yang pada dasarnya hanya merupakan respon manusia terhadap wahyu umum Allah. Tidak ada agama diluar Kristen yang bisa menyelamatkan karena tidak ada jalan kepada Bapa tanpa melalui Yesus Kristus (Yohanes 14:6).

Yesus Kristus satu-satunya jalan kepada keselamatan adalah suatu kebenaran, tetapi juga sesuatu yang menimbulkan banyak perdebatan. Banyak orang lalu menuduh kekristenan mau menang sendiri, oh hanya kamu yang benar, jadi yang lain salah semua. Kamu sombong, tidak menghargai orang lain dsb. Tetapi jika kita mempelajari Alkitab dengan seksama, memang itu adalah kebenaran yang dinyatakan. Pengenalan akan Allah yang sejati melalui Firman-Nya mutlak diperlukan untuk dapat mengerti jalan Tuhan. Dan dengan pengenalan akan Allah yang sejati, maka barulah kita dapat mampu berespon dengan tepat terhadap-Nya. Di dalam anugerah Tuhan, kiranya kita bisa merenungkan hal ini bersama-sama.

Ordo Salutis atau dalam bahasa Inggrisnya “The Order of Salvation” atau dalam bahasa Indonesianya “Urutan Keselamatan” adalah suatu proses dimana karya keselamatan Kristus Yesus diterapkan di dalam hati orang berdosa menjadi percaya. Ini adalah karya Roh Kudus yang bekerja secara bertahap dan membentuk suatu urutan yang logis. Perlu diperhatikan bahwa proses ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan atau juga dibolak-balik. Tidak juga berarti bahwa proses ini adalah merupakan suatu tahapan waktu karena elemen-elemennya berkaitan erat dan mereka terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Alkitab berbicara mengenai setiap elemen-elemen dari Ordo Salutis di dalam beberapa bagian. Satu bagian yang paling jelas adalah di dalam Roma 8:29-30 yang berbunyi: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

Ketika kita mengerti hal ini, maka kita akan menyadari bahwa Tuhanlah yang berinisiatif , merencanakan, menggenapi, dan menganugerahkan keselamatan bagi manusia. Biarlah kita boleh melihat dan bersyukur akan kasih-Nya yang begitu besar kepada kita. Soli deo gloria

Oleh: AH

Quote of the day

Kecuali kita menyangkal kehendak kita sendiri, kita tidak akan pernah melakukan kehendak Tuhan.

Thomas Watson